Tampilkan postingan dengan label Diskusi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Diskusi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 17 Mei 2015

Barat dan Timur

Sayd Nursiba:

“Bagaimana tanggapan anda dengan fenomena epistemenologi berikut? Dunia barat sekarang ini telah mencpai kemajuan yang pesat. Berbagai belahan dunia merasa tertarik menjadikan barat sebagai referensi dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Barat dianggap mampu menyajikan berbagai temuan baru secara dinamis dan variatif, sehingga memberikan sumbangan yang besar terhadap sains dan teknologi modern.

Barat yang dikenal maju itu sebenarnya diwakili Amerika Utara dan Eropa Barat. Dua belahan wilayah inilah yang membwa gerbong lokomotif kemajuan Barat, sehingga kemajuan yang dicapai tersebut mempengaruhi seluruh negara dan wilayah di saentero dunia. Pengaruh Barat ini makin meluas, bukan saja dari segi wilayahnya, melainkan di samping sains dan teknologi, juga sampai pada persoalan gaya hidup, gaya berpakaian dan sebagainya. Kemajuan Barat tersebut berupaya diadaptasi dengan melakukan modifikasi-modifikasi tanpa meninggalkan cara budaya nasionalnya sendiri, seperti yang ditempuh jepang.

Ada kalanya kemajuan tersebut diadaptasi secra total walaupun gagal, seperti yang dialami Turki, terutama modernisasi yang digerakkan oleh Mustafa Kemal Ataturk. Dua negara ini menjadi objek yang menarik bukan? Karena hasilnya justru bertolak belakang. Jepang yang mempertimbngkan budaya lokal ‘ideologi samurai’ dalam mengadaptasi sains dan teknologi barat, ternyata mampu mengejar, bahkan di bidang elektro berhasil mengugulinya. Tapi, Turki yang membuang tradisinya sendiri guna mengikuti barat secara keselurahan malah justru masih ketinggalan dari Barat alias ‘bobok’. Hahaha.

Kunci rahasia yang penting diungkapkan adalah bahwa kemajuan Barat itu disebabkan oleh pendekatan epistimenologi yang dikuasai Barat benar-benar dimanfaatkan untuk mewujudkan temuan-temuan baru dalam sains dan teknologi. Temuan baru menjadi penyempurna temuan lama atau temuan baru menentang temuan lama. Epistemonologi yang dikembangkan ilmuwan Barat ini mempengaruhi pemikiran para ilmuwan di seluruh dunia dengan pengenalan sosialisasi sains dan teknologi mereka.

Epistemonologi ini dijadikan acuan dalam mengembangkan pemikiran para ilmuwan masing-masing negara, akhirnya secara praktis mereka terbaratkan; pola pikirnya, pijakan berpikirnya, metode berpikirnya, caranya mempersepsi terhadap pengetahuan dan sebagainya. Sadar atau tak sadar mereka terbelenggu oleh pengaruh yang memikat. Padahal epistemenologi yang semestinya dijadikan sarana penalaran yang mewujudkan dinamika pemikiran, berubah menjadi penyeragaman cara-cara berpikir. Seolah-olah hanya ada satu model berfikir yang mesti diikuti. Kondisi ini makin membuktikan, bahwa sesungguhnya sedang terjadi imprealisme epistemologi Barat terhadap pemikiran masyarakat dunia.

~

Irfan Mashuri: “Bagaimana jika saya menyebutkan ini penindasan/penjajahan intelektual kaum muslim?”

Zia Ul Haq: “Wah! Penjajahan Pemikiran, Ghozwul Fikr.. Maka memang benar kita harus mengasah dan membenahi cara berpikir kita, agar tidak terseret arus..”

Zainal Muhidin: “Wah.. Jepang itu spiritualitas, kerja keras, tanpa meninggalkan identitas..”

Sayd Nursiba: “Agar bisa keluar dari penjara tahan pemikiran pemahaman dan pengembangan ilmu pengetahuan yang berdasarkan epistemenologi barat perlu diluruskan untk menghindari kesalah pahaman dan tindakan yang lebih parah lagi adalah membentuk epistimenologi sendiri yaitu epistemenologi Islam. Caranya gimana, Men? Mari kita bersama bahu membahu, tambal menambal dalan merekontruksi epistemenologi Islam. Diskusi Selingkar sebagai pintu gerbang menuju dunia baru Islam. Ayo piye carane ngurumuske konsepe? Hahaha..”

Zia Ul Haq: “1. Kenapa Barat dikonfrontasikan dengan Islam? Bukankah Islam mencakup timur dan barat, selatan dan utara, atas dan bawah? 2. Jangan-jangan sudah ada rumusan epistemologi islam??? Ayo cari tahu!”

Zainal Muhidin: “Wah.. Islam itu dunia dan akhirat, Men..”

Zia Ul Haq: “Nah, jangan-jangan, Epistemologi Barat itu juga termasuk dalam khazanah Islam?? Hayoh?”

MO HA: “Kita harus belajar tenteng metode ilmiah mereka,”

Zia Ul Haq: “Nah, maka dari itu, musti diperjelas dulu, epistemologi keilmuan Barat ki koyok opo? cirinya bagaimana? kemudian kita sandingkan dengan nilai-nilai keislaman, sesuai atau tidak. Sebagaimana ketika kita melihat hal-hal baru dalam Islam, ya disandingkan dulu dengan nilai-nilai keislaman, baru kita bisa menentukan sikap; menerima, menolak, menyaingi, membentengi diri, atau membiarkan.

Sayd Nursiba: “Selama ini epistemenologi barat selalu dimanfaatkan untuk mempengaruhi dan menanamkan keyakinan secara apriori. Dalam batas-batas tertentu, keunggulan sains barat dibanding kawasan-kawasan lain sekarang ini memang harus diakui secara jujur, tetapi ketika terjadi upaya membentuk keyakinan, bahwa Barat adalah segala-segalanya bagi ukuran pengetahuan yang dapat dipercaya kedalamannya, bilamana mengikuti mekanisme kerja berfikir model Barat sesungguhnya adalah upaya memasung atau mbeleh para ilmuwan pemikir.

Ujung-ujungnya mereka akan terbiasa meyakini sesuatu yang dianggap baku, padahal mestinya masih bisa dikembangkan atau bahkan bisa dipertentangkan dngan cara-cara kerja ilmiah model lainnya. Akibatnya Men, mereka akan terbelenggu daya kreatifitasnya dengan sekedar mengharap produk-produk sains Barat. Pendekatan-pendekatan epistemenologi Barat yang telah melakukan imprealisme masyarakat dunia dapat dilihat:

a. Pendeketan skeptis; ciri skeptis adalah keraguan yang menjadi warna dasar epistemenologi Barat. Segala sesuatu harus diragukan Tuhan dan agama, manusia, langit, bumi, sosial. Kemudian jadilah teori setelah didapat kebenarannya atau kebenaran yang dapat dibuktikan.

b. Pendekatan Rasional-Empirik. Dalam kerja epis barat, penggunaanya rasio menjadi mutlak dibutuhkan. Tidak ada kebenaran ilmiah yang bisa dipertanggung jawbkan tanpa mendapatkan pembenaran rasio.

c. Pendekatan dikotomik dapat dilihat pemahaman filsafat Renaissance di Barat.

d. Pendekatan positif objektif. Dipengaruhi filsafat positivisme. Bagaimana dngan epistemenologi Islam? Benar apa yang disampaikan Zia, logikanya setiap epistemenolog Barat termasuk epistemenenologi Islam tapi tidak setiap epistemonologi Islam termasuk epis Barat.

Wahyu sebagai sumber mengandung kebenaran absolut, sedang sains tidak absolut atau berubah sesuai perkembangan. Usaha menyinkronkan kedua ini perlu rumusan yang benar-benar serius Men. Hahaha. Benar Zia, kita memang sudah punya epistemenologi sendiri, inilah yang perlu kita sadari. Islam itu maju bahkan jauh lebih maju dari Barat, tapi fakta praktisnya kita masih tertinggal. Apa yang menjadi faktor ketertinggalan?

Irfan Wahyu Adi Pradana: “Cuk , Cukup kau tenangkan hidupmu saja dengan Pangeran..”

Irfan Mashuri: “Perbedaan mendasar yang perlu kita pahami tentang keilmuan Barat dan keilmuan Islam yakni keilmuan islam terdapat nilai estetika, sedangkan keilmuan Barat hanya memandang itu pada ranah empiris dan logis semata. Dan implementasi kedua wilayah keilmuan tersebut menjadi tolak ukur. Menjadi pertanyaan besar buat saya pribadi atau kita semua, mengapa keilmuan Barat lebih maju dari keilmuan Islam dan kenapa keilmuan kita sepertinya stagnan. Padahal keilmuan Islam terdapat nilai-nilai luhur, bisa dikatakan begitu, apakah konsep kita salah atau umat Islam sendiri sudah salah?”

Irfan Wahyu Adi Pradana: “Pusing ya? Bersandar di pundakku sini.”

Eristheo Dune: “Iya fanturbasi, plis pinjamkan pundakmu. Atau pupumu. Asal jangan anumu.”

Irfan Mashuri: “Berkaitan dengan terjadinya imperialisme intelektual oleh dunia Barat ke seluruh dunia dan khususnya pada dunia Islam, hal ini disebabkan periodisasi pengetahuan. Bila mana kita tengok kembali sejarah masa keemasan Islam (the golden age), dulu kenapa kita berjaya khususnya dalam bidang ilmu pengetahuan dikarenakan saat itu pemerintahan Islam berperan besar dalam perkembangan pendidikan tapi yang paling implisit adalah para ilmuan telah mengembangkan pengetahuan dari bangsa Yunani kuno, menterjemakan kebahasa arab dan mereka menitikberatkan pada bidang filsafat.

Nah ini kunci utama keberhasilan ilmu pengetahuan khusus dalam bidang sains dan teknologi. Kemudian setelah beberapa abad lamanya (berkisar 1 atau 2 abad) muncullah tokoh islam yakni Imam al-Ghazali dulunya dia adalah pakar filsafat, beliau menjadi mufti di Madrasah Nizhamiyah (madrasah yang paling terkenal pada masa itu). Pada akhir masa beliau, Imam al-Ghazali ini membuat statement secara tidak langsung untuk tidak belajar filsafat, nah ini awal mulanya pergolakan dinamika keilmuan Islam.

Dilihat dari karekteristik al-Ghazali yang sufisme dan nama besar beliau yang mendunia sehingga banyak orang-orang mengikuti paradigma beliau secara garis besarnya saja. Nah setelah al-Ghazali inilah banyak permasalahan dalam bidang keilahian dan keakhiratan terus diperdebatkan. Ini membuat kemajuan pengetahuan sains dan tenologi kita stagnan dan tidak berkembang-kembang.

Faktor yang lain adanya pembakaran buku dan karya-karya Islam oleh bangsa Mongol dan penjarahan buku-buku Islam oleh bangsa Barat. kemudian bangkitnya dunia Barat (Renaissance). Dunia Barat terus mengembangkan sains dan teknologinya sedangkan dunia Islam terus mengembangkan tasawufnya (perdebatkan ilmu kalam) tentang adanya Tuhan, melihat Tuhan, pahala dan dosa padahal itu adalah ranah Allah bukan ranah manusia.

Kemudian para cendikiawan muslim mulai sadar akan ketertinggalan kita dari dunia barat muncullah pembaharu Islam contohnya Jamaludin al-Afghani, Muhammad Abduh, dan lain-lain. Jadi mengapa kita terus tertinggal dan bangsa Barat menjadi maju, dikarenkan kita meninggalkan filsafat dan tidak mengembangkannya. Selanjutnya bahwasanya sekarang ini epistimologi barat menjadi acuan dasar keilmuan dunia dikarenakan epistimologinya empiris logis dan dapat dipertanggungjawabkan dan juga isinya mengandung nilai-nilai keislaman sehingga kita tidak bisa mengotak atik begitu saja, artinya teori-teori yang dikembangakan itu ada dalam nilai-nilai keislaman. Kita bisa mengubah hanya namanya saja dan dikasih embel-embel Islam contohnya psikologi diganti psikologi Islam dan semacamnya.

Jadi perlu kajian dan teori baru untuk mengubah epistimologi Barat dan itu menjadi PR buat umat Islam khususnya generasi muda ini. Tpi yang ingin saya garis bawahi; keilmuan Islam harus mengandung unsur etika dan estetika agar menjadi pembeda dari keilmuan Barat dan etika dan estetika itu diambil dari nilai-nilai keislaman.”

Zia Ul Haq: “Sik sik sik, mocone mumet aku, hahaha, *loading*”

Zainal Muhidin: “Irfan Mashuri asuuuu, nak komen seng simpel wae! Nak kowe ra gelem dihalalke darahmu!”

Zia Ul Haq: “Piye iki? Sayd Vandyas karo Ervan Mashoery arep dihalalke wae po darahe? Ngelak aku… *ngelap iler*”

Eristheo Dune: “Cukk, nambahi mumes ndate..”

Irfan Mashuri: “Tadi saya telah menyinggung penyebab kemunduran kita dan bila ditelisik ini akan menjadi jawaban atas sebab musababnya, yakni faktor umat Islam sendiri yang masih meperdebatkan adanya Tuhan, dzat Tuhan, sifat-sifat-sifat Tuhan, dosa dan pahala, neraka dan surga. Nah ini menyebabkan kemunduran umat ini, kita hanya memprioritaskan bahwasanya kita akan mati besok dan tidak menyadari kita akan hidup selamanya.

Kemudian terjadinya penjajahan baik material maupun intektual oleh bangsa Barat hampir di seluruh negeri Islam hingga berabad-abad membuat kita terninabobokan. Dan ketergantungan kita akan pemikiran maupun karya tokoh-tokoh Islam zaman dulu yang sedang berjaya-jayanya hingga di zaman era globalisasi ini kita masih mendapatkan kitab-kitab mereka yg masih dipelajari sehingga warnanya menjadi tambah kuning kekuningan.

Maksud saya adalah kita tidak berani memperbaharui pemikiran ulama terdahulu yang sudah ketinggalan zaman dan memperbaharui pemikirannya dengan pemikiran kita yang baru ini. Suatu hal yang tabu di masyarakat bila mengkritisi pemikiran ulama terdahulu, dan melekatnya paradigma umat Islam bahwa ijtihad ulama terdahulu itu adalah bagaikan anak dari Al- Qur'an maupun Sunnah, sehingga kita tidak berani mengotak-atiknya.”

Zainal Muhidin: “Iki ncen asu kabeh, A. Kenapa Barat maju? B. Kenapa Islam mundur (sedang bangkit)? Jawab: A dan B sama; TAKOKKE DEWE RO AWAKMU!”

Eristheo Dune: “Kalo pengen maju, kerahkan semua rakyat untuk berpikir sama denganmu. Terserah caramu piye. Hal simpel itu tak semudah yang kita pikir.”

Irfan Mashuri: “Sesuatu hal yang kita pikir itu bukan hal yang simpel.”

Zia Ul Haq: “Nek jawabanku singkat wae; mengapa keilmuan Islam terkesan mundur? Karena kita dijejali produk pemikiran tanpa dituntun bgaimana cara berpikir (filsafat). That's all. Maka dari itu kita ber-Selingkar! *ketok palu ning ndase Mukid; tok-tok-tok*”

Sayd Nursiba: “Hehehehe, asik..”

Irfan Mashuri: “Mas Zia, betul sekali, berarti yang salah pendidikan kita ya, bagaimana pendapat Anda selaku cendekiawan pendidikan Islam, tentang pendidikan kita, apa yang harus direvisi dan dikritisi. Hehehehe..

Zia Ul Haq: “Kopet ah.. kekekekeke, yaaa gunakan 'otak', jangan hanya 'buku', that's all.”

[o]

Minggu, 21 September 2014

Api Adalah ...

Kos Kandang Menjangan, Sabtu 21 September 2014 | Penyaji: Akwal Sadida
Monster yang ngumpul malam hari ini ada sembilan ekor. Sabtu malam minggu, 27/9/2014, markas hamba di wetan Kandang Menjangan diserbu penDuduk yang berkategori JOMBI alias Jomblo Durung Rabi.

Seperti biasa, ritual cangkeman diawali dengan terapi otak yang sekaligus bisa menyegarkan otot-otot mulut dan perut. Mursyid tunggal terapi ini adalah Jombi Irfan yang merupakan humas dari Padepokan Jagat Lelembut Sunan Ampel Kotagede.

Selanjutnya, Jombi Fahmi berkisah tentang pengalamannya nyedot rokok sehat semasa magang di Djarum Kudus. Kemudian ia melontarkan pertanyaan sederhana tentang api; kalau air adalah materi yang memiliki unsur Hidrogen dan Oksigen, maka bagaimana dengan api?

Jombi Farid berpendapat bahwa api adalah bentuk pelepasan energi yang sama seperti cahaya. Sehingga antara setan dan malaikat memiliki kemiripan dalam hal unsur pembentuknya; energi misterius. Tapi perlu diingat bahwa cahaya berbeda dengan sinar. Sinar adalah energi yang muncul, sedangkan cahaya adalah sinar yang terpantul.

Jombi Sayd menanggapi, api bukanlah energi, melainkan materi hasil oksidasi yang tentu saja melibatkan oksigen. Jadi, api terjadi dari oksigen. Kira-kira, apalagi yang menjadi penyeab terciptanya api?

Jombi Muhidin menjawab; bahan bakar! Tapi apakah oksigen dan bahan bakar bisa begitu saja menimbulkan api? Ternyata tidak. Ada satu unsur lagi yang harus ada, yaitu; panas. Nah, kalau sudah ada tiga unsur tersebut, tinggal satu hal yang diperlukan untuk membuat api, yaitu reaksi kimia antara oksigen dan bahan bakar yang dipantik oleh panas.

Jombi Milyun yang sedari tadi mengedip-ngedipkan mata dan mencumi-cumikan mulut demi menarik simpati Mukid, akhirnya bersuara. Ia mengatakan; berarti, tubuh manusia sangat mungkin memproduksi api jika bisa mengendalikan unsur-unsur pembentuk api dalam dirinya, yaitu oksigen, bahan bakar, dan panas. Seperti kisah para pendekar di masa lalu.

Jombi Zia berusaha mempraktekkan teori ini, yakni mengeluarkan segenap energi untuk mengeluarkan api. Namun sayang, ia gagal. Justru yang terbentuk adalah reaksi hidrolik dari usus besar, lalu keluar dari anus berupa kentut, langsung dihirup Jombi Nasrullah yang kebetulan bersandar di pantatnya.

Setelah menabrak kebuntuan selama beberapa detik tentang bagaimana reaksi kimia antara oksigen - bahan bakar - panas, kami mendapatkan jawaban. Karena malam itu, untungnya, hadir Jombi Sadida yang jauh-jauh ngepit dari UGM ke Krapyak untuk berbagi ilmu. Ia menerangkan secara gamblang dari sudut pandang Fisika tentang bagaimana api terwujud. Berikut ini penjelasannya;

"...$#@&%$(&%$# @$&()(&#@#$%&#@$ #@&%$(&%$#@$&()(&#@#$% &#@$#@&%$(&%$#@ $&()(&#@#$ %&#@$#@&%$( &%$#@$&()(&# @#$%&#@$#@&%$( &%$#@$&()(&#@ #$%&#@$#@&%$(&%$#@ $&()(&#@#$%& #@$#@&%$(&%$ #@$& ()(&#@#$%& #@!}{}?..."

Jelas, 'kan?
[o]

Jumat, 27 Desember 2013

Mengadili Rokok

Angkringan Kraton, Kamis 27 Desember 2013 | Penyaji: Muhammad Iqbal Fahmi
Kamis jam sembilan malam, lalu lalang orang-orang mengeroyok pasar rakyat di Alun-alun Utara alias Altar. Malam itu masih dalam pekan-pekan perayaan Sekaten, jadi maklum jika nampak begitu ramai. Pelataran kraton yang biasa kami sulap jadi aula diskusi pun sudah dialihfungsikan jadi parkiran. Tapi tenang, masih banyak tepat lain yang asik buat duduk selingkar. Kami pilih hinggap di angkringan sepanjang trotoar, seberang museum kereta Jalan Rotowijayan.

Kali ini sembilan pemuda kurang kerjaan mengangkat tema tentang rokok. Benda mungil yang multikompleks. Setelah dua bulan magang di Djarum Foundation Kudus, Fahmi membagi pengalamannya tentang jagat rokok di forum diskusi absurd ini. Jumat 27 Desember, jam 2 dini hari. Baru selesai diskusi santai Selingkar, dan jeroan serasa makin segar. Sejak jam 9 hari Kamis kemarin, di trotoar angkringan Kraton Yogyakarta, Kadet Fahmi membagi pengalamannya tentang jagat rokok setelah dua bulan magang di Djarum Kudus. Dari selinting tembakau bisa ditelaah dan disikapi dari berbagai perspektif.
Pertama, tentang bahan baku: tembakau dan cengkeh. Kedua, tentang proses produksi. Ketiga, tentang pemasaran dan jaringan global. Keempat, tentang budaya dan kontroversi.

Pro-kontra merokok dibahas tuntas pada kesempatan Selingkar kali ini. Mulai dari asal mula budaya merokok di negeri ini, beragam jenis tembakau, proses produksi rokok, pemberdayaan masyarakat melalui kretek, korporasi global dan pencaplokan lahan, hingga mafia kapital dunia kesehatan.

Pada awalnya, penduduk Selingkar mengemukakan berbagai silang pendapat tentang rokok. Namun ujungnya, bermufakat bahwa rokok bukanlah sumber masalah yang sering disudutkan oleh berbagai pihak. Ada kepentingan ekonomi, bahkan politik, yang melatarbelakangi pro-kontra global ‘jajan tembakau’ ini.

Untuk melengkapi perbincangan mengenai rokok ini, alangkah bijaknya bila kita menziarahi salah satu penemuan anak bangsa yang cukup fenomenal. Ketika dimana-mana rokok dihujat oleh oknum dunia kesehatan, di Kudus ada rokok yang justru berpartisipasi dalam upaya penyembuhan berbagai macam penyakit.

Namanya; Divine Kretek alias Si Rokok Sehat! Kabarnya, si rokok ini berhasil membantu terapi penyembuhan lebih dari sepuluh ribu pasien dengan beragai macam keluhan penyakit berat, semisal kanker hingga autis. Bagaimana ceritanya? Mari kita telaah bersama.

[o]

Radikal bebas adalah penyebab utama hampir semua penyakit. Radikal bebas masuk ke dalam tubuh melalui polusi udara, makanan, tambalan gigi amalgam, kosmetik dan sebagainya. Radikal bebas menjadi racun yang menyebabkan kemampuan tubuh untuk menyembuhkan diri sendiri tidak berjalan maksimal. Namun, selama ini yang dituduh sebagai penyebab utama penyakit adalah rokok. Padahal, nikotin rokok justru sebagai zat peluruh radikal bebas.

Demikian dikatakan Prof. Dr. dr. Sarjadi, Sp. PA (K), Guru Besar Patalogi Anatomi Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro Semarang yang juga Rektor Universitas Muria Kudus. Kata beliau, nenek moyang kita dan suku Indian misalnya, telah menjadikan tembakau sebagai obat berbagai penyakit.

Namun, sejak era industrialisasi, nikotin dalam tembakau mulai terpapar radikal bebas yang disebabkan polusi dari industri dan transportasi. Sehingga kandungan positif pada nikotin tertutup dan tercemar radikal bebas. Jika radikal bebas pada nikotin berhasil dibersihkan, maka tembakau justru menjadi obat!

Upaya membersihkan tembakau dari radikal bebas itu berhasil dilakukan oleh DR Greta Zahar (pakar fisika nuklir) dan Prof Sutiman B. Soemitro (pakar Bio Molekuler Universitas Brawijaya Malang). Melalui pendekatan Nanoteknologi, keduanya berhasil mengembangkan rokok yang bebas dari radikal bebas dan bahkan asapnya berfungsi sebagai scavenger (penangkap dan penjinak) radikal bebas. Temuan itu diberi nama Divine Kretek.

Dalam buku “Divine Kretek – Rokok Sehat” yang diterbitkan oleh MBPI (Masyarakat Bangga Produk Indonesia) dijelaskan bahwa Divine Kretek dipadukan dengan metode pengobatan balur yang juga menggunakan pendekatan nanoteknologi. Paduan keduanya selanjutnya disebut Balur Divine.

Dr Saraswati, M.Psi (Direktur Lembaga Peneletian Peluruhan Radikal bebas Malang) mengatakan; Balur Divine adalah detoksifikasi radikal bebas dengan teknik membalurkan (melulurkan) sejumlah formula menggunakan pendekatan Nanoteknologi. Detoksifikasi dengan Balur Divine mampu menghilangkan radikal bebas secara efektif, karena pendekatan nanoteknologi mampu memperkecil gelembung toksin/racun menjadi ukuran nano (seper semiliar meter), sehingga racun dapat keluar dari tubuh tanpa menimbulkan luka.

Proses balur, diantaranya dengan minum formula asam amino tertentu, yang mampu mengambangkan zat radikal dari dalam tubuh. Proses balur juga harus dilakukan di atas lempeng tembaga (Cu) yang terhubung dengan bumi (grounding) dan ditutup aluminium foil. Hasilnya, zat radikal yang keluar dari tubuh yang sarat muatan listrik negatif, akan menumbuk lempeng tembaga dan alumunium foil, lalu dialirkan dan dinetralkan ke bumi (grounded).

Dr Tony Priliono, pengelola Rumah Sehat “Griya Balur Muria” Kudus mengatakan; Balur Divine efektif meluruhkan radikal bebas penyebab berbagai penyakit, terutama penyakit degenerative seperti kanker, stroke, jantung, asam urat, juga untuk mengobati anak autis. Selain di kudus, rumah sehat terapi Balur Divine sebelumnya sudah dibuka di Jakarta, Malang dan Semarang.

DR Kusnanto Anggoro (Peneliti Center for Strategic and International Studies/CSIS Jakarta) mengatakan; temuan Divine Kretek memberikan semangat dan harapan kebangkitan yang berdampak pada sosial dan politik bangsa Indonesia. Harus ada upaya menyempurnakan temuan tersebut secara berkesinambungan.

Mohamad Sobari, budayawan nasional mengatakan; temuan Divine Kretek seyogyanya bisa membuka pikiran kelompok anti tembakau yang selama ini hanyut pada stigma bahwa tembakau harus dimusihi karena dianggap sebagai sumber penyakit.

Namun sayangnya, sebagaimana masalah klasik yang sering dihadapi para jenius di negeri ini: tidak adanya dukungan energi (dana untuk riset, pengembangan, dan pemasaran) dari pemerintah, apalagi perusahaan rokok. Sebagaimana dinyatakan Dr. Sutiman;

“Kami tidak didukung oleh perusahaan-perusahan rokok.”

Salah satu penDuduk yang pernah merasakan rokok ini, Fahmi, menceritakan bahwa asap yang dihisap tidak berat di paru-paru. Saat ini baru dipasarkan terbatas untuk keperluan terapi di Kudus, Jakarta, Semarang, dan Malang.

Dari sisi kesehatan, produk rokok-jamu ini membalikkan tuduhan sumber penyakit menjadi obat penyembuh, atau dari 'madharat’ justru menjadi ‘manfaat’ dalam sisi hukum agama.Dan secaa ekonomi, tentu bila rokok-sehat ini didukung pemasarannya, tidak ada lagi rokok punya Phillip Morris beredar di pasaran dengan berbagai gambar mengerikan.

~

Nah, ada lagi rokok kesehatan dari Malang yang sudah merambah pasaran luas. Namanya; ROKOK SIN. Rokok Sin bentuknya seperti rokok pada umumnya, namun memiliki efek yang sungguh berbeda. Apabila rokok biasa terbukti berbahaya untuk kesehatan tubuh, rokok Sin justru mampu mengobati berbagai macam penyakit yang bisa jadi ditimbulkan akibat mengkonsumsi rokok biasa.

Rokok Sin diciptakan oleh KH. Abdul Malik asal Malang yang bergerak di bidang pengobatan alternatif. Beliau adalah Mursyid Tariqah Naqsyabandiyah Al-Husainiyah. Rokok Sin awalnya dibuat berkat ilham yang beliau dapatkan saat melakukan Shalat Istikharah, yaitu agar membuat rokok yang bisa dimanfaatkan sebagai obat.

Mei 2005, Kiai kelahiran Sumenep, Madura ini memulai Sejarah Rokok Sin ini dengan memproduksi rokok Sin bersama beberapa santrinya. Alhasil, rokok yang sedianya dikonsumsi terbatas untuk para jama’ah tariqahnya, mendapat respon yang positif dari masyarakat karena kemujaraban khasiatnya. Kemudian berlanjut dengan diproduksinya secara massal dan professional pada 23 Mei 2006, setelah mendapat ijin dari Pemerintah. Nama Sin diambil dari nama gunung Tursina (Sinai) di Timur Tengah.

Rokok Sin telah melalui uji ilmiah di Laboratorium Kimia Universitas Brawijaya Malang, Laboratorium Kimia Universitas Negeri Malang, dan salah satu pabrik rokok terkemuka di Jawa Timur yang ditunjuk secara resmi oleh pemerintah untuk pengujian produk rokok. Hasilnya menunjukkan bahwa kadar “Nikotin rokok Sin” sangat rendah, bahkan dinyatakan mendekati 0%. Pada Rokok Sin, efek negatif yang ditimbulkan oleh nikotin sudah dinetralisir oleh kombinasi bahan-bahan herbal lainnya yang 100% murni herbal, tanpa bahan kimia.

Hasil uji Laboratorium Resmi menunjukkan nilai TAR rokok Sin tinggi. “TAR” secara standar internasional adalah pengukuran berat material asap rokok yang mengandung racun dan bahan berbahaya lain. Umumnya apabila nilai TAR tinggi maka nafas terasa berat, sesak dan dada sakit. Akan tetapi nilai “TAR” pada rokok Sin adalah ramuan jamu terapi kesehatan yang membantu mengurangi racun dalam paru-paru dan mengeluarkannya dalam bentuk lendir, sehingga nafas terasa ringan. Pembuktian secara empiris telah banyak yang merasakan efek positifnya. Sejarah Rokok Sin membuktikan “TAR” yang dihasilkan Rokok Sin sungguh berbeda dengan “TAR” rokok biasa.

Kini, rokok Sin tersebar hampir diseluruh pelosok negeri. Dengan cukup banyak varian rokok Sin yang memudahkan memilih rasa yang cocok sesuai selera. Harganya antara 60-135 ribu per slop, tergantung jenis variannya.

Ada dua latar belakang yang menginspirasi lahir-nya rokok terapi ini: Pertama, pengembaraan spiritual yang diyakini sebagai petunjuk Allah SWT. Sebab, sejak usia muda Kiai Abdul Malik adalah santri yang menekuni dunia spiritualitas dalam rangka pencapaian ridla ilahi. Pengembaraan spiritualnya dimulai sejak usianya masih 17 tahun. Ketika masih di Madura, Kiai yang lahir 38 tahun silam ini gemar menimba ilmu-ilmu spiritual kepada ulama-ulama besar.

Ketika hendak menempuh masa kuliahnya pun Kiai Abdul MaIik meminta kepada salah seorang gurunya, Habib Husain. Atas petunjuk sang guru, Kiai Abdul Malik meneruskan pendidikannya di jurusan teknik elektro Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang. Selain intens berguru kepada Habib Husain, dunia spiritual Kiai yang juga insinyur ini pun ditempa oleh Prof. Dr. Kadirun Yahya dari Medan.

Setelah lulus, sembari bekerja sesuai dengan diskursus ilmu yang dimilikinya, Kiai Abdul Malik juga tetap berguru kepada Habib Husain dengan istiqamah. Barulah sejak 2003, secara resmi Kiai Abdul Malik didaulat sebagai pengganti almarhum Habib Husain untuk menjadi Mursyid Tariqah Naqsyabandiyah Al-Husainiyah hingga sekarang.

Kedua, karena pengalaman medis Kiai Abdul Malik. Sejak 1996 Kiai Abdul Malik mendapat amanat dari Habib Husain untuk mengentaskan selalu membantu meringankan beban orang miskin dan anak yatim sesuai kemampuan. Karena salah satu kemampuannya adalah keahlian pengobatan alternatif, Kiai Abdul MaIik mulai membuka diri untuk senantiasa membantu pengobatan secara gratis kepada masyarakat kurang mampu dan mengasuh anak-anak yatim. Dari pengalaman inilah Kiai Abdul Malik merealisasikan ilham yang diterimanya dengan meracik ramuan tradisional dikombinasikan dengan tembakau yang kemudian berbentuk rokok terapi ini.

Kini, rokok yang diproduksi dalam tujuh varian ini telah tersebar di hampir seluruh pelosok negeri, baik distributor internal jama’ah maupun distributor di luar jama’ah. Selain karena kemujaraban khasiatnya, ini juga disebabkan karena komitmen jama’ah tariqah Kiai Abdul Malik untuk mengem-bangkan usaha ini demi fakir miskin dan anak yatim.

Sejak awal, Kiai Abdul Malik memang berniat agar sebagian hasil penjualan rokok ini dimanfaatkan untuk kegiatan sosial. Selain dapat membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat sekitar, dalam bagian tertentu pihak pengelola perusahaan selalu mendistribusikan hasil pen-jualannya untuk membantu fakir miskin dan anak yatim secara periodik. Setiap bulan selalu ditransfer sejumlah uang ke beberapa rekening yayasan atas perintah Kiai Abdul Malik.

Demikian tanggapan penDuduk Selingkar:

Sulaiman: "Sebagai non-perokok, saya kira perusahaan-perusahaan rokok harus pula melakukan upaya-upaya agar produknya terkendali. Agar tidak membahayakan konsumennya, minimal ya menyelenggarakan rehabilitasi."

Irfan: “Matamu! perusahaan rokok merehabilitasi wong ben ra ngerokok? Kui jenenge bunuh diri, Dab! Huahaha..”

Sulaiman: “Bukan begitu, Bung. Ada salah satu petuah dari bang Philip Morris yang membuat saya sangat interest sekali dengan diskusi ini; Jika ingin menghancurkan bangsa maka amunisinya adalah dengan rokok. Hahahahahahahaha. Saya sempat ketawa kecil ketika melihat sebatang rokok cilik tapi kok iso yah menghancurkan bangsa?

Ketika otak saya berrefleksi dan dibenturkan dengan pemikiran orang-orang absurd ini, maka beberapa analisis berhamburan keluar. Ringkasnya: yang dimaksud menghancurkan bangsa adalah dengan menjadikan rokok ini sebagai topik perbincangan dan perdebatan utama di setiap kalangan yang eksis di Indonesia. Mulai dari kelas kecrengan alias receh sampai kaum raja-raja.

Rokok menimbulkan problem yang dilematis. Dari hanya sebatang saja dapat ditarik ke dalam berbagai bidang yang tersebar disetiap lini. Hukum, ekonomi, budaya, sosial, politik, bahkan agama saja ikut nyangkem, pake doktrin teologi lah, dalil lah, ahhh asu lah pokoke!

Kita tilik saja dari peliknya sudut pandang kesehatan. Di satu sisi, kementerian kesehatan menjudge begitu saja bahwa pada 2004 saja mereka mengeluarkan dana sekitar Rp 127 triliun rupiah untuk mengatasi berbagai masalah kesehatan yang timbul akibat rokok, padahal sakitnya perokok tidak semua disebabkan oleh rokok itu sendiri.

Artinya, rokok bukanlah sebgai faktor utama yang menyebabkan sakit atau modar. Ada beberapa bahan konsumsi lain yang kandungan zatnya lebih medeni daripada rokok, sebut saja ‘micin’, kafein sing neng kopi, dan sebagainya. Herannya dana 127 triliun iku 7 kali lebih besar daripada devisa cukai yang masuk ke kas yang hanya 16,5 triliunan. Di sisi lain, kemenkes juga ‘logically’, menerima dana bea-cukai rokok, pastilah, kan pajak rokok devisa yang paling besar bagi negara.

Durung ditambah persoalan teologi agama yang seringkali membuat ricuh, padu karo gelut. Contohe kaya seminar di Jombang yang menyebutkan bahwa rokok itu menimbulkan syirik dan sebagainya. Akhire seminare ricuh lan pada gelut, ya kaya kue lah.

Maka, menurut saya, tidaklah pantas memperdebatkan rokok terlalu berlebihan, cukup saling hormat-menghormati saja, toleransi, dan saling menghargai. Para perokok ya tulunglah pengertian sama orang yang gak ngrokok, lan orang ang rokok ya tulunglah aja ekstrim sok-sok an mbacot rokok haram lah, sirik lah, apa lah.”

Ahlis: "Walau bagaimanapun, aktivitas merokok harus sesuai kebutuhan dan keadaan, baik fisik maupun ekonomi. Nggak boleh sembarangan, ya sama halnya dengan aktiitas-aktiitas relaksasi lainnya lah.."

Said: "Bicara rokok berarti kita bicara perputaran uang dan konglomerasi kelas kakap. Alangkah asiknya jika kita bisa turut menikmati bocoran-bocoran kapitalisme ini. Tinggal kita cari bagaimana caranya biar bisa melobangi kantong-kantong uang itu biar meluber ke orang-orang kecil."

Rijal: "Dalam setiap batang rokok ini menjadi simbol pertahanan bangsa dan negara. Jika sampai dikuasai dan dikelola oleh pihak asing, maka runtuhlah salah satu gerbang pertahanan kita."

Abdul: "Masalah rokok ini persoalan pelik, ia bisa ditarik ulur ke bidang apa saja. Politik, ekonomi, sosial, budaya, bahkan agama. Maka harus ada titik tengah antara blok kiri dengan blok kanan, antara pro dan kontra. Dan titik itu adalah toleransi antar keduanya."

Nasrullah: "Dalam hal rokok, apapun persoalannya pasti yang menjadi korban adalah orang-orang kecil. Mulai dari petani tembakau hingga mereka yang kere dan dituduh penyakitan karena sebab rokok."

Irfan: "Merokok memang membuat ketagihan karena enak. Tapi harus diiringi kekhusyuan."

Fahmi: "Rokok bukan candu. Itu tergantung mindset, sifatnya psikologis, psikis bukan fisik. Selain itu, tingkat keberbahayaan rokok tergantung kondisi kesehatan pengisapnya. Jika berlebihan, ya jelas berbahaya. Jika ala kadarnya, tak masalah asalkan sesuai dosis dan seperlunya, untuk relaksasi misalnya. Toh, tubuh manusia itu unik, memiliki karakteristik ketahanan sendiri-sendiri dan tak bisa disamaratakan. Masuk ke ranah kartel bisnis rokok nasional maupun internasional, ada baiknya kita memahami serta memilah hubungan antara kebutuhan masyarakat, pengelolaan sumber daya alam dan manusia, kapitalisme perusahaan, pemasukan negara, hingga fasisme dunia kedokteran. Maka kita akan sampai pada posisi moderat: tidak anti terhadap rokok, tidak pula fanatik terhadapnya. Kita musti adil."

Zia: "Perjalanan rokok dari nyala hingga memuntung persis kisah umur manusia. Ketika rokok dibakar pertama kali bagai terlahirnya bayi, usia hidup di dunia dimulai. Dihisap atau cuma digeletakkan, rokok tetap akan terbakar habis. Begitu pula usia, dimanfaatkan atau hanya dianggurkan, ia tetap akan habis lalu mati."

 [o]

Sabtu, 07 Desember 2013

Pemuja Mitos

Emper Burjo Glagahsari, Desember 2013 | Penyaji: Pramono
Makhluk-makhluk ganteng masih berkeliaran pada Jumat dini hari. Emper burjo di daerah Glagah menjadi semacam conference room bagi mereka untuk nDuduk Selingkar dan nyangkem, atau kerennya; diskusi santai.

“Mitos terbentuk atas kreasi orang-orang yang berkepentingan. Entah itu individual atau kolektif. Tujuannya pun beragam. Bisa komersil ataupun politis,” ujar Said, siswa ingusan di Sekolah Poker (Politik Kerakyatan), “Kalau contoh yang politis ya seperti kisah-kisah penitisan. Banyak kisah-kisah di berbagai penjuru bangsa bahwa si anu keturunan dewa ini, raja itu titisan dewa anu, dan sebagainya. Hal seperti itu sengaja dibentuk sebagai alat agar rakyat pada waktu itu menaruh kepercayaan penuh kepada pemimpinnya. Kraton punya bergudang mitos. Dalam perspektif modern, pernyataan-pernyataan presiden bisa jadi ternyata cuma mitos.” tuturnya dengan gaya yang khas memulai obrolan.

“Dan presiden jadi corong mitos kebangsaan terbesar begitu ya.. Apalagi kalo presidennya hobi galau dan curhat.. Hahaha..” tambah Talkhis, “Nama kita juga mitos kan? Ketika kita lahir ma’ ceprot dari rahim ibu, kita kan telanjang tanpa embel-embel apapun. Barulah kita disemati nama pilihan orang tua. Jono misalnya. Kemudian seiring waktu kita percaya, kita yakin, bahwa kita adalah Jono. Kemana-mana dan kepada siapapun kita bilang bahwa kita adalah Jono. Masalahnya, ketika bertemu orang lain di daerah lain yang sama sekali belum mengenal kita, belum berinteraksi, kita kehilangan identitas. Apakah menurut orang yang belum kenal kita ini masih Jono? Mereka bebas memanggil kita dengan sebutan apa saja tanpa harus meyakini bahwa kita adalah Jono. Iya, kan? Kita terjebak dalam mitos nama.”

Irfan menanggapi, “Tapi kan itu alat bantu identitas.. Dari mitos bisa berkembang menjadi sugesti. Seperti mitos di Wonosobo, anak gimbal harus dituruti segala keinginannya agar bisa sembuh dan normal lagi rambutnya, dari mitos ini muncul sugesti bagi para orang tua untuk menuruti keinginan anak-anaknya yang gimbal di sana. Begitu pula nama, mungkin memang mitos, tapi kan dari nama itu kemudian muncul sugesti, sehingga dikatakan bahwa nama itu doa. Iya to?”

“Lha iya memang,” sambung Miftah, “Mitos itu kan dibuat untuk memudahkan, mensugesti, ya semacam alat kontrol sosial begitulah. Nah ukurannya harus ditimbang dengan neraca ruang dan waktu. Seperti tragedi di Lawang Sewu dahulu, biar orang-orang ingat bahwa di sana pernah ada pembantaian, maka ditebarkanlah berbagai macam mitos tentang tempat itu. Dan di kemudian hari mitos itu nggak cuma jadi pengingat tetapi juga jadi pendatang pundi-pundi uang. Dan hal itu terjadi di banyak tempat maupun zaman, dan menguntungkan dari kacamata kapitalis. Ya mirip mitos-mitos di Alun-alun Kidul, kan mendatangkan fulus..”

“Tapi nek Lawang Sewu ncen angker tenan cuk! Berarti kalau mitos itu menguntungkan, nggak apa-apa gitu?” sambat Irfan.

 “Sik sik sik.. Ben cetho sik,” sela Pramono, “Jadi, mitos adalah anggapan-anggapan yang diakui oleh orang banyak tentang kebenaran suatu hal padahal belum tentu benar, gitu ya?”

“Ya begitulah. Iklan sabun kecantikan misalnya. Menebarkan mitos bahwa wanita cantik itu mereka yang berkulit putih dan dipercaya konsumen. Sehingga muncul ajaran bahwa ‘Putih itu Cantik’ atau ‘Cantik itu Putih’. Dari kasus ini, sabun-sabun semacam Shinzu’i itu yang diuntungkan. Maka mitos ini sebisa mungkin dipertahankan oleh produsen sabun pemutih,” terang Irfan.

“Iya iya paham. Lhah, lalu bagaimana dengan Tuhan? Wah, aku nggak berani bilang kalau Tuhan itu jangan-jangan juga mitos?” hentak Pramono.

“Hahaha.. Kalau ternyata agama, kitab suci, dan bahkan Tuhan itu mitos gimana Pram? Memangnya semua mitos itu jelek? Anggapan bahwa semua mitos itu jelek pun merupakan mitos. Mitos yang membangun tentu baik dan patut dipertahankan. Taruhlah kitab suci itu mitos, Tuhan itu mitos, tapi kan ajarannya menuntun manusia untuk menuju kebaikan, nah itu kan baik.” timpalku.

“Iya juga. Ada area hutan di Wonogiri yang penuh mitos, kata warganya, kalau babat hutan di situ maka simbaurekso hutan akan ngamuk. Dan ternyata itu efektif menjaga kelestarian hutan. Setelah beberapa tahun belakangan ada puritanisme agama yang menyudutkan adat istiadat setempat, orang-orang tidak lagi percaya kepada mitos itu, dan ironisnya, si hutan malah rusak,” tambah Said.

“Nah itu maksudku! Jadi, bagaimana kalau ternyata Tuhan pun mitos Pram?” tanyaku.

“Weh ora wani-wani aku..” bisik Pramono.

“Hahaha.. Maka dari itulah muncul upaya pembuktian,” sambungku, “Ada yang membuktikan secara rasional, ada pula yang menggunakan metode irrasional. Adanya belasan pasang sandal di luar rumah seakan-akan mengatakan bahwa pasti ada rombongan orang di dalam rumah, ada sandal highheels mengatakan ada wanita dalam rombongan itu. Adanya alam dengan berbagai macam keteraturannya sekan-akan meneriakkan bahwa ada Sang Pencipta dan Pengatur segala tatanan semesta raya. Itu upaya yang rasional, istilahnya ‘nadhor’ kalau dalam ilmu kalam. Adapula yang menggunakan metode lelaku batin, bukan dengan mikir-mikir, tapi dengan merasakan berbagai kepayahan dalam bentuk tirakat demi mencapai hakekat.”

“Jadi, lawan dari mitos itu hakekat? Kesejatian?” sela Irfan.

“Bisa jadi!” seru Mukid, “Seperti mengupas bawang. Menelaah mitos itu seperti mengupas kult ari bawang satu per satu hingga lepas semuanya. Di balik mitos ada mitos, kita kupas terus sehingga pada akhirnya kita temukan hakekat itu. Dan mitos itu tak selalu jelek dan tak selalu bagus. Kita harus benar-benar bisa memahami kepalsuan agar bisa menuju kesejatian. Wah itu berarti; mitos bukanlah musuh kesejatian, bukan lawan, hanya lapisan-lapisan tipis yang musti dikupas.”

“Nah itulah yang sedang dan harus selalu kita lakukan, proses memahami kepalsuan demi kepalsuan untuk menemukan kesejatian. Dan itu tak cuma pakai akal, harus disertai rasa. Meskipun tadi sempat mempertanyakan tentang Tuhan, aku yakin Dia senang menyaksikan anak-anak muda yang mau menggali kesejatian,” tanggap Talkhis.

Terakhir, diskusi ditutup dengan kutipan ungkapan Fakhruddin ar-Razi sang mufassir;

“Ujung kesungguhan akal manusia adalah keterbelengguan, dan kebanyakan upaya manusia justru menuju kesesatan. Kita tidak memperoleh apapun dari perbincangan kita di sepanjang usia, melainkan hanya mengumpulkan pendapat-pendapat orang.”

[o]

Selasa, 26 November 2013

Akal-akalan Akal

Trotoar Kantin Tarbiyah, Kamis 26 Nopember 2013 | Penyaji: Pak Kantin
Beberapa pemuda absurd nampak duduk melingkar di trotoar abu-abu. Hampir semuanya bertampang blo'on namun tak suram. Meski tampaknya mereka pengangguran kumuh, sejatinya mereka sedang belajar berpikir jernih, menyusun konstruksi pemikiran yang sehat dan 'merdeka'.

Menurut Said, ya inilah seharusnya fungsi utama kuliah; melatih cara berpikir yang sistematis menempa ketahanan mental. Tapi, tambah Irfan, hal seperti ini justru tidak didapatkan di dalam kelas yang monoton. Disana, seakan-akan, hanya disuguhkan manual suatu boneka mekanik dan bagaimana cara penggunaannya, bukan pada cara kerja serta fungsi sejati boneka itu.

Dalam episode ini mereka sedang mengakal-akali ‘Akal’. Sebenarnya apa, dimana, bagaimana, untuk apa dan sejauh mana akal bisa berfungsi? Kalimat-demi kalimat meluncur deras, celaan demi celaan terlontar dan gelegak tawa riuh merekah di sela-sela obrolan.
~

Setengah jam berlalu, nampak pria paruh baya, mengenakan caping, berkaos oblong dan celana pendek, mendekati kami setelah menutup pagar kantin dan menyusur trotoar untuk mengumpulkan gelas-gelas kotor. Ia adalah salah seorang yang kami angkat sebagai guru besar kelompok diskusi ini.

"Ngapain sore-sore masih pada disini?"

"Biasa, Pak.. Kuliah."

"Lhah kuliah kok disini?"

“Ya beginilah kuliah kami Pak, cangkeman sambil santai guyon-guyon..” jawab Bastian sambil ketawa puas.

“Hahaha.. Saya jadi inget masa-masa dahulu..” Si Bapak meletakkan gelas-gelasnya di atas paving trotoar, duduk nongkrong, dan mulai berkisah.

“Tahun sembilan puluhan sampai awal dua ribuan masih banyak kelompok-kelompok diskusi mahasiswa di kampus. Ada yang di taman masjid, di trotoar ini dulu banyak berjajar anak-anak diskusi. Kalau sekarang ya paling kumpul jalan-jalan, rapat acara kelompok, dan jajan-jajan. Kalo ada yang diskusi sampai sore begini ya cuma muka-muka kalian, sampai bosan saya.. Hahaha..”

“Ramai ya, Pak.. bedanya apa sama zaman sekarang?”

“Suasananya. Dahulu atmosfer akademis sangat terasa di sini. Sekarang kok serasa kering. Mungkin karena pengaruh teknologi juga ya,”

“Maksudnya, Pak?” sela Bimo sambil mengepulkan asap rokoknya.

“Lha iya, kalau dahulu ‘kan belum ada komputer, internet, apalagi hape. Mahasiswa lebih sering berinteraksi walaupun hanya untuk membunuh kebosanan, dan kebanyakan dari mereka lebih akrab dengan buku-buku. Kalau sekarang, kalian lebih asyik mainan gadget yang canggih-canggih itu.”

“Yaa teknologi itu ‘kan menjadi fasilitas yang mempermudah, Pak.”

“Memang teorinya begitu. Tapi apa kenyataannya begitu?”

“Hehehe. Malah terlena, Pak.”

“Lha iya! Kalau dulu orang bikin skripsi itu ya pasti hapal isi skripsinya. Lha wong ngetik pakai mesin tik manual. Revisi ya mengulangi ngetik. Beda dengan sekarang, semua serba dipermudah.”

“Tapi ‘kan dampak positifnya banyak, Pak..” sergah Pramono.

“Ya semua perkembangan pastilah ada pengaruh positifnya. Tapi juga ada efek negatifnya. Jadi manja, jadi cengeng. Dulu itu mahasiswa kuliahnya relatif lama-lama, paling cepat ya empat setengah tahun. Umumnya lima tahun. Jadi benar-benar matang karena tidak hanya kuliah di kelas, tapi juga kayak kalian-kalian ini. Kalau mahasiswa sekarang ‘kan cepat-cepat, tiga sampai empat tahun, tapi yang didapat hanya apa yang dihadapi di dalam kelas dan bisa dibilang belum matang.”

“O gitu ya Pak..”

“Lha iya, karena kuliahnya lama-lama malah jadi ada idiom; kalau kuliah sampai lima tahun lebih tapi saat wisuda tidak punya ‘pendamping’, berarti kuliahnya gagal, kalau kuliahnya sebentar sih nggak berlaku idiom itu, hahaha..” kelakar si Bapak disambut tawa ngenes kami.

“Berarti besok kalau saya lulus nggak usah ikut wisuda ya, Pak? Biar nggak disebut gagal, hehe..” selaku iseng.

“Hahaha.. Itu akal-akalan kamu saja. Saya kasih tahu ya, kamu itu bukannya nggak laku, hanya kurang atraktif saja. Kalau kamu mau sedikit beraksi, cewek mana yang nggak nempel sama jenggotmu itu?” jawab Si Bapak sambil mencoba menjambak jenggot keramatku, gemas.

~

Pengembaraan obrolan sudah sampai ke ranah psikologi, artificial intelligence pada robot, teori-teori barat dan timur, arab eropa dan jawa, penemuan aspek halus selain akal yang disebut jiwa, hubungan interaktif antara akal dan jiwa, hingga topik-topik aktual lain yang sedang hangat-hangatnya. Mulai dari persepsi kasta Jawa kuno, perkembangan politik kesultanan, hingga tingkah laku pejabat-pejabat dan presiden RI.

“Oke, pertanyaan terakhir buat kita jawab tentang Si Akal. Kalau memang fungsi akal adalah untuk mencari jawaban suatu pertanyaan, mengurai masalah yang ada di dalam rangkaian perjalanan kehidupan, menemukan hal yang belum diketahui. Maka pertanyaannya, apa yang menjadi pertanyaan utama akal kita? Apa yang menjadi pencarian utama akal kita? Apakah akal hanya sekedar difungsikan sebagai alat memenuhi kebutuhan fisik berupa sandang pangan papan saja? Toh pada akhirnya raga akan berhenti berfungsi dengan kematian dan membusuk di dalam timbunan pusara, lalu tujuan utama akal itu menemukan apa?” lemparku di forum.

“Ya itu dia pertanyaan utamanya! ‘Apa tujuan kehidupan kita? Tuhankah? Keabadiankah? Atau sekedar pemenuhan kebutuhan dalam rangka mempertahankan hidup fisik selama di dunia? Nah di situlah akal kita mencari jawabannya. Dan untuk menemukan jawaban itu si akal harus bekerjasama dengan dimensi manusia yang lain berupa jiwa,” jawab Mukid, mempesona.

[o]

Kamis, 31 Oktober 2013

Para Penjaga Api

Trotoar Kantin Tarbiyah, 31 Oktober 2013 | Penyaji: Muhammad Budi Mulyawan

“Saya boleh ikut gabung ya..” ucap Pak Kantin di sela-sela obrolan sembilan anak muda nggak jelas sore itu. Ya seperti biasanya, Kamis sore di Trotoar Kantin Tarbiyah UIN Sunan Kalijaga.

Dengan lubang hidung yang kembang kempis seperti Squidward, Irfan mulai menjelenterehkan kronologi gerakan-gerakan pemuda hingga terjadilah Kongres Pemuda 28 Oktober 1928. Lalu ia melanjutkan kisah hingga ketika kaum muda diposisikan seperti herder yang lehernya dirantai ke pasak besi. Mereka bisa menggonggong namun tak bisa beraksi. Bergerak sesenti, beredel! Sehasta, hajar! Semeter, dor! Menurutnya, perbedaan mencolok yang terlihat di antara gerakan pemuda dahulu dan sekarang adalah independensi.

“Anak-anak muda sekarang manja. Kebanyakan gerakannya tidak jelas. Bahkan tidak sedikit dari gerakan-gerakan itu yang hanya menjadi proyek materialistis. Mungkin hal seperti ini sudah jadi mindset di kepala anak-anak pergerakan jaman sekarang akibat didikan ‘kenyamanan’ ala Orde Baru. Akibat cara pandang serba materi inilah semua langkahnya salah arah. Sekencang apapun kita berlari, jika arahnya sudah salah, tentu akan tersesat dan semakin jauh dari tujuan. Dan arah itu bernama ‘materialisme’ yang beranak-pinak menjadi kapitalisme. Semua hal, fisik maupun non-fisik, dibanderol dengan harga dan mengikiskan nilainya. Sehingga potensi lokal yang berbasis kesejahteraan bersama menjadi tidak berdaya di hadapan cengkeraman kapitalis.

Banyak kumpulan atawa organisasi pemuda yang sudah lupa makna dari fungsi pengayoman budaya dan inti sosial masyarakat. Malah justru seperti sekumpulan Event Organizer, fokus acara hedon dan melupakan kesederhanaan yang dibutuhkan masyarakat.” ungkap Irfan, khas anak pergerakan.

“Betul!” sahut Mukid alias Si Wowo, “Sebenarnya, langkah yang bisa ditempuh adalah terjun langsung di tengah masyarakat secara riil, melakukan apapun yang konstruktif di tengah rakyat, sekecil apapun perannya. Dan anak-anak muda lupa itu. Hal yang perlu dilakukan orang-orang yang tidak punya akses pengaruh terhadap kebijakan pemerintah adalah dengan menjaga keayeman dan kedamaian masyarakat secara langsung. Rasa-rasanya percuma orang-orang di atas kita teriaki tapi pada kenyataannya mereka tuli. Mending langsung saja kita bergerak di akar rumput tanpa harus galau tidak diperhatikan pemerintah.”

“Nah itu dia! Bahkan pemerintah itu sejatinya nggak ada, Mas!” seru Budi, seorang bakul batik alumni Geografi UI yang sedang nyasar di Jogja. Ia berkesempatan bagi-bagi pengalamannya di forum absurd Selingkar sore itu.

“Gini Mas, kalau kita lihat realita sekarang ini, negara sudah tidak ada. Kebijakan hukum, politik, ekonomi, hingga harga-harga beredar semuanya dikendalikan oleh para kapitalis. Pemerintah alias government; is under control. Itu realita,” ungkap Budi sambil memaparkan sampel-sampel konkrit ketidakberdayaan negara di bawah komando kapitalis.

“Saya punya teori,” lanjut Budi dengan logat Tegalnya yang macho, “Di negeri ini ada lima tingkatan pemeran dalam kebijakan pemerintahan. Kita mulai dari level paling bawah, kelima, kaum intelektual; ini berisi para pakar di ranah keilmuan masing-masing, para professor, para doktor, akademisi, masuk di sini. Tapi mereka hanya punya kuasa berteori dan berkonsep. Sebagus apapun konsep yang mereka susun, tetap kalah sama kuasa tingkat keempat, yakni penguasa, politikus. Mereka punya power untuk menentukan kebijakan di lapangan. Memang tidak sedikit yang sampai di level ini sebab prestasi, namun tak sedikit pula yang menduduki level ini lewat jalan money-politic.

Nah orang-orang yang selalu cari untung dari posisinya ini tunduk di bawah sihir uang dan giuran proyek dari level di atasnya, yakni pengusaha. Inilah para pengendali pemerintahan sebenarnya, pemerintah hanya pion-pion tak berdaya. Anehnya, level ini masih ‘kalah’ dengan level di atasnya, yakni dukun. Ini beneran, pengusaha-pengusaha besar banyak yang menumpukan langkah-langkah bisnisnya di tangan para dukun lho, mulai dari penyematan nama produk bahkan sampai pengupayaan tender proyek. Edan sekali. Namun keempat level ini masih ‘kalah’ kontrol di tengah masyarakat secara riil, level peringkat pertama ini diisi oleh para spiritualis; yakni ulama, guru, atau pendeta.”

“Memang,” sambungku, “Seperti pergerakan melawan penjajah Belanda, Jepang, hingga Inggris, hampir semua bermuara dari komando para ulama. Banyak fatwa agamawan yang diakui dan disepuhkan di tengah masyarakat menjadi batu pijakan untuk melakukan gerakan-gerakan sosial militan. Resolusi Jihad yang menjadi embrio Pertempuran Surabaya menjadi contoh nyata adanya ‘kekuatan’ fatwa ulama. Namun power seperti ini seakan tidak ada lagi saat ini, atau belum muncul lagi, masih hibernasi. Dan parahnya, kalau kita mau perhatikan betul-betul, sudah banyak upaya kapitalis untuk meruntuhkan kepercayaan masyarakat terhadap pemangku kontrol sosial level satu ini. Baik itu melalui jeratan politik hingga rayuan-rayuan gombal finansial. Namun untungnya, masih banyak ulama yang terus bertahan dengan perjuangan gerilya, melalui pesantren maupun lembaga-lembaga informal yang dibinanya, untuk menanamkan kebaikan dan perbaikan di dalam inti masyarakat bernegara; yakni keluarga.”

Beberapa detik forum hening, entah karena merenungi buncahan-buncahan kata-kata yang beterbangan di atas kepala mereka atau karena kehausan sebab gelas-gelas minum sudah kering kerontang.

Setelah beberapa kali mengembuskan asap rokok secara khas seperti bunyi kucing bengek, Sayd berujar, “Dari pemaparan Sampean, berarti kita musti sadar posisi. Pemuda itu ada dimana dalam struktur level yang Sampean buat itu? Sepertinya memang posisi pertama yang ditempati ulama adalah tempat yang tepat untuk membaurkan diri. Dan gerakan model gerilya alias bergerak bebas, independen, secara riil di tengah masyarakat adalah cara paling efisien dan efektif sekarang ini. Namun tidak seharusnya jika empat level yang lain ditinggalkan oleh pemuda macam kita ini. Jika level-level bermasalah itu bisa diisi oleh orang-orang berakal sehat, apalagi mau berintegrasi dengan kalangan spiritualis yang independen, wah pasti dampaknya luar biasa!”

“Iya!” sahut Pramono, “Agar pemuda bisa bergerak tanpa tekanan dari pihak-pihak yang berkepentingan busuk, maka ia harus berusaha merdeka, independen. Termasuk merdeka dari dominasi persepsi wanita. Karena tidak sedikit semangat pemuda yang tersembelih ketika berhadapan dengan segala macam tuntutan manja wanita.”

“Itu dia Mas!” sambung Budi, bersemangat. “Kualifikasi wanita terhadap calon suaminya juga mempengaruhi tingkah laku pemuda. Sekarang ini prototype pria idaman para cewek adalah mapan sukses, bermobil, kaya dan rupawan. Bila saja cewek-cewek bersikap realistis manusiawi, tidak materialistis, pokoknya mensyaratkan laki-laki yang bertanggung jawab, meskipun kantongnya tak begitu tebal, masalah kebutuhan materi diusahakan bersama. Dan cara pandang massal seperti itu akibat kebanyakan mengonsumsi tontonan dan bacaan picisan.

Betapa banyak figur-figur publik yang sedang beken di media sosial dan mempengaruhi mindset cewek-cewek jaman sekarang. Mereka mengumbar definisi kebahagiaan dan pria idaman tersendiri, sehingga menjadikan para pemuda kikuk untuk melakukan berbagai macam kreativitas pergerakan sosial. Kenapa? Karena tekanan kaum wanita, apalagi mereka yang punya pacar. Akibatnya, banyak mahasiswa galau yang nguber wisuda karena diuber kawin. Sehingga dia nggak punya energi lagi untuk mencurahkan daya pikir di ranah sosial kemasyarakatan. Ketika sudah mengemban gelar sarjana, mereka lepas dari usaha-usaha riil di tengah masyarakat yang sebenarnya sangat prospektif dan bermanfaat.

Wah, asupan-asupan dari berbagai media sangat berpengaruh bagi cara pandang pemuda-pemudi kita. Entah itu di media elektronik maupun cetak, lisan maupun tulisan, informative maupun sosial komunikatif. Dan semua itu didanai besar-besaran oleh kaum kapitalis. Contohnya, teman saya (atau mungkin dia sendiri –red.) mengatakan bahwa salah satu media kampanye cara pandang Barat terhadap wanita adalah melalui film-film bokep. Dalam adegan-adegan persetubuhan di film-film bokep bermadzhab Barat, entah Amerika, Eropa, maupun negeri-negeri Asia beraliran hardcore, selalu menempatkan wanita sebagai objek pemuasan hawa nafsu. Itu kejam. Jadi hakekatnya, ketika teman dia menonton adegan di film biru itu, sama saja sedang menonton adegan kebinatangan. Sama sekali tidak indah.

Berbeda jika pemuda mau mempelajari hal-hal vulgar semacam ini bukan dengan cara Barat, tetapi cara Timur. Apakah ada? Banyak! Karya tulis full imajinasi sudah ditorehkan oleh orang-orang terdahulu dari bangsa-bangsa Timur, entah itu India, Arab, Persia, bahkan Jawa. Di kitab-kitab ini wanita menjadi partner pria menuju puncak, bukan objek pemuasan nafsu.” Jelas Budi panjang lebar, sangat antusias.

Sambil membenahi posisi kacamatanya, mungkin masih bingung dan berimajinasi tentang teori bokep tadi, Teguh mengungkapkan kesimpulannya, “Yaa meskipun masih banyak hal-hal berseliweran di kepalaku akibat bahasan yang belum jelas, namun intinya, anak muda memang harus bersemangat. Dan obrolan semacam inilah upaya untuk menjaga semangat idealisme pemuda agar tetap menyala.”

“Benar! Tetap jaga api antum, jangan sampai padam akhi,” ujar Latif menutup pertemuan, sok imut. Senja sudah hilang, langit nampak menghitam, dan ‘api’ di dada kami makin menyala terang.


[o]

Kamis, 26 September 2013

Radikalisme Fundamental

Taman Masjid Kampus, Kamis 26 September 2013 | Penyaji: Sayd Nursiba
Di media, kita sering disodori berbagai macam istilah yang membelenggu, mendikotomi alias mengkapling-kaplingkan, bahkan terkesan memversuskan. Yakni antara fundamental, moderat dan liberal.

Katanya, fundamental berarti pendirian mendasar. Atau secara luas bisa dimaknai sebagai pendirian yang keukeuh terhadap suatu nilai tertentu. "Nggak boleh pacaran!" atau "Harus pacaran!" adalah dua kalimat berbeda yang sama-sama mencirikan sikap fundamentalis; yakni 'mengharuskan'.

Sedangkan orang liberal dimaknai sebagai pihak yang bebas dan seakan lepas dari nilai yang dipegang teguh fundamentalis. Kita tahu, terang Zia, hak orang lain adalah batas kebebasan kita. Jadi, ketika ada orang yang menghancurkan kuburan berkijing di tanah orang lain karena dianggap tidak sesuai dengan ideologi yang dianutnya, orang tersebut bisa juga disebut 'Liberal' karena dia bertindak 'bebas' menerjang batas. Hayoh.

Sedangkan sikap moderat diartikan tengah-tengah; meskipun ia bebas tetapi masih mengikatkan diri terhadap asas-asas yang ada. Posisi inilah yang -katanya- susah. Bagi fundamentalis, orang moderat bisa dianggap liberal. Bagi orang liberal, orang moderat bisa disebut fundamental. Atau bahkan sering disebut hipokrit.

Lalu sebenarnya apa makna 'fundamental', 'moderat', dan 'liberal'? Bagaimana memosisikan istilah itu dengan tepat dan indah? Demikian gugat Lutfi.

Ya embuh, tanggap Yasin, si High Quality Jomblo. Walaupun anggapan orang lain tidak penting, mau liberal kek, moderat kek, fundamental kek, koslet mental kek, you are who you are. Tapi rasa-rasanya penting juga bila kita obrolkan tentang hal ini, agar suatu hari -dimanapun dan kapanpun- kita tidak keseleo pikir dan kepeleset lisan dalam penggunaan istilah-istilah tersebut, terutama jika terpaksa melakukan apresiasi terhadap orang lain di tengah masyarakat. Kenapa penting? Karena kebanyakan kisruh sosial di tengah masyarakat muncul akibat judgement terhadap pihak-pihak tertentu oleh para provokator, sehingga menyulut reaksi lebay dari kita yang malas mikir ini. Betapa banyak sumber daya yang tersia karena konflik yang sebenarnya non-sense?

Apalagi bila dikaitkan dengan isu radikalisme agama. Semua jadi semakin blur tidak jelas.

Dewasa ini, para pemimpin, anggota dan pengikut gerakan Islamisme sedunia takut dan curiga kepada istilah radikal atau radikalisme. Jelas Irfan dengan analisa global. Hampir semua pemimpin islam berlomba-lomba mendapatkan label muslim moderat yang dikatakan beradab, damai dan pasif (disenangi oleh penguasa barat dan patuh kepada kehendak agenda Washington). Apalagi setelah radikalisme diberi suatu makna yang begitu negatif, sehingga dipersamakan dengan arogan, galak, ekstrim, brutal dan lain-lain.

Kita begitu waspada dan risau terhadap istilah radikal, sehingga kita tidak mau berhubungan apapun denganya, atau dikaitkan walau bagaimanapun. Begitu takut dikambinghitamkan dengan gelar islam radikal, sehingga gerakan-gerakan Islam sedunia dijinakkan dan dijadikan kambing hitam.

Inilah aspek komedi gerakan Islamisme dewasa ini. Pengaitan istilah radikalisme dengan fenomena negatif merupakan sesuatu yang salah! (baik dari historis dan juga logika). Dari sudut pandang etimologi, konsep itu tidak ada hubungan sama sekali dengan negatif. Yang lebih menjadi badut dari hal tersebut adalah terjadi suatu alih paradigma dan alih wacana yang menyebabkan terjadinya pengaitan antara radikalisme dan kekerasan.

Perubahan-perubahan seperti ini disebabkan oleh faktor-faktor institusi, relasi kuasa dan struktur kuasa tertenu, dan bukanlah hasil usaha geng-geng jin dan hantu pocongan yang dikhawatirkan. Agensi-agensi yang terlibat dalam peralihan wacana dan paradigma ini di antaranya golongan pers mainstream, pemerintah-pemerintah negara maju, kroni-kroni mereka di negara berkembang, dan malangnya konsep radikalisme keselipan sejumlah gerakan islamis itu sendiri.

Peralihan wacana ini tidak terjadi begitu saja. Ada sebab-sebab tertentu mengapa demikian. Untuk memahami proses ini dan sebab musababnya, kita perlu bermula dengan suatu kajian pendekatan histori, kembali kesuatu era dimana kata radikalisme tidak dianggap berbahaya, justru bernilai positif dan diagung-agungkan.

“Ya, betul,” sambung Said, pemateri gaek dari Madukismo. Pada akhir abad ke19 dan pertengahan abad 20, gerakan nasionalis dan anti kolonialis di dunia ketiga dipimpin dan diterajui oleh tokoh-tokoh radikal yang hebat dan berkepribadian tinggi serta mulia. Tokoh-tkoh Asia seperti Jose Rizal dari Filipina, Pridi Banomyong di Siam, Nguyen Cho Thactht di Vietnam, Bung Karno, Bung Hatta, Cokroaminoto, Ki Hajar Dewantara, Haji Agus Salim, Kiai Ahmad Dahlan, Kiai Hasyim Asy'ari dari Indonesia, mereka semua bisa dikatatakan radikal pada masa tersebut.

Mengapa? Karena mereka berusaha untuk membebaskan kampung halaman (negara) dan masyarakat dari beban hidup di bawah rezim kolonial yang tidak adil. Dalam perjuangan, mereka tidak berkompromi dengan status quo yang ada secara total. Penentang yang total inilah yang menyebabkan mereka dianggap radikal oleh pihak kolonial. Tokoh-tokoh ini sadar bahwa perubahan dan kemerdekaan yang sempurna tidak akan dicapai selagi struktur kuasa dan relasi kuasa lama masih melekat. Oleh karena itu, fokus penentangan mereka diarahkan kepada sistem politik dan institusi politik kolonial yang tidak adil tersebut.

Dewasa ini kuasa besar Amerika menggunakan pula label radikal untuk meminggirkan musuhnya (sang penegak keadilan). Aneh sekali bukan? Padahal Amerika juga didirikan oleh pemimpin-pemimpin yang dahulunya dianggap radikal. Contohnya George Washington yang memberontak menentang kerajaan Inggris pada abad 18, juga digelari radikal oleh raja inggris pada zamanya. Amerika tak mungkin ada tanpa gerakan pro kemerdekaan yang radikal. Jadi, mengapa pemimpin Amerika saat ini takut kepada aliran-aliran ide dan politik yang berwajah radikal? Apa jangan-jangan mereka dihantui bayang-bayang mimipi buruk mereka? Atau, mungkinkah mereka sadar bahwa sekarang ini Amerika bukan lagi suatu negara terjajah, tapi negara yang menjajah dan dianggap sebagai negara penjajah? Entahlah!

Mukid tetap memperhatikan ekspresi penyaji dengan penuh nafsu, Said grogi dan kebingungan.

[o]

Kamis, 01 Agustus 2013

Berani Bermimpi

Lobi FITK UIN Sunan Kalijaga, 1 Agustus 2013 | Penyaji: Bastian Febrianto
Sore di bawah panggung mendung dan di antara irama hujan, penDuduk Selingkar mencari kutub kehidupannya. Mencari magnet yang dapat menarik dirinya untuk bergerak menuju kutubnya masing-masing. Disuguhi adonan mimpi dan motivasi membuatnya terasa semanis brownis. Walau mungkin saat memakannya akan menyendat tenggorokan. Segelas air tekat, nekat, dan semangat akan segera melancarkannya. Melancarkan mimpi itu menuju usus halus kehidupan. Mencerna dan menyerapnya, hingga menjadi daya gerak bagi sang pemimpi.

Buku berjudul "Soetanto Effect" yang dikupas oleh Bastian Ev menunjukkan bagaimana pentingnya bermimpi. Lalu, apa kata penduduk tentang mimpi setelah saling berdiskusi?
Zainal Muhidin: "Kita harus tahu bahwa hidup adalah perjuangan. Dan harus tahu pula apa yang kita perjuangkan."

Pramono: "Hidup harus punya impian! Meskipun impian tidak harus selalu terwujud."

Muhammad Adami: "Bermimpilah! Tapi jangan lupa bercermin.."

Muhammad Farid: "Mimpilah setinggi mungkin, dan jika itu tak tercapai, setidaknya ada impian-impian di bawahnya yang bisa kita gapai."

Sayd Nursiba: "Seperti yang dikemukakan Sir Muhammad Iqbal; mati dalam perjuangan untuk mewujudkan mimpi-mimpi adalah kebahagiaan."

Muhammad Abdulloh: "Dalam menggapai mimpi, harus ada motivasi!"

Mahfut Khanafi: "Bermimpilah namun jangan lupakan realita. Pintarlah tapi jangan pintar sendiri. Kayalah dan jangan pula kaya sendiri."

Vendi Hermawan: "Harus nekat dalam meraih mimpi!"

Affandi: "Wajar jika terjatuh, namun jangan terpaku kepada momen kejatuhan, tapi berupayalah bagaimana caranya bangkit!"

Ayik Abdulloh Sadam Husen: "Bermimpilah!"

Saikhul Semangat: "Mimpilah yang tinggi, dan jangan takut terjatuh."

Awan Al-Lathief: "Jangan hanya punya satu mimpi besar, harus ada mimpi-mimpi lain yang beraneka ragam."

[o]

Sabtu, 09 Maret 2013

Peran Pesantren dalam Pendidikan Nasional

Pelataran Kraton, Sabtu 9 Maret 2013 | Penyaji: Sayd Nursiba
Malam minggu selalu ramai di Jogja, khususnya wilayah Malioboro - Nol Kilometer - Alun-alun Utara. Wisatawan lokal maupun mancanegara hilir mudik menikmati eksotisme kota sejuta pesona ini. Di tengah hiruk pikuk itu, ada segerombol pemuda menggelar jamuan di selatan alun-alun, di gerbang barat pelataran keraton. Rona kebahagiaan jelas terpancar dari wajah-wajah mereka. Diawali dengan ritual santap nasi kucing bersama, dilanjutkan petikan gitar dan nyanyian porak poranda, kemudian dilanjutkan dengan diskusi santai Selingkar.

Malam itu mereka membahas Peran Pesantren dalam Membentuk Kepribadian Bangsa dalam tema Budaya. Dipaparkan oleh Sayd dengan apik;
Manusia sejak lahir memiliki kualitas yang berbeda dari mahluk Tuhan lainnya, baik fisik maupun non fisik. Sujarwa dalam bukunya, ‘Manusia dan Fenomena Kebudayaan’ mengatakan; ketika dilahirkan pertama kali, keadaan manusia sama sekali kurang matang dan dalam proses pertmbuhannya ia harus bergantung kepada sesamanya atau orang lain di sekitarnya.

Dalam proses perkembangan menuju kematangan individu sering terjadi persaingan dan konflik dalam dirinya. Hal ini menunjukkan dalam diri manusia terdapat usaha untuk membentuk dan mengubah diri agar bisa menjadi individu yang lebih baik. Olehkarena itu, pada dasarnya, manusia telah mempunya potensi baik dan buruk dalam dirinya serta diberikannya kebebasan memilih dan mengaktualisasikan dua potensi tersebut.

Dalam mengembangkan dua bentuk potensi ini manusia lebih dominan untuk dipengaruhi dan dibentuk dengan kondisi lingkungannya, karena perkembangan hidup manusia tidak cukup hanya ditentukan pengalaman pribadinya, namun lebih banyak ditentukan oleh kempuan untuk belajar dan penerima pembembelajaran. Hal ini dikerjakan dengan maksud mengembangkan dan mempersiapkan seseorang untuk kehidupan dunia dan akhiratnya.

Kebutuhan manusia untuk ruhnya yang utama adalah agama, yang teraktualisasikan dalam bentuk ibadah. Maka kesadaran beragama perlu ditanamkan sejak dini, dan harus menjadi frame bagi kehidupan manusia untuk menjiwai hidup berbudaya, berpolitik, bersosial dan beretika. Seseorang yang sejak awal diperkenalkan nilai agama maka diharapkan corak kepribadiannya diwujudkan yang bersifat islamai. Nilai-nilai agama ini sangatlah berperan dalam pembentukan sikap mental bagi seseorang.

Ditinjau dari perspektif pendidikan, yang mengemban tugas mewujudkan semua itu adalah lembaga informal, formal, dan nonformal.  Pesantren menjadi salah satu bentuk lembaga pendidikan non formal karena eksistensinya berada dalam jalur pendidikan masyarakat. Ia memiliki program-program pendidikan yang disusun sendiri, pada umumnya bebas dari ketentuan formal. Semua program ini dilaksanakan dalam proses belajar bersama lingkungan kehidupan pondok dan diawasi secra langsung oleh kyai dan para asistennya. Maka pesantren bukan hanya tempat belajar mengajar, melainkan proses kehidupan sendiri.

Peran penting dari lembaga pondok pesantren adalah sebagai alat tranformasi kultur yang menyeluruh dalam kehidupan masyarakat. Jawaban terhadap panggilan keagamaan dan pengayoman serta pendidikan kepada masyarakat yang bersedia menjalankan perintah agama dan hubungan antar mereka.

~

Setelah melalui tiga jam durasi diskusi (21.30 - 00.30). Masing-masing penduduk mengemukakan kesimpulannya;

Luqman: "Ada berbagai macam corak yang dimiliki pesantren-pesantren di Nusantara. Keberagaman inilah yang menjadi potensi dan kekuatan pesantren untuk berkiprah di masyarakat sesuai kebutuhan."

Alvin Nurkholis: "Pengaruh yang ditanamkan oleh pesantren tidak terlepas dari fitrah manusia, yakni sebagai 'abdullah (vertikal) dan khalifatullah (horisontal)."

Mahmud: "Adanya karakteristik khas di pesantren merupakan kebijaksanaan dari sosok pusatnya, yakni Kiai (pengasuh pesantren). Sehingga beliau-beliaulah yang secara tidak langsung memiliki pengaruh di masyarakat melalui lembaga pesantren dan santri-santrinya di kemudian hari. Maka bagi para calon kiai untuk bisa menempatkan diri serta melihat kebutuhan masyarakat secara riil."

Latif Himawan: "Melihat peran santri yang begitu berat ketika sudah terjun di masyarakat, maka sudah semestinya sosok santri bisa menarik hati masyarakat. Bila dahulu masyarakat hormat terhadap orang-orang alim, sekarang masyarakat tampaknya memberikan perhatian kepada hartawan. Maka perlu dipertimbangkan agar sosok santri bisa menjadi tokoh yang hartawan juga."

Sutri Cahyo Kusumo: "Apa yang dilakukan pesantren dan unsur-unsur di dalamnya tak lepas dari kaidah; menjaga hal yang baik dan mengambil hal yang lebih baik. Nah, untuk mengetahui nilai suatu hal, apakah baik atau tidak, maka diskusi semacam ini sangatlah dibutuhkan."

Irfan Wahyu Adi Pradana: "Pioneer perubahan di masyarakat, dalam hal ini adalah sosok santri, jangan agu dan takut untuk bergesekan dengan realita di masyarakat. Tantangan harus dihadapi, bukan dihindari."

Dendy Cipto Setya Budi: "Pesantren kerap kali -di zaman sekarang- tidak menyentuh dan menggarap kalangan bawah, grassroot. Keadaan ini harus di-upgrade agar pesantren tidak menjadi seperti menara gading; yakni suatu lembaga eksklusif yang justru tak bisa dijangkau oleh masyarakat awam, sehingga meskipun keilmuannya mumpuni tetapi manfaatnya tak menyebar di kehidupan bermasyarakat. Sedikit kutipan dari puisi Rendra; apalah arti berpikir bila terepas dari masalah kehidupan.."

Zia Ul Haq: "Sudah saatnya pesantren dengan unsur kiai-santrinya menjadi semacam Think-Tank bagi permasalahan-permasalahan aktual sosial kemasyarakatan, yang berhubungan dengan segala lini kehidupan, seperti budaya, ekonomi, politik, dan lain sebagainya. Tidak hanya menjadi majlis pembahasan masalah-masalah ritual keagamaan an sich."

Forum diskusi santai ditutup pukul setengah satu dini hari, dan pertemuan malam itu diakhiri dengan santap nasi goreng dan sruputan kopi.

[o]

Sabtu, 29 Desember 2012

Singularisme Agama-agama

Trotoar Kantin Tarbiyah, Kamis 29 Desember 2012 | Penyaji: Zia Ul Haq
Keberagaman agama di Indonesia tidak terlepas dari faktor sejarah dan sosial budaya. Fenomena yang terjadi dalam keberagaman itupun tidak bisa dilepaskan dari aspek-aspek sosial budaya yang melingkupinya. Adanya konflik atau pergesekan antar umat beragama merupakan suatu obyek kajian yang harus dicermati secara detail, apakah terjadi murni karena faktor agama itu sendiri, ataukah karena faktor-faktor eksternal berupa politik maupun ekonomi.
Sejarah telah menunjukkan kepada kita betapa pahitnya akibat dari konflik-konflik sosial bernuansa keagamaan. Hal ini tidak hanya terjadi di masa kontemporer tetapi juga di zaman klasik ketika nama “Indonesia” belum mengikat keanekaragaman bangsa di Nusantara. Konflik antara Kesultanan Islam Demak dengan Kraton Hindu-Buddha Majapahit misalnya, telah menyisakan kerugian yang tidak sedikit selama beberapa abad setelahnya.

Belum lagi jika kita mencermati beberapa persinggungan antaragama di zaman kontemporer ini. Konflik antara umat Islam dan Kristen di Poso sekiranya bisa menjadi sampel. Konflik di poso adalah salah satu konflik di Indonesia yang belum terpecahkan sampai saat ini. Meskipun sudah beberapa resolusi ditawarkan, namun itu belum bisa menjamin keamanan di Poso.

Pelbagai macam konflik terus bermunculan di Poso. Meskipun secara umum konflik-konflik yang terjadi di Poso adalah berlatar belakan agama, namun kalau kita meneliti lebih lanjur, maka kita akan menemukan pelbagai kepentingan golongan yang mewarnai konflik tersebut. Tampak sekali bahwa aktor-aktor dalam konflik sebenarnya sangat kompleks, melibatkan elemen-elemen birokrat, para pelaku ekonomi, di samping kelompok kultur keagamaan, yang pada gilirannya melibatkan pula kekuatan-kekuatan dari luar Poso dengan segala kepentingannya, mulai dari para laskar, aparat keamanan, birokrat pada level propinsi ataupun pusat yang memanfaatkan persoalan Poso untuk kepentingan kekuasaan.

Begitu pula dengan insiden Ketapang pada tahun 1998 terhadap gereja-gereja Kristen yang barangkali merupakan satu faktor penyebab peperangan Kristen-Islam di Ambon, yakni adanya hasutan antara orang Betawi (penduduk Jakarta asli). Sejak tahun 1990 telah terjadi serangan-serangan terhadap gereja dengan peningkatan momentum, mencapai klimaksnya pada insiden yang mengerikan tahun 1996 dan 1997 di Surabaya, Tasikmalaya dan Rengasdengklok, sedangkan di bagian timur Indonesia telah terjadi serangan terhadap masjid-masjid. Serta berbagai bentrok di penjuru tempat di Indonesia yang sayangnya diperparah oleh faktor politik, secara parsial dari TNI dan Polri serta orang-orang yang datang dari luar dan melibatkan diri di dalamnya.

Budaya kekerasan dan anarkisme yang didemonstrasikan oleh berbagai bentuk konflik di atas bisa berkembang setidaknya karena empat faktor.

Pertama, faktor modernisasi dan globalisasi.  Kedua, faktor akumulasi kebencian dalam masyarakat. Ketiga, mengguritanya budaya kekerasan di masyarakat. Keempat, faktor sosial politik.

Mari kita lihat konsep utama dasar keimanan agama-agama resmi di Indonesia:

Pokok-pokok ajaran Hindu tertuang dalam Panca Sraddha, yakni:

Percaya terhadap adanya Brahman (Sang Hyang Widhi); Percaya terhadap Atman yang merupakan percikan dari Atman tertinggi yakni Brahman; Percaya terhadap Hukum Karmaphala (balasan perbuatan); Percaya terhadap adanya Punarbawa atau lingkaran kelahiran kembali;Percaya terhadap adanya Moksa atau kelepasan jiwa dari ikatan duniawi.

Nilai-nilai kemoralan untuk umat awam Buddha dikenal dengan Pancasila:

Aku bertekad akan melatih diri menghindari pembunuhan makhluk hidup; Aku bertekad akan melatih diri menghindari pencurian/mengambil barang yang tidak diberikan; Aku bertekad akan melatih diri menghindari melakukan perbuatan asusila; Aku bertekad akan melatih diri menghidari melakukan perkataan dusta; Aku bertekad akan melatih diri menghindari makanan atau minuman yang dapat menyebabkan lemahnya kesadaran

Rukun Islam ada 5:

Mengucapkan dua kalimah syahadat dan meyakini bahwa tidak ada yang berhak ditaati dan disembah dengan benar kecuali Allah saja dan meyakini bahwa Muhammad adalah hamba dan rasul Allah; Mendirikan salat wajib lima kali sehari; Berpuasa pada bulan Ramadan; Membayar zakat; Menunaikan ibadah haji bagi mereka yang mampu. Umat Islam meyakini doktrin bahwa Agama Islam yang diturunkan oleh Allah melalui Nabi Muhammad adalah bentuk Kasih Sayang-Nya terhadap alam semesta atau rahmatan lil ‘aalamiin. Juga terkait dengan tugas diutusnya Nabi Muhammad yakni sebagai pembenah moralitas manusia secara keseluruhan.

Dalam Kristen, maupun Yahudi, dikenal adanya Sepuluh Perintah Tuhan (Dekalog):

Akulah Tuhan, Allahmu, Jangan menyembah berhala, berbaktilah kepada-Ku saja, dan cintailah Aku lebih dari segala sesuatu; Jangan menyebut Nama Tuhan Allahmu dengan tidak hormat; Kuduskanlah hari Tuhan; Hormatilah ibu-bapamu; Jangan membunuh; Jangan berzinah; Jangan mencuri; Jangan bersaksi dusta tentang sesamamu; Jangan mengingini istri sesamamu; Jangan mengingini milik sesamamu secara tidak adil.

Dalam Kong Hu Cu, ada beberapa konsep, yakni;

Delapan Pengakuan Iman (Ba Cheng Chen Gui) dalam agama Khonghucu: Sepenuh Iman kepada Tuhan Yang Maha Esa (Cheng Xin Huang Tian); Sepenuh Iman menjunjung Kebajikan (Cheng Juen Jie De); Sepenuh Iman Menegakkan Firman Gemilang (Cheng Li Ming Ming); Sepenuh Iman Percaya adanya Nyawa dan Roh (Cheng Zhi Gui Shen); Sepenuh Iman memupuk Cita Berbakti (Cheng Yang Xiao Shi);  Sepenuh Iman mengikuti Genta Rohani Nabi Kongzi (Cheng Shun Mu Duo); Sepenuh Iman memuliakan Kitab Si Shu dan Wu Jing (Cheng Qin Jing Shu); Sepenuh Iman menempuh Jalan Suci (Cheng Xing Da Dao);

Lima Sifat Kekekalan (Wu Chang); Ren – Cintakasih, Yi – Kebenaran / Keadilan / Kewajiban, Li – Kesusilaan dan Kepantasan, Zhi – Bijaksana, Xin - Dapat Dipercaya;

Lima Hubungan Sosial (Wu Lun): Hubungan antara Pimpinan dan Bawahan; Hubungan antara Suami dan Isteri; Hubungan antara Orang tua dan anak; Hubungan antara Kakak dan Adik; Hubungan antara Kawan dan Sahabat

Delapan Kebajikan (Ba De): Xiao - Laku Bakti, Ti - Rendah Hati, Zhong – Setia, Xin - Dapat Dipercaya, Li – Susila, Yi – Bijaksana, Lian - Suci Hati, Chi - Tahu Malu.

Maka pesan moral normatif inilah yang semestinya diidentifikasi dari setiap agama untuk digarisbawahi kesamaan tujuannya. Secara rinci, setidaknya ada tujuh hal pokok yang dikandung oleh semua agama, yakni;

1.       Adanya realitas transenden, yakni Tuhan Yang Maha Suci.

2.       Realitas yang transenden itu adalah immanen di lubuk hati manusia.

3.       Realitas transenden tersebut adalah kebaikan tertinggi, mutlak.

4.       Realitas ketuhanan ini adalah cinta sejati yang mewujud di dalam kehidupan.

5.       Jalan manusia menuju Tuhan adalah menyerahkan diri, disiplin diri dan ritual.

6.       Semua agama tidak saja mengajarkan tentang jalan menuju Tuhan, tetapi secara bersamaan juga mengajarkan cara bergaul dengan lingkungan sekitarnya.

7.       Cinta merupakan jalan yang paling tinggi menuju Tuhan.

Hal ini juga menunjukkan secara jelas bahwa agama yang sebenarnya menguatkan keberadaan pengalaman spiritual yang unik dan bersifat individual dari seorang pemeluk agama. Pengalaman spiritual itulah yang mendorongnya untuk memiliki pemahaman yang mendalam secara bersama-sama antar berbagai orang dari seluruh sistem keagamaan yang ada. Agama yang sebenarnya bertindak sebagai ‘kendaraan’ atau ‘alat’ untuk mengungkapkan rasa pelayanan (pengabdian) yang tulus dari seluruh penganutnya. Pengabdian tersebut ditujukan kepada Tuhan, lalu dimanifestasikan pula kepada eksistensi kosmik berupa alam semesta ini.

Di akhir pembahasan ini, ide utama dari nilai-nilai moral agama-agama di Indonesia setidaknya terrangkum di dalam ungkapan al-Bantani. Beliau menyatakan bahwa intisari dari perintah dan larangan di dalam kitab-kitab suci hanya dua hal saja, yakni mewujudkan keharmonisan dengan al-Khaliq (Pencipta) dan mewujudkan keharmonisan pula dengan al-Makhluq (ciptaan, semesta alam kosmik).

~

Meskipun diskusi dengan tema "Memahami Pesan-pesan Moral Agama demi Mewujdkan Kerukunan Antarumat Beragama di Indonesia" pada Selingkar Kamis (20/12/2012) lalu masih terasa belum tuntas, masih sekedar kulit dan agaknya perlu dilanjutkan lagi kapan-kapan, namun para penduduk tetap antusias;

Muhammad Adami: "Lakum diinukum wa liya diin.. Untukmu agamamu, untukku agamaku.. yang disebutkan di sini adalah 'agamamu' terlebih dahulu, baru kemudian 'agamaku', berarti di sini ditekankan bahwa kita harus menghargai orang lain."

Bastian Ev: "Ketika melihat perbedaan-perbedaan, kesanku adalah; Ah, biasa wae, dan tidak perlu diperruncing."

Saikhul Semangat: "Sepenangkapan saya, aslinya 'agama' itu tidak ada, yang ada ya hanya Dia, Tuhan, yang menjadi tujuan semua agama."

Muhammad Abdulloh: "Realita yang ada menunjukkan bahwa kita begitu plural, beragam, maka suatu keharusan bagi kita untuk saling menghargai."

Santosa Teguh: "Dahulukan kesemanusiaan daripada kegolonganan apalagi kealiranan atawa kesukuan serta keseagamaan."

Pramono: "Setiap hal ada sisi baik dan sisi buruknya. Jika kita hanya melihat sisi buruknya, ya yang terlihat hanya jeleek terus. Namun bila kita mau melihat sisi-sisi baik, maka kita akan lebih bisa menghargai hal tersebut."

Mahfut Khanafi: "Pahami dahulu, arifi dahulu, baru kemudian kita bisa menilai."

Irfan Wahyu Adi Pradana: "Hidup tidak hanya tentang mempertahankan sesuatu keyakinan, tetapi juga menghargai keyakinan lain."

Matthew Befahmy: "Ada tuhan (dengan 't' kecil) dan Tuhan (dengan 'T' besar) dalam kehidupan beragama kita. Sayangnya, kita sering menjadikan agama kita masing-masing sebagai tuhan, itulah 't' kecil. Padahal semua agama adalah 'sekedar' jalan untuk menuju Tuhan, 'T' besar. Inilah bagaimana agar kita tidak menuhankan agama, melainkan mengendarai agama menuju Tuhan."

Milyun Noor: "Jika kita ingin memahami titik temu agama-agama, maka sudah seharusnya kita menelaah fakta-fakta sejarah, historical approach."

Zia Ul Haq: "Semua ritual maupun keyakinan di dalam semua agama-agama, selain bertujuan untuk mematangkan pribadi seorang hamba di hadapan Tuhannya, juga untuk mempersiapkan si hamba agar bisa berperan di lingkungan kehidupannya."

Sayd Nursiba: “Selalu menarik memperbincangkan agama dalam kehidupan nyata para pemuja dan penghambanya yang setia dan komitmen. Dalam konteks sosial, agama tidak semata dimaknai sebagai ritus, liturgi, doa dan pengalaman mistik yang bersifat personal dan unik, namun juga hadir dengan fungsi manifest dan laten yang kadang dikehendaki oleh pemeluknya sendiri. Disatu sisi, agama dapat menjadi sarana integrasi sosial, mengikat solidaritas sesama penganutnya dalam jamaah, gereja, sangha, dan komunitas-komunitas keagamaan, wahana pencipta, pembangunan, dan pemeliharaan perdamaian dan kedamaian. Namun hal ini juga sekaligus instrumen yang cukup efektif bagi disintegrasi sosial, menciptakan konflik, ketegangan, bhkan perang, memandang outsider sebagai ‘kafir’ yang harus diproselitiasi secara paksa di sisi lain.

Agama tampaknya selalu hadir dalam wajah ganda, ambivalensi yang sulit diurai dan dimengerti lebih-lebihan bila penganutnya menempatkan diri sebagai aktor sekali dan selamanya. Bukan pengamat apalagi peneliti, bukan kritikus tapi pembela dan wacthdog tradisi ortodoksi. Satu lagi perdebatan-perdebatan mutakhir tentang sikap ambivalensi agama dan penganutnya, adalah opini publik yang terbuka untuk digugat, tidak saja melalui forum diskusi dan seminar, tapi juga pertemuan informal.

Tampaknya selingkar merupakan media refleksi kritis dan mengispirasikan saya dalam memotivasi menulis dan membaca buku. Terima kasih kawan-kawan yang begitu komitmen dalam mempertahankan budaya berfikir ini semoga tetap langgeng. Hehehehe. Semangat!”

Bastian Ev:

“Masih terkait dengan postingan ini, cobalah teman-teman ke kampus Sanata Dharma, Paingan (deket stadion), masuk lewat gerbang politeknik mekatronika, lewat depan juga gak apa-apa. Coba ke kantinnya, di salah satu pojok kios ada seorang gadis bening berjilbab yang jualan disitu. Kalau sedang kalut cobalah ke situ.”

Zainal Muhidin: “Wow, Bastian.. ini baru solusi untuk masalah seluruh dunia..”

Sayd Nursiba: “Haha. Saran Bastian membuatku ingin ke sana!”

Bima Shakty: “Ide bagus Bas!”

Kasbi Saja: “Nabi Ibrahim diingatkan oleh Allah ketika Ia hendak memberikan makanan kepada fakir miskin tetapi beliau mensyaratkan si duafa ini haruslah seorang muslim. Itu artinya: berilah manfaat kepada siapapun tanpa memandang agamanya apa. Life's most urgent question is: What are you doing for others? [Martin Luther King, Jr.]”

Adam Pertama: “Jan jane ki iso rukun nek Islam kui tegak. Neng nek Islam mung dijumputi sebagian-sebagian yo ketok medheni bro. Karepe damai tapi ngedol aqidah. Karepe urip penak tapi anti syari'at. Entuk bedho mung bedho sek dientukke. Kudu podho babagan sek kudu podho. Islam kui ora mung opo sek ono neng pikirane awake dewe, tapi ono panduane. Monggo mengkaji Islam luwih adoh luwih jero ben reti lan paham opo karepe Islam.”

M Saikhul Anwar: “Sebenarnya, apakah mungkin syariat Islam itu bisa diterapkan sepenuhnya di negara kita yang sangat kental dengan perbedaan ini?”

Milyun Noor: “Yang harus digarisbawahi, Indonesia adalah negara demokrasi bro, dan perbedaan ini gak lantas membuat kita takut untuk gak bisa melaksanakan tugas kita sebagai muslim, kalau kita takut, nanti dikira akidah kita lemah. Dan mungkin sepertinya Gusti kita menciptakan perbedaan supaya saling mengenal dan dapat wawasan baru. Ayate; walau sya'allah laja'alakum ummatan wahidatan dan seterusnya.”

Sayd Nursiba: “Adam dan Zia, mari-mari kita lotse alias negak khomer. Mari-mari kita freesex. Mari kita mencuri. Mari kita tipu menipu. Cius, cius, cius, semua umat Islam pastinya sepakat dalam fakta sejarah kelahiran Islam meluruskan hal-hal demikian.

Yang tadinya suka minum khomer karena kebanggaan supaya dipandang dermawan oleh masyarakat sekitar, ternyata secara logis dan runtut Islam hadir memerintahkan untuk menjauhinya ketika akan munajat pada Sang Khaliq. Lalu setelah terbiasa baru diharamkan dengan alasan perbuatan kerusakan (setan) dan menimbulkan permusuhan jika mabuk-mabuk terus.

Lalu orang yang msh suka mabuk ditanya apakah mau meninggalkannya? Mbeh sungguh indah tenan cara Allah melalui utusan-Nya mengajarkan manusia. Lebih indah lagi jika membaca Kitab Al-Qur'an dengan bahasa Arabnya dan mengetahui asbabul nuzul, perkataan Kanjeng Nabi Muhammad yang menjelaskannya.

Yang kedua,  mengenai zina atau sexfree, haha, ini hal yang sangat umum diketahui manusia modern saat ini, bagimana Allah mengajarkan manusia menikmati kodrat manusia yang jika berhubungan badan itu nikmat, karena nikmat maka diaturlah supaya tidak ada perselisihan dengan boleh bersetubuh dengan bebas, berbagai gaya, kanan atau kiri atas atau belakang bebaslah-bebas tapi nikah dulu yaw, hahaha. Nikah yang bagaimana? Kita sudah tau secara umum. Inilah kehadiran islam, Islam menjaga kehidupan manusia supaya tidak terjadi kerusakan. Syari'at adalah hukum yang ditujukan kepada mukalaf yang mengatur hubungan antara manusia dan Khaliq, antara manusia dan mahluk lainnya. So bagaimana kalau Al-Qur'an dan hadist menjadi sumber hukum? Setujukah? Lalu bagaimana menerapkannya? Hahahaha.”

Absurd!

[o]

Sabtu, 15 Desember 2012

Manunggaling Kawula Gusti

Selasar Teatrikal FTIK, Kamis 15 Desember 2012 | Penyaji: Irfan Wahyu Adi Pradana

Militansi penduduk Selingkar Kamis (13/12/2012) kemarin patut diacungi jempol, meskipun memang bukan suatu hal yang luar biasa untuk dipiagamkan atau dipialakan dalam penghargaan-penghargaan absurd, setidaknya semangat penduduk untuk istiqomah berdiskusi sebagai salah satu dari sekian banyak cara mengaktivasi potensi diri pantas menjadi sebab berbungah hati.

Memang partisipan yang ikut berdiskusi kemarin tidak sebanyak biasanya, namun kegayengan diskusi santai tetap kental seperti biasanya. Diskusi yang awalnya digelar di trotoar kantin Tarbiyah harus dipindahkan ke selasar teatrikal Fakultas Tarbiyah karena guyuran hujan.


Dari satu setengah jam berdiskusi tentang Pengaruh Makrifat Siti Jenar dalam Teologi Rakyat Pinggiran, para penduduk menyimpulkan idenya dengan bahasa serta sudut pandang masing-masing;

Rohmat: "Anak TK jangan dijejali dengan pelajaran pelajar SMA, hal yang diajarkan kepada seseorang haruslah disesuaikan dengan kemampuan daya tangkapnya."

Yasin Syafii Azami: "Terlepas dari benar salah konsep teologi Manunggalnya, gerakan yang diusung oleh Siti Jenar merupakan langkah revolusioner yang inspiratif."

Milyun Noor: "Apa yang dipahami dan dinisbatkan kepada Siti Jenar tentang Manunggaling Kawulo Gusti pasti dipahami pula oleh tokoh-tokoh wali yang lain. Namun dalam langkahnya, Siti Jenar memilih menempuh jalan yang ekstrim. Al-Junaid mengatakan; seandainya pikiran para pemikir dicurahkan sedalam-dalmnya pada masakah tauhid, maka akan berakhir dengan kebingungan. Abu Bakr as-Shiddiq berujar; Mahasuci Allah yang tidak menjadikan jalan bagi makhluk-Nya mengenal-Nya, melainkan dengan ketidakmampuan mengenal-Nya."

Zainal Muhidin: "Manunggallah dalam Gustimu dengan cara menjadi kawula-Nya."

Yusuf Kun: "Hal yang disampaikan oleh Siti Jenar tentang Manunggaling Kawulo Gusti sudah merambah ranah 'Irfani, bukan sekedar pendekatan Burhani yang rasional. Namun, kondisi masyarakat saat itu belum mapan dan sebetulnya belum siap menelan doktrin 'Irfani tersebut."

Pramono: "Silakan memiliki pandangan atau pendapat apapun, asalkan mau dan mampu mempertanggungjawabkan pemikiran tersebut di khalayak agar tidak menimbulkan gonjang-ganjing di masyarakat."

Rey Himura: "Ilmu Manunggaling Kawulo Gusti ala Siti Jenar merupakan obyek yang multitafsir. Maka alangkah baiknya bila seseorang ingin mengajarkan ilmu yang tinggi-tinggi dan wah-wah, ajarkan dulu dasar-dasar pijakan yang berkaitan dengan ilmu tersebut."

Sayd Nursiba: "Memang, sesosok bayi yang seharusnya masih mengonsumsi air susu belum siap untuk dijejali pisang atau makanan padat lainnya."

Irfan Wahyu Adi Pradana: "Dalam hal apapun, khususnya beragama, manusia harus melek sosio kultural di lingkungan sekitarnya, sehingga bisa menjaga kondusivitas dengan memelihara estetika (keindahan) simbol-simbol dalam pergaulan."

[o]

Rabu, 14 November 2012

Pendidikan Pembebasan

Trotoar Kantin Tarbiyah, Rabu 14 November 2012 | Penyaji: Jaka Brontosaurus
Pada masa kebangkitan aliran filsafat empirisme di Inggris, filsuf John Locke mengemukakan konsep Tabula Rasa atau “wadah kosong”, sebagai ilustrasi sistem pengetahuan manusia. Pengetahuan manusia diandaikan sebagai wadah yang awalnya kosong, dan akhirnya menjadi pengetahuan utuh setelah diisi oleh beragam realitas empirik. Namun dengan demikian kemanusiaan terberangus. Potensi individu terabaikan karena semua diandaikan berangkat dari satu garis yang sama; wadah kosong.
Padahal pendidikan adalah suatu ide yang luar biasa dan agung. Filsuf besar Inggris abad 20, Betrand Russel, berujar;

“Pendidikan dimaksudkan supaya manusia mencerminkan lingkungannya dengan tepat lewat pengetahuan yang diperoleh dengan kecerdasan. Supaya ia melibatkan diri secara emosional dengan cinta, keramahan dan keadilan pada sesama. Akhirnya ia mampu mengembangkan kehendak dan kemampuannya untuk memperoleh proyek-proyek kemanusiaan dan tidak mengalami kendala chauvinisme sempit.”

Salah satu pengaruh konsep tabula rasa masih mengemuka dalam realitas pendidikan kontemporer saat ini. Manifestasinya adalah konsep pendidikan model bank. Peserta didik diandaikan tidak tahu apa-apa dan harus menerima limpahan pengetahuan yang luar biasa banyak. Urusan ia bisa memanfaatkannya atau tidak nanti, itu soal belakangan. Hal itu masih menjadi praktik lazim saat ini, termasuk di negara kita, dengan varian kasus yang luar biasa. Bimbel termasuk salah satu contoh kasus adopsi buta pendidikan ala bank. Tentor memberikan materi cara mengerjakan soal, kita memperhatikan dengan seksama. Pendidikan yang efektif untuk mengerjakan soal dan betul-betul beraroma bank karena sangat transaksional. Saya membayar dan tolong ajarkan saya cara lulus ujian.

Mazhab pendidikan konservatif mementingkan adanya proses adaptif dari peserta didik sebelum masuk ke dalam struktur sosial yang sudah mapan. Emile Durkheim menganjurkan pendidikan dikelola oleh negara untuk mentransmisikan nilai moral utama. Max Weber mengemukakan tesis bahwa peran pendidikan merupakan wahana seleksi sosial bagi peserta didik sebelum terjun ke dalam struktur sosial masyarakat, ia menekankan pentingnya konsep ujian bagi peserta didik.

Pemikir pendidikan konservatif menganggap bahwa pendidikan merupakan arena bebas kepentingan dan murni diisi kepentingan akademis. Unsur bebas nilai. Lalu timbul arus pemikiran baru, yaitu mazhab pendidikan liberal-humanis. Sebagai tokohnya adalah Paulo Freire, pedagog asal Brazil. Menurut aliran ini, pendidikan tidak netral, ia dicampuri kepentingan sistem yang lebih besar.

"Pendidikan harus menjadi arena pembebasan manusia sehingga mengantar orang menemukan dirinya sendiri, untuk kemudian menghadapi realitas sekitarnya dengan kritis dan mengubah dunia secara kreatif." katanya.

Proyek pendidikan Freire tidak hanya berkutat pada aras kesadaran kritis semata, namun juga mencakup usaha penyadaran secara riil. Sebelum mencapai kebebasan seutuhnya, peserta didik harus disadarkan (dibebaskan) dari realitas yang menindas.

Pemikiran Paulo Freire tentang pendidikan lahir dari pergumulannya selama bekerja bertahun-tahun di tengah-tengah masyarakat desa yang miskin dan tidak “berpendidikan”. Masyarakat feodal (hirarkis) adalah struktur masyarakat yang umum berpengaruh di Amerika Latin pada saat itu. Dalam masyarakat feodal yang hirarkis ini terjadi perbedaan mencolok antara strata masyarakat “atas” dengan strata masyarakat “bawah”. Golongan atas menjadi penindas masyarakat bawah dengan melalui kekuasaan politik dan akumulasi kekayaan, karena itu menyebabkan golongan masyarakat bawah menjadi semakin miskin yang sekaligus semakin menguatkan ketergantungan kaum tertindas kepada para penindas itu.

Dalam kehidupan masyarakat yang sangat kontras itu, lahirlah suatu kebudayaan yang disebut Freire dengan kebudayaan “bisu”. Kesadaran refleksi kritis dalam budaya seperti ini tetap tidur dan tidak tergugah. Akibatnya waktu lalu hanya dilihat sebagai sekat hari ini yang menghimpit. Manusia tenggelam dalam “hari ini” yang panjang, monoton dan membosankan sedangkan eksistensi masa lalu dan masa akan datang belum disadari. Dalam kebudayaan bisu yang demikian itu kaum tertindas hanya menerima begitu saja segala perlakuan dari kaum penindas. Bahkan, ada ketakutan pada kaum tertindas akan adanya kesadaran tentang ketertindasan mereka. Itulah dehumanisasi karena bahasa sebagai prakondisi untuk menguasai realitas hidup telah menjadi kebisuan. Diam atau bisu dalam konteks yang dimaksud Freire bukan karena protes atas perlakuan yang tidak adil. Itu juga bukan strategi untuk menahan intervensi penguasa dari luar. Tetapi, budaya bisu yang terjadi adalah karena bisu dan bukan membisu.

Mereka dalam budaya bisu memang tidak tahu apa-apa. Mereka tidak memiliki kesadaran bahwa mereka bisu dan dibisukan. Karena itu, menurut Freire untuk menguasai realitas hidup ini termasuk menyadari kebisuan itu, maka bahasa harus dikuasai. Menguasai bahasa berarti mempunyai kesadaran kritis dalam mengungkapkan realitas. Untuk itu, pendidikan yang dapat membebaskan dan memberdayakan adalah pendidikan yang melaluinya nara didik dapat mendengar suaranya yang asli. Pendidikan yang relevan dalam masyarakat berbudaya bisu adalah mengajar untuk memampukan mereka mendengarkan suaranya sendiri dan bukan suara dari luar termasuk suara sang pendidik.

Dalam konteks yang demikian itulah Freire bergumul. Ia terpanggil untuk membebaskan masyarakatnya yang tertindas dan yang telah “dibisukan”. Pendidikan “gaya bank” dilihatnya sebagai salah satu sumber yang mengokohkan penindasan dan kebisuan itu. Karena itulah, ia menawarkan pendidikan “hadapmasalah” sebagai jalan membangkitkan kesadaran masyarakat bisu.

~

Freire memperkenalkan metode pendidikan yang disebut dengan Pendidikan Dialogis. Otoritas guru yang selalu satu arah diberangus dengan konsep “guru sekaligus murid” dan “murid sekaligus guru”. Dialog ini berusaha secara revolusioner mengubah konsep relasi berjarak anata guru dan murid dalam struktur pendidikan formal sejak jaman Yunani Kuno.

Karena itulah unsur dialog sangat penting bagi Freire. Terdapat suatu dinamika dialektis antara pendidik dengan peserta didik. Penekanannya adalah dengan menyadarkan pendidik maupun peserta didik agar dapat berani bertindak dan mengubah situasi mereka.

Menurut Freire, kebiasaan “patuh” (atau dalam bahasa lainnya “adaptif” seperti yang menjdi tujuan pendidikan konservatif) mendorong manusia untuk menyesuaikan diri dengan realitas, bukan untuk berintegrasi. Konsep “integrasi” inilah yang merupakan konsep utama dari pendidikan liberal-humanis.

Integrasi merupakan tindakan khas dari rezim demokratis yang fleksibel menuntut kemampun untuk berpikir dengan kritis. Lawannya adalah “adaptasi”, yakni menyesuaikan diri terhadap kebiasaan yang dipaksakan, dengan demikian menuntut suatu kerangka berpikir yang otoriter serta tidak kritis.

Ketika pendidikan (formal) dan segala macam sistem birokrasi pengelolaannya menjadi 'pabrik' aparatus pemerintah, atau ketika itu semua menjadi toa bagi segala macam ideologi pemerintah. Sehingga lembaga pendidikan hanya sekedar menjadi pabrik tenaga kerja robotik sebagaimana politik balas jasa ala kolonial dahulu, atau hanya sebagai media doktrinisasi kebijakan sebagaimana era orde baru. Bukan benar-benar untuk mengais ilmu dan 'membuka gerbang chi' alias menggali potensi peserta didik, maka pendidikan justru akan menjadi liang pembodohan.

Jangan-jangan benar kata Voltaire; "I was born intelligent, but education ruined me. Aku terlahir cerdas, namun pendidikan merusakku."

Nah, diskusi semacam Selingkar adalah salah satu sarana untuk mendeteksi apakah kita sedang benar-benar terdidik ataukah justru sedang dibodohi, apakah kita telah peka terhadap realita sosial ataukah buta tuli sama sekali.

Jika ditakar dengan pernyataan Freire;

"Pendidikan harus menjadi arena pembebasan manusia sehingga mengantar orang menemukan dirinya sendiri, untuk kemudian menghadapi realitas sekitarnya dengan kritis dan mengubah dunia secara kreatif."

Tanggapan penDuduk Selingkar;

Sayd Nursiba: “Kata pembebasan adalah menuju pada pengikatan. Dari sistem lama kita mencoba sistem baru yang lebih adil namun esensinya sama saja yaitu pengikatan sistem lagi. Jika sistem baru itu muncul problem maka ada istilah pembebasan lagi. Pada akhirnya mengalami kejemuan dalam sistem yang terus berganti. Nah jika Voltaire mengatakan aku terlahir bebas dan pendidikan yang merusakku maka mengindikasikan adanya pendidikan atau sistem yang menurut Voltaire benar. Singkatnya, pembebasan sama saja dengan keterikatan, hahaha. Lalu apa kebebasan pendidikan yang dapat menciptakan kepedulian sosial? Monggo dirembuk lagi. Hahaha.”

Zainal Muhidin: “Waah, disuruh mendeteksi bahwa kita sedang sakit atau tidak? Terus disuruh cari obatnya, waah.. susah lah, aku mikir diriku sendiri aja jarang dan bingung, hahaha. Jadi penting nggak siiiih pendidikan formal?

Kalau sekolah formal dianggap tidak mendidik lagi untuk apa sekolah?  Kalau sekolah formal hanya jadi kandang sapi dan setelah gemuk akan diperas susunya kemudian dikonsumsi dagingnya, tanpa sapi tahu siapa dirinya, lalu apa untungnya bagi sapi itu? Tapi ingat! Manusia bukan sapi, hahaha, makanya kalau kita jadi manusia ya jangan kayak sapi.

Artinya, berpikir penuh kesadaran di sini menjadi penting. Tentang diri kita, tentang apa yang kita lakukan, tentang ruang dan waktu yang sedang kita singgahi. Dari berpikir itu mungkin bisa menimbulkan kesadaran. Kesadaran yang akan menggerakkan orang itu di manapun dan kapanpun. Kesadaran yang membuatnya tahu harus apa dan bagaimana dalam menyikapi realita.

Jadi janganlah terlalu menganggap penting sekolah, jangan juga meremehkannya. Biasa wae, karena tidak hanya sekolah yang mendidik kita, Men! Bukan hanya Sekolah yang bisa membuat manusia menjadi manusia. Keluarga, teman, lingkungan, kehidupan, dan diri kita sendiri adalah pendidik bagi kita yang memerdekakan dan membebaskan kita. Dari apa? dari ketidakperikemanusiaan. Hahaha.. (aku nulis iki karo misuh-misuh, sebenere aku isin ro awakku dewe, hahahaha)”

Bastian Ev: “Sakitkah pendidikan kita? Mungkin, tapi sinting iya. buktinya makin bnyk mahasiswa lulus (baca: orang terpelajar, beradab, barokah wa halal.. he) Indonesia tetep aja gak turun peringkat korupsinya.

Cara mengatasinya: hampir mustahil untuk mengubah, toh saya sendiri juga kuliah di kampus pemerintah. Kita bikin enjoy aja kale, kita percantik pendidikan yang sudah ada sekarang ini, banyak hal kecil yang masih bisa kita lakukan, toh pendidikan Indonesia juga gak buruk-buruk amat. Masih ada profesor-profesor yang sip laah.

Mungkin pendidikan Indonesia lagi meriang aja, atau masih malu-malu mau jalan-jalan ke mana. Emmm, kita percantik aja pendidikan, hal kecil aja. Kan dia gak pede, ayo deh kita pasangin bros "RPP" di jilbabnya, kita buatin bros "RPP" yang bener wa shohih wa barokah wa halal wa rohmah wa no watoniah, hehehe. Kalau masih malu-malu, jangan-jangan karena kita, oke deh, pake facial wash, baca buku tiap pekan sesuai keilmuan kita masing-masing.

Eee, pipinya merona merah, tapi pendidikan msh malu nih, gandeng aja kalee. Diteriakin muke gile lu ya, ga usah direspon. Gandeng tangannya dengan cara; membesarkan hati setiap murid kita, hal kecil sekali. Tapi dari keinginan hatilah Ikal dari pedalaman Sumatera, Bangka Belitong bisa ke Perancis, Fuadi yang anak pondok bisa ke Kanada, Dahlan Iskan yang dulu tidak punya sepatu sekarang kalo mau beli pabrik sepatu aja bisa.

Besarkan hati murid-murid kita besok. Nah, tuh gue bilang juge ape? Mau kan si pendidikan jalan same kite. Tuh cantiknya. Absurd yo? Hahahaha.”

Irfan Mashuri: “Coba kita cermati pendidikan pembebasan ala Paulo Freire dengan pendidikan indonesia ala Ki Hajar Dewantara. Pemikiran apa yang dituangkan oleh kedua tokoh tersebut tentang pendidikan?”

Sayd Nursiba: “Pendidikan merupakan usaha sadar yang dilakukan pendidik kepada yang dididik untuk mencapai tujuan, jika tujuan dalam konteks di atas adalah kepedulian sosial, maka cabang tujuan pendidikan adalah kepedulian sosial. Nah pendidik adalah subjek pendidikan. Paradigma pendidikan yang berpusat pada peserta didik mengartikan bahwa peserta didik harus juga bisa menjadi subjek. Transformasi ini membentuk pendidikan dimana pendidik harus bisa mengembangkan potensi peserta didik dimana peserta didik harus menjadi subjek selain menjadi objek pendidikan untuk mencpai bagian pendidikan yaitu kepedulian sosial.

Setiap manusia memiliki tugas ada yang ahli akuntansi, ahli matematika, guru, marketing, tidak lain sumber keahlian itu bekal yang diberikan dari lembaga formal. Jika pendidikan formal hanya mampu menciptakan robot-robot berwujud manusia yang tidak peduli pada penderitaan sosial dapat dikatakan sebuah kegagalan pendidikan. Mari kita lihat dari sisi politik sistem politik kapitalis yang memaksa produk pendidikan formal untk memenuhi lapangan pekerjaan. Sadar dan tidak sadar mereka dialihkan memenuhi jam kerja, seperti berangkat pagi pulang malam yang menyebabkan hidup mereka hanya untk kerja/uang atau dengan istilah: krisis manusia modern.

Di sisi lain, manusia yang tidak dapat pekerjaan namun mereka sebenarnya mampu bekerja dikarenakan keterbatasan kuota lapangan pekerjaan menyebabkan kemiskinan masal. Yah bagaimana tidak? Lha wong mereka tidak bekerja mau dapat hasil darimana? Huhuhu.

Betewe, kalau saya ngomong banyak bisa jadi buku iki. Tak persingkat saja. Solusinya perlunya sistem politik yang bisa menyamaratakan kualitas hidup atau meminimalisir kesenjangan sosial. Jika kekuatan ini terpenuhi maka sudah jadi tugas negara memberikan kepedulian sosial baik kesehatan, ekonomi, pendidikan, yang terjamin bagi seluruh warga negara dimana kerjaan negara selalu dapat terpantau oleh masyarakat. Hahaha.”

Irfan Mashuri: “Kata pendidikan mempunyai peran penting dalam mencerdaskan kehidupan bangsa dan negara, peran pendidikan acap kali bergaya kolosal yakni sering dianggap mencerdaskan saja bukan membuat manusia yang beradab. Nah disini pendidikan harus menjadi gaya konvensional, artinya pendidikan harus mempunyai tendensi terhadap dua objek adalah pendidikan membentuk karakter/kepribadian berdasarkan budaya yang ada dan membentuk manusia yang cerdas sehingga menjadikan bangsa negara yang beradab. Kata beradablah yang membuat suatu bangsa itu menjadi barakhlak, berbudaya dan berilmu. (terinspirasi dari pemikiran pendidikan Ki Hajar Dewantara)”

Ichsan W. Saputro: “Singkat ae lah, masing-masing kalian telah memiliki maklumat. bukan orang-orang miskin argumen, jadi tanpa prolog (nek jare Anjy).

Bagi saya, pendidikan itu tidak selalu membebaskan. Hanya karena Freire dalam kondisi sebuah tekanan, jadi harus muncul antitesisnya yaitu sebuah pembebasan. Pembebasanpun akhirnya diartikan bermacam-macam. Lalu siapa yang layak mendefinisikan kebebasan dan pembebasan?

Bagi para pengemban ideologi kapitalis, pendidikan saat ini telah sesuai (untuk mendukung kebijakan kapitalistiknya), berbeda lagi dengan dedengkot ideologi sosialis yang antitesis (dari kapitalis), berbeda lagi dengan Islam dalam menyajikan pemaparannya mengenai pendidikan.

Conclude: Menurut hemat saya, pendidikan berjalan sebagaimana sebuah hegemoni dari ideologi negara. Ya, negara yang benar-benar negara. Negara yang berkuasa atas pendidikannya.”

Irfan Wahyu Adi Pradana: “Ngebul ae lah, masing-masing kalian telah memiliki udut sak lencer, bukan orang-orang miskin uang, jadi tanpa bungkus (nek jare Zia Ul ). Jadi begini Naak, semua dapat mendefinisikan kebebasan atau pembebasan, semua dapat menafsirkan masing masing dan memberi plat kebebasan dan pembebasan(tinggal bagaimana kita menghargai plat tersebut). Sebab hati itu bebas. Ia merdeka memilih kemana ingin melabuh rasa dan mencipta bahagia dengan pendidikan. Pendidikan jujur niscaya demi menjaga eksistensi bangsa ini dalam percaturan dunia. Cuk matane! Sepaneng tenan cuk cuk!”

Sayd Nursiba: “Betul Rasyid, haha, ho'oh itulah yang dinamakan kejemuan berfikir kapitalis dijawab sosialis kemudian dijawab lagi oleh liberalis lalu muter lagi. Pusing. Hahaha. Siapa ya Yang Maha Mendidik?”

Anji Fathunaja: “Iya, pemikiran Paulo menurutku emang terikat dengan keadaan pendidikan pada masa itu. sehingga tidak bisa dipaksa diterapkan di era modern yang jelas berbeda keadaannya. Tapi apa yang kamu maksud dengan negara yang benar-benar negara, Rasyid? Jangan-jangan itu lagi. Haduh..”

Zia Ul Haq: “Yup, sepakat. Ide Freire tentu ada sababul wurudnya, sebagaimana kemunculan ide Asghar Ali, Ibn Taymiyah, maupun ide-ide lain. Tak lepas dari kondisi dan situasi sosial saat itu. Makanya, dalam diskusi kemarin-kemarin, kita mencoba membaca hubungan antara konteks dengan gagasan yang Freire (atau tokoh-tokoh lain) kemukakan. Dengan harapan bisa memahami pola pikir maupun pola aksi dalam merespon suatu fenomena sosial yang patut dikritisi dengan hati-hati.”

Ichsan W. Saputro: “Iya Andjy Naja, lha wes ngerti takon. Hahaha. Tapi bukan begitu maksudnya, secara umum, negara yang benar negara dan menguasai ki negorone bener-bener nduwe ideologi yang diterapkan gitu lho di negaranya sendiri dan bisa disebarkan di negara orang lain juga. Koyo Amrik sing ideologine kapitalis, Soviet (ndhisik) sing ideologine sosialis, siji meneh zaman emas abad pertengahan kae.

Bagi saya 3 itulah yang benar-benar negara, dia berdaulat atas sistem pendidikannya (dan sistem lain tentunya). Ora mengadopsi dari sistem lain gitu lho. Nek misal ngene: Pancasila dianggap sebagai sebuah ideologi harusnya ada sistem pendidikan Pancasila, sistem ekonomi Pancasila, sistem pergaulan Pancasila, sistem politik Pancasila dan sebagainya. nek belum bisa menguasai sistem-sistem itu sendiri, menurut hemat saya negarane masih auto-pilot.”

Zia Ul Haq: “Menurut hemat saya; negara ini emang sudah gagal. That's all sodara-sodara.”

[o]