Selasa, 03 Maret 2015

Gerakan Pemberkuasaan Desa

Komunitas Belajar Qoryah Thoyyibah, Kalibening Salatiga | Selasa 3 Maret 2015 | Penyaji: Bapak Ahmad Bahruddin

Selasa malam (3/4/2015), sambil meneguk kopi hangat dan menikmati salak-salak gemulai, kami menyimak tumpahan ide-ide Pak Ahmad ‘Freire’ Bahruddin, Kepala Komunitas Belajar Qoryah Thoyyibah Salatiga. Beliau menyampaikan gagasan-agasan filosofis dan praktis tentang apa yang diimplementasikan di KBQT maupun pandangan-pandangan umum tentang pemberdayaan desa, konsep guru sebagai pendamping, serta fasilitasi siswa. Berikut ini beberapa percik gagasan Pak Din.
Desa Berdaya

“Qoryah Thoyyibah itu apa?”

“Sarekat petani. Aslinya sarekat paguyuban petani. SPPQT, Sarekat Paguyuban Petani Qoryah Thoyyibah. Berdirinya tahun ‘99. Kalau Komunitas Belajar Qoryah Thoyyibah atau KBQT baru pada 2003, empat tahun kemudian. Jadi aslinya paguyuban-paguyuban petani yang bersarekat, ya kelembagaan civil society di aras desa.

Mayoritas penduduk desa ‘kan petani, jadi organisasinya berbasis petani, merepresentasikan civil society. Namanya itu Qoryah Thoyyibah, tepat sekali, ya ‘kan memang di desa to. Mbangun ‘qoryah thoyyibah’, memberdayakan desa. Lalu desa yang thoyyibah itu bagaimana? Ya bukan yang mengeksploitasi, tapi yang mengkonservasi sumber dayanya, berkarakter secara budaya. Termasuk pendidikan.

Desa yang berdaya ketika ada lembaga pendidikan, atau ada penyelenggaraan pembelajaran yang belajar tentang desanya sendiri. Itu menjadi pelengkap indikator desa yang ‘thoyyibah’. Terus kehadiran KBQT ini melengkapi indikator desa yang berdaya itu. Gathuk-gathuke ngono, walaupun dulu ya nggak kepikiran begitu.

Lha yang kasih nama Qoryah Thoyyibah itu Pak Raymond, orang Katolik. Dia yang mengusulkan. Waktu itu Pak Raymond saya undang dari Yayasan Pakem, Kaliurang. Dia sendiri waktu itu pemred The Jakarta Post.

Jadi Qoryah Thoyyibah ini sebenarnya gerakan pemberkuasaan desa, pemberdayaan desa.”

Jamaah Produksi

“Kemudian saya lontarkan ini dengan kepala desa, kemudian terus ke atas. Ganjar Pranowo mau jadi gubernur ta’ tantang bikin ini bikin itu, sebagai kontrak politik. Jokowi ke sini juga saya sampaikan gerakan pemberdayaan desa.

Sekarang gerakan ini terintegrasi di program Jamaah Produksi. Kata kuncinya ‘produktif’, bukan konsumtif. Pernah juga saya temui Marwan Djafar, menteri desa. Saya sampaikan juga tentang pemberdayaan desa itu. Di tim transisi ketemu sama pokja reformasi pendidikan, juga ketemu sama pokja desa. Pokja desa ‘kan Sutoro Eko, dan pokja reformasi Sidik Setiawan. Ya saya sampaikan juga. Terus Sutoro Eko bilang, nanti pembelajaran di sekolah-sekolah dasar harus berintegrasi dengan desa.

Embuh prakteknya. Yang penting terus kita suarakan.

Karena desa-desa bisa berdaya hanya jika di desa-desa itu sudah ada kebersamaan, berjamaah, menggarap mengelola sumber daya, di RT-RT ada semua. Saya malah melontarkan angka. Kelompok produksi itu, per-RT bisa dapat dana 100 juta. Dihitung-hitung, seluruh Indonesia ini menyentuh angka 100 triliun. Itu sedikit.

Kalau dibuat tahapan, lima tahun pertama misalnya sebagai pilot project beberapa tempat. Setelah tahun kelima, semua RT seluruh Indonesia mendapat kapital 100 juta dari negara. Itu kecil. Kalau mau ekstrim, ya satu milyar per-RT untuk Jamaah Produksi. Wah itu sudah bikin wegah merantau ke Jakarta, apalagi jadi TKI. Koar-koar saya malah gini, nanti kita bisa membutuhkan tenaga kerja dari luar. Dari Amerika atau dari India misalnya.”

Sumber Daya

“Sumber daya kita melimpah luar biasa. Kita hanya punya dua musim. Musim semi hampir sepanjang tahun. Kalau di negara-negara dengan empat musim, itu kalau musim dingin kita sudah tak bisa apa-apa. Saya di Inggris bulan November-Desember, itu minus dua, dinginnya minta ampun, itu kalau teringat rumah kayak teringat surga. Kita ini luar biasa. Kok malah beli kedelai ke Amerika, beli apel ke Amerika. Padahal untuk transport apel saja sudah dua bulan.

Kok bisa-bisanya. Padahal peluang untuk budi daya sendiri itu lebih besar. Itu ‘kan lucu. Sudah terlalu lama kita terlena dan ketipu, kita dipaksa harus mengikuti cara berpikir mereka. Ya mungkin cara berpikir itu pas buat mereka. Lha kita kok ngikuti, lha yang salah itu yang mengikuti.”

Guru sebagai Pendamping“Di sini adanya pendamping, fungsinya semacam guru kelas. Tapi bukan mengajar. Ya dia harus tahu anak-anak yang didampinginya bisa apa. Bukan sebagai guru yang mengajar.

Kan aneh, di sekolahan, anak-anak itu senang kalau jam kosong, libur. Meski tidak terucap, itu sudah terukir di hati. Itu ‘kan jadi indikator. Kalau selalu dirindukan murid. Gampang saja ‘kan kalau mau menilai guru itu. Sampaikan ke anak-anak kalau Pak Anu nggak bisa hadir, kalau mereka kemudian bersorak senang berarti ada yang nggak beres.

Guru selalu menyalahkan anak-anak yang tidak memperhatikan, yang mbolos. Padahal problemnya bukan pada anak. Problemnya ya pada guru. Lha wong memang dianya tidak menarik kok menyalahkan orang yang tidak tertarik, ‘kan lucu.

Harusnya bertanya, kenapa saya nggak menarik? Apalagi kalau masih muda. Sebenarnya cukup gampang membuat pribadi yang menarik. Selalu support, apresiatif, menyemangati. Itu pilihan-pilihan. Ketika fasilitatif ‘kan lebih nyaman. Ini sering saya sampaikan di kampus-kampus pendidikan, biang keroknya ya mata kuliah metode pembelajaran, harusnya diganti metode fasilitasi. Jadi ketika saya di kelas, semangat saya bukan untuk mengajar, tetapi memfasilitasi.

Fasilitasi kayak pembantu umum. Melayani.

“Berarti posisinya di bawah, ya Pak?”

“Paling tinggi sejajar. Kalau membimbing itu berarti saya positioningnya di atas, mengarahkan. Pernyataan ‘Begini lho, Nak!’ itu seakan-akan kita sudah klaim sesuatu yang benar untuk mereka ikuti. Tapi kalau pernyataannya ‘Bagaimana kalau begini, Nak?’ maka kita memberi kesempatan mereka berpikir dan memutuskan. Kita sebagai pengusul, bukan penentu.

Ini ‘kan tesis dari kita. Diharapkan ada antitesis dari anak, sehingga nanti muncul sintetis, jadilah praktek yang dialektis, itu ‘kan dinamis jadinya. Kita jadi pengusul, dia yang menentukan. Makanya posisi kita di bawah, paling tinggi ya sejajar.

Ada anak yang suka menggambar, corat-coret. Saya potret itu gambar-gambarnya. Saya apresiasi, saya semangati. Saya bukukan. Dan kelihatan perkembangannya. Mulai dari yang polos. Saya sendiri nggak bisa menggambar, tapi ‘kan saya harus bisa mengapresiasi. Kalau saya posisikan diri sebagai pengajar, malah amburadul. Kalau saya bisa menggambar punlalu posisi saya jadi mengajar, saya jangan sampai membuat dia menjadi seperti saya.”

Karya Produktif“Bagaimana mengukur pencapaian siswa?”

“Ya karya dia. Jangan ke capaian-capaian yang sudah kita atur, itu sekolahan banget. Harus mencapai sesuatu yang sudah kita bentuk, mirip cetakan, ya anak semakin tercerabut karena tidak menjadi dirinya sendiri. Kita harus apresiasi karyanya. Misal mau pentas drama, ya bisa pakai naskah orang, tapi kalau bisa ya anak-anak bikin karya sendiri. Yang penting mereka berkarya.

Semua anak-anak di sini, dari hal A sampai Z, keputusannya di tangan anak. Akirnya juga enak, kita nggak usah stress, tinggal menikmati.

Ada banyak komunitas-komunitas, di situ anak-anak sini bisa belajar. Bisa mereka datang ke sini, atau anak-anak yang ke sana. Ada musik, teater, ngelukis, macam-macam. Anak yang suka bikin komik, dia kemudian kemana-mana, ikut ini ikut itu, even-even komik, ya saya bebaskan. Kalau di sekolahan ‘kan anak ini dianggap mbolos. Tapi ‘kan yang penting dia produktif dengan karyanya.

Siapapun harus jadi orang bermanfaat, ya dengan karya itu. Dengan apresiasi, diskusi, anak-anak akan jadi produktif.”

Ujian“Ketika anak di kelas, anak sebelahnya pun diposisikan sebagai musuh. Maka dia beranggapan harus mengalahkan, harus ranking sekian, semua harus dikalahkan. Itu ‘kan kekerasan, internalisasi kejahatan. Waktu tes anak-anak tidak boleh saling memberi tahu, lho, diskusi kok tidak boleh. Hahaha.

Mereka tidak dididik untuk saling bekerja sama, saling berbagi, tidak ada yang harus dikalahkan.

Di sini ‘kan setiap periode ada tes juga. Ada kiriman soal-soal dari dinas.”

“Itu diapain, Pak?”

“Ya saya bagikan ke anak-anak. Dianggap aja kayak buku TTS buat didiskusikan. Ya syukur-syukur mau mengkritisi pertanyaan, itu malah bagus. Lumayan lah, ada orang kasih soal-soal ya disyukuri. Begitu ‘kan nambah pengetahuan anak-anak juga. Terus ya nggak usah ada pengawas.

Ujian di sekolah seantero Indonesia ini malah diawasi. Itu ‘kan kejahatan demi kejahatan. Jadi, biaya sekitar 600 milyar itu hanya internalisasi nilai-nilai kejahatan. Belum mantap, para pengawas itu diawasi oleh polisi. Walah.

Apalagi sekarang ujian tidak menjadi penentu kelulusan. Wis enak. Bukan faktor utama penentu kelulusan. Bocah yang baik itu ya yang mau terus berusaha, berusaha memahami, berusaha berkarya. Mengukurnya bukan diuji dengan pertanyaan A-B-C-D. Apalagi pertanyaannya sama sekali tidak sesuai dengan konteks desa.”

Orang Tua“Kalau ada komplain dari orang tua?”

“Didiskusikan. Bagaimanapun, orang tua adalah guru yang pertama dan utama, terutama ibu. Kalau di sekolah ‘kan peran orang tua diambil alih. Sekolah ‘kan menempatkan anak sebagai terhajar, guru sebagai penghajar. Orang tua malah mendukung penghajar.

Selama ini ‘kan anggapannya, orang tua yang baik adalah orang tua yang ngejar-ngejar anaknya nggarap PR dari sekolahan. Padahal PR seharusnya ‘kan dari rumah untuk proses pembelajaran. Di sini anak-anak masuknya tidak pagi-pagi, agak siang saja. Pagi dimanfaatkan dengan keluarga, untuk cuci piring atau apapun. Itu lebih manfaat. Apalagi kalau ada temuan-temuan persoalan di rumah, bisa didiskusikan di sini. Jadi PR-nya dibawa dari rumah, bukan sebaliknya.

Di sekolah malah orang tua bergandengan tangan dengan penghajar. Kasihan anak-anak, dikeroyok jadi bulan-bulanan. Luar biasa kalau kita melihat pelampiasan sebab internalisasi kejahatan itu. Tawuran, corat-coret, dan macem-macem, itu ‘kan pelampiasan.”

Makhluk Berakal“Anak-anak susah diajak berpikir, Pak. Apa solusinya?”

“Ah jangan begitu. Gini, manusia sejak lahir itu makhluk berpikir. Kalau tidak berpikir berarti bukan manusia. Dasarnya dari; hayawanun nathiq, begitu istilahnya, iya ‘kan? Jadi ya mampu berpikir. Anak SD ya anak SD, senangnya corat-coret ya corat-coret. Pernah ngobrol tentang ini dengan kepala sekolah, kepala SD dari pedalaman Kalimantan. Lalu suatu hari ketemu saya lagi, dia menunjukkan pada saya satu buku, isinya tulisan-tulisan anak-anak SD. Nah, sekarang penulis-penulisnya itu ‘kan sudah besar-besar, terus pada main ke sini.

Jadi ya harus diberi kesempatan, didukung, bukan dimarahi. Yang manusiawi itu ya harus memberi kesempatan untuk berpikir itu.”

“Bagaimana cara membaca potensi anak?”

“Kesenangannya apa. Anak itu suka gerak, berarti ini arahnya kinestetis. Ada yang kesenangannya coret-coret, berarti visual. Sudah jelas. Bakat nyanyi ya ndilalah nyanyi. Qiroah itu analisis. Membaca, bukan membunyikan simbol bacaan, tapi to analyze.”

Nakal

“Bagaimana mengatasi anak nakal?”

“Nakal. Duh gini ya, pendidikan kita malah cenderung nakal. Anak harus dipaksa. Ini ‘kan sebenarnya internalisasi nilai kejahatan. Anak ngantuk dimarahi. Yang tidak nakal, yang kasih sayang, ya kalau anak ngantuk ya dikasih bantal. Ekstrimnya ‘kan gitu. Hahaha.

Sederhananya gini. Kalau ingin anak besok jadi preman, tukang pukul, ya dari kecil pukuli saja dia. Jadi akibat. Tapi kalau yang dia terima kasih sayang, dia nanti juga akan menebar kasih sayang. Di sekolah, anak kok justru dihadap-hadapkan berlawanan dengan anak yang lain.

Kadang-kadang cara berpikir kita aneh. Ada anak-anak nakal, maka harus dididik biar jadi baik. Ada program pengentasan anak-anak jalanan Jakarta. Tempatnya di Cisarua, Bogor. Masa’ anak jalanan kok dipesantrenkan. Logikanya, mereka masuk kesitu terus diperbiki. Fasilitasnya wuah, ada kasur, makanan bergizi, tiap hari dikasih uang saku. Tapi ya aturannya sangat memaksa, mungkin untuk ukuran anak-anak jalanan, itu ya kekerasan. Akhirnya ya pada kabur. Dari 40 tinggal 18, belum ada dua bulan.

Saya tanya, mereka jawab, di luar itu bebas, ngamen sehari bisa dapat 50 ribu, di sini cuma dikasih sangu 5 ribu. Buat apa cara semacam itu. Mending dampingi saja mereka ngamen, diarahkan bagaimana biar lagu dan muskinya bisa lebih produktif, dengan ukuran mereka tentunya ya. Itu semua ya harus disupport.

Asumsinya ‘kan anak-anak di jalan itu jelek. Tidak pernah ditelusuri latar belakang mereka. Padahal kan harus kita mulai dari yang positif. Anak berani di jalanan berarti ‘kan dia punya sisi positif, pemberani. Itu tinggal diarahkan, jangan dihentikan begitu saja. itu kekerasan namanya.”

Kesetaraan

“Sekolah paket bisa menggunakan ruangan sekolah-sekolah dasar, yaitu memanfaatkan waktu siang. Pas to? Sekolah dasar pagi sampai siang, jam satu digunakan belajar lagi, setara SMP dan SMA. ‘Kan manfaat. Gedungnya ‘kan manfaat. Daripada jam satu ke atas dianggurkan, lebih baik dimanfaatkan saja.

Pembelajarannya juga diubah, jangan hanya bergantung pada indikator-indikator yang ditentukan oleh pusat, jangan hanya dari kementerian pendidikan. Kalau ada program dari kementerian pertanian, atau perikanan, atau program PNPM dan apapun, nah itu garap aja. Wah itu jadi pembelajaran gratisan. Itu jadi belajar kontekstual, wis top banget. Dan semua seneng, bisa lintas sektor.

Jadi ya nggak usah mbangun gedung lagi. Tambahi saja koneksi internet. SD-nya itu tambah seneng, ya to? Ada koneksi internet, wireless, luar biasa. Dan masyarakat desa akan bisa memanfaatkan. Ini menjadi centre of excellence.

Di sini juga pernah mendapat sumbangan untuk pembangunan ruang-ruang kelas. Tapi ya kita berhitung kemanfaatannya. Yang lebih manfaat ya ta’ bagi-bagikan buat para orang tua, buat memperbaiki rumah-rumah mereka. Ya karena semua rumah di desa jadi kelas. Ya karepku to yo. Hahaha.”

Hitung-hitungannya begini. Setahun satu milyar untuk satu desa, misalnya, ‘kan kecil untuk ukuran penyelenggaraan pendidikan kesetaraan. Berarti ‘kan hanya butuh 74 triliun, karena ada 74 ribu desa. Itu sa’ Indonesia. Itu baru dari kementerian pendidikan, belum dari kementerian lain-lainnya. Simulasi APBN tahun 2014 semestinya 104 triliun. Walah wis luar biasa itu. Asumsi saya baru satu milyar untuk satu desa, untuk seluruh Indonesia, ya tentunya bertahap. Itu angka yang kecil. Lha potensi yang ‘hilang’ di laut saja sampai 300 triliun kok, dicolongi karo …… hahaha.”

“Turah akeh yo Pak?”

“Lha iyo. Sebenarnya ini momentum buat kita. Ini selalu saya usulkan ke pemerintah. Ya mau dilakukan atau tidak yang penting sudah saya sampaikan.”

Berani

“Butuh keberanian besar untuk melakukan perubahan ya, Pak?”

“Saya sering dituduh pemberani. Haha. Padahal itu nggak ada urusan sama takut dan berani. Orang punya gagasan ‘kan ya nikmat gitu lho. Punya ide kok takut, ’kan nggak begitu to? Punya ide ‘kan ya nikmat!”

~

Kesimpulannya, dalam gerakan pemberkuasaan desa harus ada integrasi antara gotong royong (berjamaah) dan pendidikan berwawasan kearifan lokal terhadap penduduknya sendiri. Langkah pendidikan itu pun harus mandiri dan manusiawi. Dalam prakteknya, guru sebagai pendamping yang fasilitatif harus mampu mendampingi murid untuk berkarya sebagai ukuran pencapaiannya. Semoga bermanfaat.


[o]

Jumat, 20 Februari 2015

Ilmu atau Pengetahuan?

Di semester-semester awal dahulu aku masih sering mampir di masjid kampus. Sholat Dhuha? Nggak sih, Cuma buat nunggu jam-jam kuliah berikutnya sambil –tentu saja- bobok manis. Bagi punggung lelahku saat itu, buntelan tas buluk bisa seempuk bantal kapuk, lantai keramik masjid sama nyamannya dengan spring bed kelas raja. Serasa tuntas segala masalah asmara di dunia. *uhuk!

Biasanya menjelang waktu shalat Dzuhur, petugas takmir keliling men-sweeping para gelandangan macam kami. Tapi kalau tidurnya selepas jamaah shalat Dzuhur, tentu kemungkinan besar aku bakal mbablas sampai Ashar, padahal masuk kelas jam dua, misalnya. Nah, di saat-saat kritis seperti itulah biasanya teman-temanku yang jadi alarm untuk membangunkan. Bastian inilah salah satunya.

Rambutnya agak kriwil, kulit lumayan cerah meskipun nggak secerah kulitku, ngahaha, dan ngomongnya kadang ribet. Tapi ya masih mending ketimbang Sutri Si Sohibul Mesem itu. Asli Godean. Di facebook namanya Bastian Ev’, entah apa kepanjangan inisial ‘Ev’ itu, mungkin singkatan dari ‘Emang vekok’ atau semacamnya.

Dia sudah lulus kuliah (aku belum, mungkina karena kebanyakan tidur), sekarang ia mengajar di sebuah SMK yang sangat menantang. Bukan hanya sebab tipe anak-anak ‘liar’ yang dihadapinya, tetapi juga karena lingkungan pengajar yang susah diajak move on kayak pemuda yang patah hati. Ciaaa!

Di sekolah tempatnya mengajar ini, Bastian begitu bersemangat mengajak murid-muridnya untuk percaya diri. Jangan minder dengan sekolahan lain yang banjir ‘tropi prestasi’. Meskipun dia guru agama dan sudah diangkat sebagai ‘kiai’ di sana, ia juga sanggup mengajar teknik mesin karena di situlah passion-nya.

Belakangan, dia sedang membimbing beberapa siswa membuat alat detektor pengairan tambak ikan dengan teknologi sensor untuk diikutkan dalam lomba bergengsi. Konon, lomba terakhir yang berhasil dimenangkan di sini adalah lari marathon, itupun beberapa millenium lalu. Hahaha. Kalau bisa juara dalam satu mata lomba ini, ia berharap bisa mengangkat kepercayaan diri siswa dan para guru. Hadiahnya sendiri, menurut Bastian, tidak terlalu penting.

Mengajar anak-anak ‘liar’ tak segampang mengajar siswa penurut di sekolah-sekolah favorit. Beberapa kali ia sudah pernah ditantang tarung oleh muridnya. Sebagai petarung Tae Kwon Do, tentu Bastian tak gentar dengan ancaman semacam itu. Tapi sebagai guru, ia mulai belajar mempertimbangkan sikap dan etika. Kini ia lebih suka ngobrol santai di kelas dan mendengarkan keluh kesah muridnya ketimbang mengajar materi-materi agama. Sebab itulah, salah seorang guru senior menegurnya karena selama beberapa minggu ia tak kelihatan menggunakan kapur dan papan tulis.

Pelajaran agama sudah ada bukunya, siswa setingkat sekolah menengah atas semestinya tinggal membaca dan kemudian didiskusikan di kelas bersama guru. Tapi minat untuk membaca dan mendiskusikan itulah yang belum tumbuh. Maka tugas guru adalah menciptakan atmosfer nyaman antara guru dan murid, bukan sekedar sebagai teman, tapi sebagai pembimbing. Dari interaksi ini kemudian tumbuh minat dan peluang untuk diskusi materi pelajaran. Demikian yang diterapkan Bastian di sembilan kelas bimbingannya.

Lagipula, menurutnya, untuk model siswa-siswa ‘liar’ semacam itu, kompetensi yang dituju seharusnya tidak disamakan dengan sekolah-sekolah bersiswa santun. Jika di sana memburu pencapaian pemahaman terhadap materi, maka di sini cukup untuk memperhalus budi pekerti.

Pemikiran cemerlang nan sikap bijak ini, katanya, ia dapatkan dari diskusi rutin Selingkar yang legendaris itu. Torehan-torehan diskusi dalam komunitas itu sudah tertuang rapi dalam buku Duduk Selingkar yang bisa dipesan melalui nomor 085728253141 (Diandra). *Iklan woy!

Benar kata orang bahwa kedewasaan berkembang seiring pengalaman. Maka aku bersaksi bahwa Bastian saat ini sudah naik level dari Bastian culun yang kukenal lima tahun lalu di pojok masjid. Jelas dia jauh jauh jauh lebih keren daripada Bastian Steel yang sering nampang di tipi.

Oiya, kabar gembira buat remaja putri! Setahuku, Bastian ini masih jomblo dan siap menyambut kehadiran pendamping untuk mewarnai hari-harinya yang suram, model akhwat-akhwat lincahlah yang dia idam-idamkan. Berminat? Langsung inbox saja orangnya. Hahaha.

~

Oke, cukup promonya, kembali ke serambi masjid. Di tiang sebelah selatan mepet hydrant, kami sering ngobrol ringan. Mulai dari materi kuliah, pengalaman hidup, passion, hingga hal-hal sepele mengapa banyak banget upil-upil menempel di bawah meja-meja kelas dengan teksturnya yang selalu saja menggemaskan.

Dari sekian banyak rekaman obrolan di kepalaku, bisa kusimpulkan bahwa Bastian ini sosok mekatronik yang kesasar di fakultas pendidikan. Sering banget di sela obrolan mengenai agama dan teknis-teknis ibadah, Bastian mengungkapkan stetmen pesimistis tentang pengetahuan agamanya yang begitu minim. Lalu mulai membanding-bandingkan antara aku yang memang dari kecil ngemil bangku madrasah dengan dia yang hanya jebolan rohis SMA. Mana pantas jadi guru agama, katanya.

“Lhah, apakah agama itu hanya tumpukan materi, Bas?” tanyaku. Kemudian dia menghujaniku rentetan argumen dengan gerakan kepala mirip boneka Unyil. Menurutnya, adalah suatu keniscayaan bagi seorang calon guru agama untuk menyimpan ratusan atau ribuan file tentang dalil-dalil di memori otaknya. Sementara dia, justru lebih paham rangkaian listrik dan aplikasi software daripada skema wudhu dan tayammum.

Lalu aku bertanya padanya tentang alat yang ia buat sebagai karya skripsi. Ia pun menjelaskan tentang satu kotak mekanik hitam yang kusebut dengan ‘Pijit Nikmat’, heuheu. Jadi dengan alat itu, seorang siswa bisa ‘bermain’ pertanyaan-pertanyaan tentang materi agama tanpa harus menggunakan kertas dan pulpen. Ada beberapa tombol di sana untuk beragam fungsi. Pertanyaan dan jawaban pun bisa diupdate dengan laptop, tinggal colok dan input. Perolehan poin pun bisa langsung tertampilkan di monitor plasma sederhana si kotak. Jika jawaban siswa salah, kotak itu akan berbunyi ‘Oh No!’ dan jika benar, ‘Oh Yes!’. Fufufufu.

Bastian menjelaskan panjang lebar tentang cara kerja alat itu, teori maupun teknisnya. Aku melongo sambil garuk-garuk brewok. Lalu kutanggapi. Aku tidak tahu menahu barang sebiji upilpun tentang alat dan teknis semacam itu. Pengetahuannya tentang mekanika yang aplikatif secara otodidak tidak kalah dengan pengetahuan agamaku yang kubawa dari madrasah dan sangat terbatas. Tapi ‘kan, tanya Bastian, pengetahuan agama itu lebih mulia daripada pengetahuan mekanika? Artinya, orang yang lebih banyak tahu tentang agama secara otomatis lebih mulia ketimbang orang lain.

Pernyataan Bastian ini jelas mencerminan cara berpikir khas orang eksak. A sama dengan B, B sama dengan C, maka A sama dengan C. Siapa bilang? Gugatku. Menurut penelaahanku, kiai-kiai dan tokoh-tokoh agama di kampung maupun berbagai belahan dunia manapun dimuliakan masyarakat bukan sekedar sebab pengetahuannya. Melainkan sebab pengamalannya terhadap pengetahuan dan pengayomannya terhadap masyarakat. Nah, orang-orang seperti mereka tidaklah banyak. Kalau orang dengan wawasan agama bertumpuk sih banyak berceceran di kampus-kampus semacam UIN.

Memang benar bahwa pengetahuan agama bisa menuntun seseorang pada kesalehan dan kejernihan diri. Tapi apa selalu begitu? Bagi cara berpikir eksak; lhoh, mestinya orang yang banyak tahu agama adalah orang yang paling baik tingkah lakunya dong, maka sebab itu, ia orang yang paling layak dihormati. Sayangnya, bunga tak selalu harum dan capaian wawasan memang tak berbanding lurus dengan penghayatan.

Kalau yang diandalkan sarjana agama sekedar asupan-asupan materi dan data-data di kepala, itu hanyalah menjadi ‘pengetahuan’ agama, belum menjadi ‘ilmu’. Lhoh, memang beda ya ‘pengetahuan’ dan ‘ilmu’? Oke, kita bahas.

Dalam Bahasa Indonesia, istilah ‘pengetahuan’ sering dibersamakan dengan ‘ilmu’, menjadi ‘ilmu pengetahuan’, sehingga maknanya setara dan sebatas lahir. Memang iya bahwa ‘ilmu’ dalam Bahasa Arab secara literer berarti ‘pengetahuan’. Orang yang tahu disebut ‘aalim’ (diserap jadi ‘alim’), objek yang diketahui disebut ‘ma’lum’ (diserap jadi ‘maklum’), dan pengetahuan yang dimaksud disebut ‘ilmu’. Namun ada pemaknaan lain dalam konteks keagamaan.

Kalau sekedar harfiah, istilah ‘ulama’ (bentuk jamak dari ‘aalim’) hanya akan diartikan sebagai; orang-orang yang mengetahui hal-hal spesifik secara mendalam. Artinya, kumpulan rapat para pakar fisika di suatu ruangan bisa disebut sebagai konferensi ulama. Namun kita punya pemaknaan secara istilah yang tak berhenti pada arti harfiah.

Di dalam Islam, pengetahuan sejati adalah pengetahuan yang mengantarkan segenap kesadaran menuju ketundukan kepada Tuhan dan kemaslahatan terhadap sesama makhluk Tuhan. Dan ilmu tersebut adalah ilmu agama. Sehingga hanya orang yang berpengetahuan agamalah yang disebut sebagai ‘aalim’, jamaknya; ‘ulama’. Apalagi jika mengacu kepada berbagai teks-teks suci Islam, baik al-Qur’an maupun al-Hadits. Di sana tertulis ketat kriteria bagaimana ‘ulama itu.

Di dalam ayat suci disebutkan bahwa ‘ulama adalah orang-orang yang begitu meresapnya ketundukan mereka terhadap Tuhan sehingga menumbuhkan rasa takut akan Ketidakrelaan-Nya. Sedangkan dalam redaksi hadits disampaikan bahwa ulama adalah pewaris para nabi, baik berupa warisan ilmu, sikap, etika, maupun wibawa.

Imam al-Ghazali bahkan menuliskan diferensiasi antara ulama sejati dan ulama gadungan. Kriteria itu menyangkut kepakaran terhadap sumber-sumber hukum Islam, disiplin ritual, kedalaman spiritual, konsistensi terhadap pelaksanaan hukum, hingga karakter dan tingkah laku keseharian. Lalu dari istilah ‘ulama’ ini muncul turunan sebutan-sebutan lokal lain semisal ‘syaikh’ (Arab), ‘kiai’ (Jawa), ‘ustadz’ (Persia), dan semacamnya. Untuk hal ini pernah kutuangkan di dalam artikel "Panggil Aku Ustadz!"

“Wah, berarti ulama itu bukan sekedar orang yang berpengetahuan agama banyak dong?” sahut Bastian mulai paham. Ya jelas, jawabku. Bahkan seperti yang sudah kuuraikan tadi, ada kode etik langsung dari Allah maupun Rasulullah bagi sosok-sosok ulama. Ayat maupun hadits yang sekilas nampak sebagai pujian kepada ulama, sejatinya adalah kode etik yang musti dipatuhi oleh siapapun yang merasa jadi ulama.

Seperti ayat Qur’an yang menyatakan bahwa orang-orang yang bisa tunduk takut secara total kepada Allah hanyalah kelompok ulama. Atau hadits yang menyatakan bahwa ulama adalah pewaris para nabi. Aku membaca ayat dan hadits itu bukan sebagai sanjungan yang bisa menggiring ke jurang kebanggaan. Melainkan sebagai kode etik keulamaan yang baku; bahwa ulama semestinya tunduk total pada aturan Ilahi, dan sebisa mungkin mewarisi sikap dan teladan para nabi. Berat, ‘kan?

Bastian manggut-manggut. “Berarti,” gumamnya, “Tidak semua orang berpengetahuan agama layak disebut ‘ulama’, dan pengetahuan agama seseorang belum tentu membuatnya jadi pribadi yang soleh. Tapi kok bisa ya?”

Ya karena kesalehan dan ketertundukan itu berakar pada penghayatan, bukan pengetahuan an sich. Pengetahuan hanya menjadi modal saja. Namun bila modal tak diolah, hanya ditampung di gudang, tentu hanya akan menumpuk dan akhirnya membusuk. Jadi, orang yang kesana kemari mengais pengetahuan di bangku-bangku sekolahan, sejatinya hanya sedang mengumpulkan modal. Termasuk pengetahuan agama di madrasah-madrasah.

Ketika modal itu sudah dipunyai, yakni koleksi pengetahuan (‘ilm), langkah selanjutnya adalah mengasah pemahaman atas apa yang sudah diketahui (fahm). Lalu dilanjutkan dengan penghayatan dengan pelaksanaan (‘amal). Nah, kontinuitas pengamalan plus penghayatan inilah yang bisa membuahan keberimbangan persepsi (‘adl) dan kebijaksanaan (hikmah).

Keempat dimensi inilah; ‘ilm, fahm, ‘amal, dan hikmah, yang membuat sosok kiai sepuh dihormati masyarakat secara sadar dan sukarela. Bukan atas paksaan, sogokan, maupun pencitraan. Sedangkan kebijaksanaan yang dimaksud adalah pemahaman dan penyikapan mendalam terhadap suatu hal sesuai dengan posisinya yang tepat.

Dengan demikian perbedaan antara ‘ilmu’ dan ‘pengetahuan’ akan lebih kentara. Ada jarak antara keduanya tentang kekentalan, kepadatan, kedalaman, kepekatan, dan rasa.

Nah, untuk konteks perbandingan aku dan Bastian, kami seimbang. Bedanya, koleksi pengetahuan agamaku mungkin sedikit lebih banyak dari dia, dan koleksi pengetahuan mekaniknya jauh lebih banyak dariku. Untuk penghayatan, tak usah ditanya. Tentu saja –kuakui- pengamalan dan penghayatan Bastian terhadap pengetahuan mekanika yang ia miliki lebih mendalam daripada pengamalanku terhadap pengetahuan agamaku.

Belum lagi kalau bicara pengamalan pengetahuan tentang pendidikan. Jelas aku tertinggal jauh di belakang. Dia sudah terjun, aku masih tidur berkemul sarung. Dalam konteks Islam, siapa yang mengamalkan apa yang ia ketahui, maka Allah akan mengajarinya hal-hal yang belum ia ketahui. Dan berbagai asupan yang telah Bastian dapatkan semasa di kampus Selingkar, sudah diamalkan dengan baik di medan juangnya sekarang.
 

~
Krapyak, 20/02/2015

Senin, 02 Februari 2015

Meneropong Pendidikan Indonesia

Oleh: Wardono Jakarimba

Ketika sedang asyik membuka halaman per halaman majalah Bintang, tak seperti biasanya ada tulisan tentang dunia pendidikan berjudul “MEMBANGUN OPTIMISME DUNIA PENDIDIKAN”. Maklum, yang namanya majalah Bintang biasanya hanya berisi gosip, gosip, dan gosip seputar selebritis. Sehingga dengan rakusnya saya langsung membaca tulisan tersebut sampe habis tanpa terlewatkan sekatapun.

Kemudian terlintas di otakku untuk berbagi isi tulisan tersebut kepada teman-teman. Mengingat kita sudah terlanjur menceburkan diri ke jalur yang muaranya mengarah pada guru. Sebagai calon guru tentu kita di tuntut melahap serakus-rakusnya semua informasi tentang dunia pendidikan agar dapat menjadi guru yang berwawasan luas. Dan ulasan kembali terhadap tulisan tersebut semoga dapat menambah pundi-pundi wawasan kita terhadap dunia pendidikan. Di tulisan tersebut tidak ada nama penulisnya, jadi dalam pembahasan ulang ini saya sebut penulis tulisan tersebut dengan penulis. Oke, jangan banyak cas cis cus lagi, mari kita segera bahas kembali tulisan tersebut.

Dengan berbagai permasalah yang masih menyelimuti pendidikan Indonesia, mulai dari sarpras, kualitas, pemerataan, dana, kebijakan, dan lain sebagainya, kita tetap harus memiliki optimisme yang tinggi dalam membangun pendidikan yang maju, karena peradaban Indonesia yang lebih baik hanya dapat diwujudkan melalui pendidikan. Maka sangatlah tepat jika momen Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) tahun 2013 bertemakan “Meningkatkan Kualitas dan Akses Berkeadilan”.

Penulis membeberkan kenapa tema tersebut sangat tepat karena kita memang wajib memiliki keyakinan dan optimistis, Indonesia ke depan adalah Indonesia yang lebih baik, karena itulah dibutuhkan kualitas, disertai akses yang berkeadilan, tanpa mengenal asal usul, status sosial dan latar belakang ekonomi. Optimisme ini didukung oleh fakta, bahwa setelah reformasi sampai sekarang ini Indonesia telah mengalami pertumbuhan ekonomi yang berarti. Bahkan Mc Kinsey Global Institute (September 2012) meramalkan Indonesia akan menjadi kekuatan ekonomi nomor tujuh di dunia pada tahun 2030. Bukan hanya itu, dalam laporan itu disebutkan bahwa pada tahun 2030, Indonesia membutuhkan sebanyak 113 juta tenaga kerja terampil. Dari mana dan bagaimana menyiapkannya??? Jawabannya tentu dari dunia pendidikan.

Awal mendengar ramalan itu, saya atau mungkin juga teman-teman seperti tidak percaya Indonesia dapat seperti itu di tahun 2030 mengingat keadaan Bangsa Indonesia yang seperti ini, masih banyak rakyat miskin, ratusan atau bahkan ribuan kisah Tasripin-Tasripin lain yang masih tersembunyi, kesenjangan ekonomi antara si kaya dan si miskin makin tinggi, namun juga bukan sesuatu yang mustahil untuk menggapai ramalan tersebut terwujud jika kita mau bekerja keras mengabdi setulus hati di dunia pendidikan. Jangan banyak cas cis cus lagi, ayo kita bahas lagi tulisan tersebut...

Tema tersebut bukan hanya sekedar pelengkap dalam Hardiknas, tapi menjadi kewajiban bagi pemerintah pusat dan daerah serta kita (masyarakat) untuk mewujudkannya demi terciptanya peradaban Indonesia yang lebih baik. Oleh karenanya, amanat dalam UUD 1945, yakni tiap warga negara wajib mengenyam pendidikan dasar, dan negara wajib mengelolanya, sehingga pemerintah pusat dan daerah, bersama-sama dg masyarakat harus berusaha memenuhi amanat tersbeut melalui pembangunan sekolah-sekolah di seluruh Indonesia, termasuk di daerah 3T (terdepan, terluar, dan tertinggal). Selain itu, menurut penulis, pendidikan haruslah menjangkau seluruh lapisan masyarakat, sebagai upaya memenuhi hal itu Kemdikbud telah memiliki program Bantuan Operasional sekolah (BOS) dan Beasiswa Miskin (BSM). Mulai tahun pelajaran 2013, BOS akan diberikan di jenjang pendidikan menengah. Diharapakn melalui program ini, kita tidak akan pernah mendengar lagi ada anak dari keluarga tak mampu yang tidak bisa mengenyam pendidikan atau putus sekolah.

Kebijakan serupa tidak berhenti hanya pada jenjang pendidikan menengah atas saja. Namun juga kebijakan yang dapat membuka selebar-lebarnya kesempatan bagi siswa dari keluarga tak mampu untuk melanjutkan ke perguruan tinggi. Nah, kebijakan pemerintah untuk mendorong tersebut dengan meluncurkan Bantuan Operasional Perguruan Tinggi Negeri (BOPTN) dan kebijakan uang kuliah tunggal (UKT), serta peningkatan jumlah penerima beasiswa Bidik Misi. Selain ketiga kebijakan tersebut, Kementerian dalam beberapa tahun terakhir telah membuka beberapa perguruan tinggi di luar Pulau Jawa. Termasuk yang mulai dirintis adalah pendirian Akademi Komunitas yang akan didirikan minimal satu di setiap kabupaten/kota, sebagaimana diamanatkan dalam UU No. 12 tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi.

Semua itu dilakukan tentu untuk meningkatkan akses seluas-luasnya bagi seluruh putra putri bangsa ini dalam mengenyam pendidikan. Dan hal ini adalah langkah untuk meningkatkan potensi sumber daya manusia guna membangun bangsa di segala bidang yang pada akhirnya dapat membawa Indonesia ke peradaban yang lebih baik.

Sebagai insan akademik, yang nantinya terjun mengabdi dalam dunia pendidikan, tentu kita jangan pernah kehilangan rasa opimisme untuk memajukan dunia pendidikan kita. Segudang permasalahan yang masih menyelimuti dunia pendidikan kita, harus menjadi pemicu semangat kita semakin tinggi untuk memeprbaiki kekurangan-kekurangan dalam pendidikan kita, jangan sebaliknya menjadi optimisme kita semakin luntur karena itu hanya akan semakin memperparah dunia pendidikan dan pada akhirnya para putra putri penerus bangsalah yang menjadi korban. MAU ANAK CUCU KITA JADI KORBAN PENDIDIKAN KITA? Jawaban kita tentu TIDAAAK! Makanya mari kita tetap SEMANGAAAT!

[o]

Sabtu, 31 Januari 2015

Nyawa Tumbuhan

“Aku bisa ngobrol sama tumbuhan,” kata Sutri. Aku yang lagi santai menikmati kehangatan mentari pagi sambil menyiram kembang pun terperanjat, “Tenane Sut?! Ente bisa ngomong sama tanduran?!” cecarku. “Bukan, tapi bapaknya temenku bisa ngobrol sama tanaman-tanaman,” sahutnya. Oalaah. Tokoh kita satu ini ngomongnya memang kadang tak jelas. Entah karena lidahnya keseringan salto atau kebanyakan ngemut knalpot, bicaranya jadi kayak ibu-ibu arisan; ribet.
Pagi itu kondisiku sudah lumayan segar meski masih lemas dan pegal-pegal, sisa kumat GERD malam sebelumnya. Dua malam lalu, aku muntah-muntah, pusing dan tak bisa tidur sampai dini hari gara-gara masuk angin overdosis sehingga memicu asam lambungku naik. Nah, saat itulah Sutri ini yang jadi dewa penolong, sigap ngerok dan mijet sampai aku bisa tertidur lelap.

“Jadi gini,” lanjut Sutri yang lebih suka dipanggil Cahyo, “Di kampung, aku punya temen main, nah temenku itu punya bapak. Lha bapaknya temenku itu bisa ngobrol sama tumbuhan.”

“Ente pernah liat?”

“Nggak sih. Si Bapak itu ngobrolnya kalau lagi sepi aja. Tapi keluarganya itu sering mergoki pas dia lagi ngobrol sama pohon atau bunga-bunga. Temenku itu cerita begitu.”

“Wow.. Terus apa yang diobrolin?”

“Ya nggak tau lah.”

“Itu Bapaknya stress atau gimana, Sut?”

“Ngawur! Normal yoooh! Bapaknya itu baik banget malah, kalau kami mampir dolan ke rumahnya pasti kenyang. Ya memang keluarga berkecukupan, tapi ya nggak kaya banget. Dia punya usaha jagal dan ngajar ngaji juga di surau. Pas meninggalnya, orang sekampung liat wajah Si Bapak mencorong dan tersenyum.”

Sutri mengucapkan kata terakhir sambil mempraktekkan senyumnya yang cetar membahana. Kawan-kawan memang melabelinya dengan sebutan ‘Shohibul Mesem’ sangkin overdosisnya dia mesem. Lalu aku bertanya lagi,

“Kalau cerita itu benar, berarti tumbuhan juga bernyawa ya, Sut? Atau jangan-jangan Si Bapak ngobrol sama jin yang kebetulan menghuni tumbuh-tumbuhan itu?”

“Oh bukaan! Beliau itu memang ngobrol sama tumbuhan. Karena segala makhluk itu juga bertasbih berdzikir kepada Allah dan bernyawa. Termasuk tumbuhan. Kamu tahu nggak, dulu itu banyak pepohonan yang meliuk menaungi Kanjeng Nabi Muhammad. Bahkan ada wali yang bisa mengetahui manfaat suatu tumbuhan karena dikasi tahu oleh tumbuhan itu sendiri,” terang Sutri bersemangat, mirip motivator.

“Lhah Sut,” sambungku, “Katanya orang-orang yang ngrowot itu nggak boleh makan makhluk bernyawa, yaitu hewan. Berarti tumbuh-tumbuhan termasuk makhluk tak bernyawa dong?”

“Ooh bukan begitu, berarti kamu salah paham, ckckck,” sanggahnya dengan muka sengak.

“Lha njur piye?”

“Maksudnya makhluk bernyawa dan tak bernyawa itu bukan seperti yang kamu pahami. Maksudnya makhluk bernyawa dan nggak boleh dimakan sama yang ngrowot itu adalah makhluk yang musti disembelih dulu sebelum dikonsumsi. Misalnya kamu mau makan paha ayam, ya kamu harus sembelih ayamnya dulu. Kalau kamu langsung potong kakinya dan biarkan si ayam hidup, ya kasihan dong. Maka kamu harus sembelih dulu. Dengan memotong satu bagian tubuh, merugikan seluruh bagian makhluk itu. Nah, kalau yang dimaksud dengan makhluk tak bernyawa semisal tumbuhan itu ya sebaliknya. Kamu bisa mengonsumsi daun singkong tanpa merugikan si pohon singkong. Bahkan bagus, dengan dipetiknya si daun singkong maka si pohon singkong bisa jadi lebih subur dari sebelumnya. Dengan memotong satu bagian makhluk itu, tidak menganiaya seluruh bagiannya yang lain. Begitu..” papar Sutri panjang lebar.

Aku manggut-manggut saja. Masih merasa ada sesuatu yang janggal tapi enggan kuutarakan. Bisa berabe kalau ngeyel di hadapan Sutri pagi-pagi cerah begini. Tiap argumen yang kulempar bisa jadi bumerang yang justru nggepuk kepalaku sendiri. Dia memang cocok jadi pengacara. Lagipula pagi hari nggak cocok buat eyel-eyelan. Cocoknya buat dengerin irama kicau burung-burung, menikmati hinggapan manja kupu-kupu, menemani kembang-kembang yang ‘ngulet’ baru bangun, dan suap-suapan sarapan buah sama kamu, Dek. *aa.. aa.. aaeem..*

Bicara tumbuhan, berarti bicara senior kita di muka bumi. Untuk membuktikan secara saintifik ada atau tidaknya nyawa dalam tumbuhan sama sulitnya membuktikan ada-tidaknya nyawa dalam diri manusia. Sutri meyakini bahwa tumbuhan dan makhluk apapun memang bernyawa, tidak hanya manusia. Sedangkan nyawa yang dimaksud di sini adalah energi kehidupan yang ditiupkan oleh Tuhan. Maka tidak sepatutnya manusia memperlakukan tumbuhan seenaknya. Sutri seringkali sewot kalau melihatku nyiram kembang kesiangan, dzalim katanya.

Ah daripada ngeyel, aku lebih memilih menceritakan kepada Sutri tentang satu buku keren yang membahas hal ini, yakni ‘Secret Life of Plant’ karya Peter Tompkinn dan Christopher Bird. Juga tentang ilmuwan yang konsen dalam bidang ‘metafisik tumbuhan’, sosok eksentrik asal Jerman; Gustav Theodor Fechner.

Nah, Pak Fechner ini sebenarnya adalah dokter merangkap profesor fisika di Universitas Leipzig. Dia mulai tertarik mengamati sisi metafisik tumbuhan sebab suatu pengalaman menarik. Pada tahun 1989, Fechner mulai memandangi matahari dengan mata telanjang, niatnya hendak mempelajari fenomena after-image, yakni gambar-gambar aneh yang tampak tetap ada di retina mata meski telah hilangnya stimulus pandangan normal. Beberapa hari melakukan hal ini, ia kaget ketika menyadari bahwa matanya mulai buta. Iseng banget dia. 


Merasa terguncang karena tak bisa melihat lagi dan letih menumpuk, ia menyendiri untuk beristirahat dalam sebuah kamar gelap dan mengenakan topeng di wajahnya. Dalam ruangan itu, ia terus menerus berdoa sebagai seorang pemeluk Kristen. Berapa lama dia menyendiri? Tiga tahun saudara-saudara! Mengapa tidak ada yang menemaninya? Ah entahlah, mungkin karena dia jomblo.

Keajaiban terjadi. Pagi hari di musim semi tiga tahun kemudian, ketika merasakan penglihatannya telah pulih, Fechner keluar menuju cahaya. Dengan bahagia ia berjalan sepanjang sungai Mulde dan seketika menyadari bahwa bunga-bunga dan pohon-pohon sepanjang tepi sungai menyapanya. Ia menyebutnya dengan istilah ‘be-souled’ (diberi jiwa).

“Ketika aku berdiri di tepi air dan memandangi sekuntum bunga, seakan-akan aku melihat jiwanya naik dari kumpulan bunga, melayang-layang melintasi kabut, hingga nampak jelas bentuknya. Ia bertengger di atas kuncupnya, mungkin agar dapat lebih menikmati cahaya matahari,” tutur Fechner.

Ia pun mulai tertarik dengan kawan-kawan barunya, ya, tumbuh-tumbuhan. Dan makin tak tertarik dengan pergaulan sesama manusia. Fechner menulis sekumpulan kesan-kesannya selama berinteraksi dengan tumbuhan dalam sebuah buku bombastis berjudul ‘Nanna or The Soul-Life of Plants”, diterbitkan di Leipzig tahun 1848 dan –tentu saja- ditertawakan para ilmuwan. Judul buku ini terinspirasi dari sebuah kisah mitologi Teutonic Jerman, yakni ketika Si Baldur, dewa cahaya, iseng-iseng ngintip putri bunga yang bernama Nanna lagi mandi. Karena terpesona, perkawinan antara cahaya dan bunga pun dilangsungkan. Nama ini mengingatkanku pada nama istrinya Mbah Kamijo, jangan-jangan nama asli simbah adalah Baldur.


Pola komunikasi dengan makhluk hidup selain manusia memang masih asing bagi kita. Seperti kisah bapak temannya Sutri maupun pengalaman Mister Fechner. Bahkan cenderung ditertawakan, semisal ngobrol dengan marmut, bincang pagi dengan pohon jati, atau gendu-gendu roso sama genderuwo. Apalagi bagi yang memakai pendekatan sains polos, tanpa menggunakan perspektif lain. Meskipun belakangan muncul istilah Zona Kesadaran Kuantum tentang kemungkinan berkomunikasi dengan makhluk-makhluk lain termasuk tumbuhan.

Ah repot amat, kalau aku sih percaya saja. Tapi ya sekedar percaya, bukan untuk apa-apa. Segala keberadaan makhluk yang nisbi di alam raya ini masih dalam garis kemungkinan, atau istilahnya; jaa-iz. Bisa iya, bisa tidak. Tidak aneh dan biasa saja. Tidak lantas digumuni berlebihan apalagi dipuja-puja dan dijunjung-junjung. Namun hal yang musti kita sadari adalah bahwa kita tidak sendirian di alam raya ini, kita semua saudara kandung dari rahim ketiadaan. Segalanya saling terhubung dalam suatu sistem yang rumit nan cantik.

Sebagai penutup, ada pemikiran menarik dari Fechner dengan pandangannya yang unik. Dalam buku ‘Little Book of Life After Death’, ia mengemukakan gagasan bahwa kehidupan manusia berada pada tiga tingkatan. Pertama, tidur terus menerus, yakni sebelum dilahirkan. Kedua, ngelilir atau setengah terbangun, yaitu ketika hidup di alam dunia. Dan ketiga, terbangun sepenuhnya, inilah masa setelah mati. Teori yang mirip ungkapan Sayyidina Ali bin Abi Thalib; “An-naasu niyaamun wa idzaa maatuu intabahuu (manusia dalam keadaan tidur, ketika mati, terbangunlah mereka).”

Fechner juga mengungkapkan gagasan menarik dalam ‘Comparative Anatomy of the Angels’. Wuih judule nggilani dab! Dalam buku itu, ia torehkan bagaimana upayanya melacak jejak evolusi mulai dari organisme bersel satu melalui manusia menuju makhluk yang –secara anatomi- lebih tinggi berupa malaikat. Bentuknya menyempurna semakin utuh dan mampu melihat gravitasi universal sebagaiana manusia mampu melihat sinar. Makhluk yang berkomunikasi bukan dengan getaran suara melainkan dengan simbol-simbol cahaya. Ini persis yang diungkapkan Rumi dalam puisinya;

"Aku mati sebagai mineral dan menjadi tumbuhan,
Aku mati sebagai tumbuhan dan muncul sebagai hewan,
Aku mati sebagai hewan dan aku menjadi Insan
Mengapa aku mesti takut? Bilakah aku menjadi rendah karena kematian?
Namun sekali lagi aku akan mati sebagai Insan,
untuk membumbung bersama para Malaikat."

Sampai berbusa mulutku pagi itu bercerita kepada Sutri tentang psikofisik, universalitas ciptaan, filosofi bunga dan beberapa potong isi buku Petuah Pohon (ngiklan nih, hihi). Eh orangnya malah selonjor ngorok. Ncen su og!

~
Krapyak, 31/01/2015

Rabu, 21 Januari 2015

Profesi Pengabdian

Kau tahu nama tokoh yang diangkat Kang Abik dalam novel ‘Api Tauhid’? Ya, nama pemuda yang duduk sok mikir di sampingku ini mirip dengan tokoh itu; Sayd Nursiba. Mungkin bapaknya kagum dengan tokoh sufi revolusioner asal Turki itu, Said Nursi Badiuzzaman, dan berharap putranya ini bisa meneladani kecerdasan intelektual, ketangguhan perjuangan dan ketajaman spiritualnya. *Ngimpi ya, Pak? :p
Beberapa malam lalu, sebagaimana malam-malam sebelumnya dan malam-malam yang akan datang, Sayd ndobos ngalor ngidul di kamar kosku. Bersama pasangan homonya, Fahmi, ia membincangkan tentang kerja. Nah, aku yang lagi ngetik pun kebagian nguping. Beginilah enaknya kalau punya kawan-kawan cerdas, meskipun kau tak baca buku, kau tetap bisa kulak pengetahuan dan pemahaman baru.

Sebagaimana pernah dikeluhkan Pramono yang sama sekali tidak punya hobi baca buku, maka kusarankan untuk perbanyak ngobrol tentang hal-hal spesifik dengan orang-orang yang memang bergelut dalam hal-hal itu. Biar orang-orang itu yang baca buku dan mengalami laku, kau tinggal gali intisarinya, toh mereka pun tidak akan menolak, bahkan dengan senang hati ngoceh kesana kemari. Karena biasanya, dengan menyampaikan apa yang sudah dipahami, mereka pun bakal mendapatkan pemahaman baru. Begitulah ajaibnya ilmu.

Kebetulan, Sayd mengajar secara honorer di sebuah institusi pendidikan di kampungnya. Kuliahnya belum lulus, masih tahap pengajuan skripsi. Ia juga menangani advertising beberapa usaha, mulai dari packaging hingga clothing. Maka setiap hari dia keliling dari kantor ke kantor, penerbit ke penerbit, pabrik ke pabrik, untuk ngglembuk sekaligus membangun relasi bisnis. Sedangkan Fahmi sudah jadi sarjana komunikasu, sambil bekerja menjadi guide bagi para bule yang melancong ke negeri kita tercinta. Sungguh pemuda-pemuda idaman mertua.

Nah, malam itu mereka –dengan begitu mesra- saling curhat tentang pekerjaannya masing-masing. Aku pun melipir di sudut ruangan, takut mengganggu momen romantis mereka. Hahaha.


Menurut mereka, profesi adalah segala jenis kegiatan yang menjadi pekerjaan sebagai mata pencaharian, praktisnya; pekerjaan yang menghasilkan uang. Berbeda dengan pengabdian yang murni sebagai lahan penumpahan kreativitas tanpa mengharapkan timbal balik material. Setiap orang musti paham bedanya, sehingga hidupnya tak melulu material dan hampa.

Sebagai guru dan ustadz TPA, Sayd menganggapnya sebagai pengabdian. Sedangkan kegiatannya mondar-mandir kesana kemari, ia jadikan sebagai profesi dan seni bertahan hidup. Istilah yang sering kami gunakan di sini; upaya menjemput rejeki. Maka dia membagi betul waktu dan porsi energi agar pengabdiannya di sekolah tidak terbengkalai akibat terlalu ruwet dengan urusan profesi. Dia termasuk penganut paham sekuler; profesi ya profesi, mengabdi ya mengabdi.

Lalu bagaimana dengan orang yang menjadikan profesinya sebagai pengabdian? Atau sebaliknya, memosisikan lahan pengabdiannya sebagai profesi? Ya sah sah saja. Asalkan dia harus mencurahkan segenap energi jiwa sebagai totalitas berkarya. Menjadikan pengabdian guru sebagai profesi? Silakan, asalkan betul-betul mendidik dan menjadi teladan, tak sekedar mengajar dan menunggu gaji bulanan. Jadi pegawai negeri sebagai pengabdian? Ya silakan, berarti harus betul-betul taat aturan dengan niat melayani kepentingan rakyat tanpa korupsi dan tindakan indisipliner. Ini bagi yang menganut paham unifikatif, memadukan antara profesi dan pengabdian.

Baik sekuler atau univikatif memiliki konsekuensi masing-masing. Bagi sekularis, ia harus mampu membagi waktu agar pengabdiannya tak kalah oleh kesibukannya cari duit. Sekaligus jangan sampai menjadikan pengabdian itu sebagai alasan kekacauan perkembangan profesinya. Banyak guru yang menelantarkan tugas pengabdiannya karena sibuk berbisnis. Konsekuensi bagi orang yang memadukan antara profesi dan pengabdian pun tak ringan, ia harus optimal dalam bidangnya itu dan tak sekedar menumpang hidup. Karena seperti kata Hamka; kalau hidup sekedar hidup, tikus saja bisa.

Namun alangkah baiknya jika setiap orang, sesibuk apapun dengan lapangan profesinya, tetap menyempatkan energi dan meluangkan waktu untuk pengabdian yang ada di luar profesinya itu. Di manapun dalam bidang apapun sesepele bagaimanapun. Karena seberlimpah apapun seseorang, tetap saja akan ada lubang besar dalam jiwanya jika tak meluangkan energi untuk mengabdi.

Malam tadi, wajah Sayd nampak sumringan setelah dicharge secara spiritual oleh Kang Rizal. Selepas wiridan Ratib al-Haddad di kos wetan Kandang Menjangan hamba dalam rangka ‘Mencangkul di Langit’, ia menggali motivasu dari Kang Arif sebagai sama-sama pengusaha muda. Tentu saja, setelah membantai gorengan, ia pamit pulang dengan meninggalkan selembar brosur ekspedisi. Isinya begini; Bagi kawan-kawan yang ingin mengirimkan barang apapun, antarkota antarpulau, baik via darat, laut atau udara, atau berminat bikin kaos berkualitas untuk pribadi, geng dan instansi, silakan hubungi Mr Sayd dengan hotline 0857 8635 8555. Pelayanan terjamin! *Iklan gratisan*

Selaras dengan motto almarhum Bob Sadino, ia beranggapan bahwa segala makhluk yang ada di muka bumi bisa dijadikan lahan bisnis, jadi duit. Apalagi setelah dia nonton film PK yang dibintangi Aamir Khan itu, bisnis ketakutan bertopeng agama ternyata sangat menggiurkan.

“Ayo Zi, ente sediakan air putih, cari menyan yang murahan, terus pasang gentong celengan di pintu masuk. Nanti biar ane yang blusukan pencitraan. Ane cari pasien yang lagi galau, terus ane bawa ke sini, nah ente ekting jadi dukun ampuh, tinggal pake software primbon sama air keran dan rambut gondrong. Bam bam bolee bam bam bolee.. Nanti hasilnya fifty-fifty. Gimana?”

Ndasmu renyah ‘id!

~
Krapyak, 21/01/2015

Sabtu, 10 Januari 2015

Berburu Mertua

Sosok yang berdiri di sampingku ini bukan Patung Gupolo yang biasa ditemui di gerbang candi lho ya. Namanya Budi, kalian yang pernah sekolah SD pasti familiar dengan nama ini. Ya, dia temannya Inu, Ani, Badu, Yustito, dan tokoh legendaris lain di Buku Bahasa Indonesia. Hehehe.
Sekedar bocoran, Budi ini masih jomblo, food combiner, santri kalong, humanis relijius, jaket kuning, filsuf rocker yang sedang nyemplung dalam eksotisme perbatikan, asli Tegal dan ngantor di Pekalongan.
[Bud, satu porsi lotek buat honor promo!]

Mungkin betul apa yang dikatakan Budi beberapa waktu lalu bahwa kriteria orang tua terhadap calon menantu dibentuk oleh atmosfer zamannya. Pada umumnya, tren calon menantu favorit bagi orang-orang tua yang tumbuh di zaman kemerdekaan mungkin adalah anak muda yang kuat dan militan. Saat itu predikat sarjana sama sekali tak menjadi perhitungan, bahkan sama sekali tak populer.

Namun bagi orang tua yang dibesarkan di era orde baru dengan berbagai kenyamanan sosial-ekonomi, bakal mengidolakan calon menantu yang mapan secara finansial. Wadah pendidikan berupa sekolahan telah sukses melambungkan pemuda-pemudi yang bergelar sarjana ke posisi menantu idaman. Pegawai negeri juga jadi favorit pada masa itu, bahkan mungkin hingga hari ini.

Lalu bagaimana dengan orang-orang tua yang menangi era reformasi? Bagaimana tren calon menantu favorit bagi mereka? Bisa jadi sangat berbeda dengan orang-orang tua sebelumnya. Kreativitas dan progresivitas akan menjadi tolak ukur baru bagi mereka dalam menyeleksi calon menantu. Sarjana atau bukan tak lagi penting.

Perkara ini menjadi penting untuk dibahas bagi pemuda-pemudi yang saat ini masih jomblo dan sedang mengatur strategi invasi perburuan jodoh. Karena penaklukan calon pasangan hidup masih belum tuntas tanpa penaklukan calon mertua. Hahaha.

Setelah menelaah berbagai macam tren ini, Budi menyimpulkan bahwa ada dua jenis ukuran bagi orang tua dalam menyeleksi menantu.

Pertama, ukuran ‘mutlak’; berupa sikap, kemandirian dan tanggung jawab. Artinya, saringan awal bagi calon menantu adalah sikap atau attitude sebagai calon anak. Serta kenyataan bahwa dia sanggup mandiri untuk berpenghidupan, apapun bentuk aktivitasnya. Selain itu, keberanian untuk segera menyerbu langsung pihak orang tua adalah bentuk keseriusan dan tanggung jawab. Ketiga hal ini menjadi variabel primer yang selalu berlaku dimanapun dan kapanpun, universal.

Kedua, ukuran ‘relatif’, berupa jenis pekerjaan, besar penghasilan, tampang, jenjang pendidikan, sarjana atau bukan, santri atau bukan, maupun keturunan. Semua ini menjadi variabel-variabel sekunder yang sangat subyektif dan dipengaruhi atmosfer hidup si orang tua. Sebagaimana sudah disinggung di atas.

Nah, menurut Budi, sebaiknya para jomblo masa kini tidak usah minder dan memusingkan variabel-variabel sekunder ini. Kau cukup mempersiapkan sebaik mungkin tolak ukur universal berupa kemandirian dan tanggung jawab. Bukan berarti kau harus kaya raya dan berpenghasilan besar, bukan. Setidaknya ada kasab yang bisa kau kerjakan, boleh tetap atau serabutan, boleh jadi pegawai atau wirausaha.

Tetapi tidak semua orang yang sudah mandiri bisa bertanggung jawab. Karena hal ini tidak sekedar berkaitan dengan urusan kelamin dan isi perut. Tapi juga tentang ketenteraman batin dan kebahagiaan hidup. Maka rasa tanggung jawab kemudian menjadi syarat penting bagi kesiapan seseorang.

Kalau kau merasa sudah siap dengan kedua hal itu, ya sudah mandiri sekuatmu, ya sudah bersedia tanggung jawab semampumu, maka segeralah sikat! Biar tak galau terus menerus. Kalau secara riil memang belum siap, ya jangan buru-buru. Kecuali kalau kau anak bangsawan yang selalu disuapi seumur hidup.

Nah para jomblo, jangan galau! Persiapkan saja tolak ukur primer itu sebaik mungkin. Persis yang diucapkan Budi;

“Kalau sudah mantap dengan sikap gentle, karakter mandiri dan tanggung jawab, maka sejelek apapun tampangku, sekacau bagaimanapun latar pendidikanku, ah orang tua mana sih yang bakal sanggup menolak lamaranku?”

Tapi Bud, masalahnya, ada nggak anak gadis yang mau sama kamu? :p

~
Malam Minggu Kedua, Januari 2015

Minggu, 21 September 2014

Api Adalah ...

Kos Kandang Menjangan, Sabtu 21 September 2014 | Penyaji: Akwal Sadida
Monster yang ngumpul malam hari ini ada sembilan ekor. Sabtu malam minggu, 27/9/2014, markas hamba di wetan Kandang Menjangan diserbu penDuduk yang berkategori JOMBI alias Jomblo Durung Rabi.

Seperti biasa, ritual cangkeman diawali dengan terapi otak yang sekaligus bisa menyegarkan otot-otot mulut dan perut. Mursyid tunggal terapi ini adalah Jombi Irfan yang merupakan humas dari Padepokan Jagat Lelembut Sunan Ampel Kotagede.

Selanjutnya, Jombi Fahmi berkisah tentang pengalamannya nyedot rokok sehat semasa magang di Djarum Kudus. Kemudian ia melontarkan pertanyaan sederhana tentang api; kalau air adalah materi yang memiliki unsur Hidrogen dan Oksigen, maka bagaimana dengan api?

Jombi Farid berpendapat bahwa api adalah bentuk pelepasan energi yang sama seperti cahaya. Sehingga antara setan dan malaikat memiliki kemiripan dalam hal unsur pembentuknya; energi misterius. Tapi perlu diingat bahwa cahaya berbeda dengan sinar. Sinar adalah energi yang muncul, sedangkan cahaya adalah sinar yang terpantul.

Jombi Sayd menanggapi, api bukanlah energi, melainkan materi hasil oksidasi yang tentu saja melibatkan oksigen. Jadi, api terjadi dari oksigen. Kira-kira, apalagi yang menjadi penyeab terciptanya api?

Jombi Muhidin menjawab; bahan bakar! Tapi apakah oksigen dan bahan bakar bisa begitu saja menimbulkan api? Ternyata tidak. Ada satu unsur lagi yang harus ada, yaitu; panas. Nah, kalau sudah ada tiga unsur tersebut, tinggal satu hal yang diperlukan untuk membuat api, yaitu reaksi kimia antara oksigen dan bahan bakar yang dipantik oleh panas.

Jombi Milyun yang sedari tadi mengedip-ngedipkan mata dan mencumi-cumikan mulut demi menarik simpati Mukid, akhirnya bersuara. Ia mengatakan; berarti, tubuh manusia sangat mungkin memproduksi api jika bisa mengendalikan unsur-unsur pembentuk api dalam dirinya, yaitu oksigen, bahan bakar, dan panas. Seperti kisah para pendekar di masa lalu.

Jombi Zia berusaha mempraktekkan teori ini, yakni mengeluarkan segenap energi untuk mengeluarkan api. Namun sayang, ia gagal. Justru yang terbentuk adalah reaksi hidrolik dari usus besar, lalu keluar dari anus berupa kentut, langsung dihirup Jombi Nasrullah yang kebetulan bersandar di pantatnya.

Setelah menabrak kebuntuan selama beberapa detik tentang bagaimana reaksi kimia antara oksigen - bahan bakar - panas, kami mendapatkan jawaban. Karena malam itu, untungnya, hadir Jombi Sadida yang jauh-jauh ngepit dari UGM ke Krapyak untuk berbagi ilmu. Ia menerangkan secara gamblang dari sudut pandang Fisika tentang bagaimana api terwujud. Berikut ini penjelasannya;

"...$#@&%$(&%$# @$&()(&#@#$%&#@$ #@&%$(&%$#@$&()(&#@#$% &#@$#@&%$(&%$#@ $&()(&#@#$ %&#@$#@&%$( &%$#@$&()(&# @#$%&#@$#@&%$( &%$#@$&()(&#@ #$%&#@$#@&%$(&%$#@ $&()(&#@#$%& #@$#@&%$(&%$ #@$& ()(&#@#$%& #@!}{}?..."

Jelas, 'kan?
[o]