Jumat, 20 Februari 2015

Ilmu atau Pengetahuan?

Di semester-semester awal dahulu aku masih sering mampir di masjid kampus. Sholat Dhuha? Nggak sih, Cuma buat nunggu jam-jam kuliah berikutnya sambil –tentu saja- bobok manis. Bagi punggung lelahku saat itu, buntelan tas buluk bisa seempuk bantal kapuk, lantai keramik masjid sama nyamannya dengan spring bed kelas raja. Serasa tuntas segala masalah asmara di dunia. *uhuk!

Biasanya menjelang waktu shalat Dzuhur, petugas takmir keliling men-sweeping para gelandangan macam kami. Tapi kalau tidurnya selepas jamaah shalat Dzuhur, tentu kemungkinan besar aku bakal mbablas sampai Ashar, padahal masuk kelas jam dua, misalnya. Nah, di saat-saat kritis seperti itulah biasanya teman-temanku yang jadi alarm untuk membangunkan. Bastian inilah salah satunya.

Rambutnya agak kriwil, kulit lumayan cerah meskipun nggak secerah kulitku, ngahaha, dan ngomongnya kadang ribet. Tapi ya masih mending ketimbang Sutri Si Sohibul Mesem itu. Asli Godean. Di facebook namanya Bastian Ev’, entah apa kepanjangan inisial ‘Ev’ itu, mungkin singkatan dari ‘Emang vekok’ atau semacamnya.

Dia sudah lulus kuliah (aku belum, mungkina karena kebanyakan tidur), sekarang ia mengajar di sebuah SMK yang sangat menantang. Bukan hanya sebab tipe anak-anak ‘liar’ yang dihadapinya, tetapi juga karena lingkungan pengajar yang susah diajak move on kayak pemuda yang patah hati. Ciaaa!

Di sekolah tempatnya mengajar ini, Bastian begitu bersemangat mengajak murid-muridnya untuk percaya diri. Jangan minder dengan sekolahan lain yang banjir ‘tropi prestasi’. Meskipun dia guru agama dan sudah diangkat sebagai ‘kiai’ di sana, ia juga sanggup mengajar teknik mesin karena di situlah passion-nya.

Belakangan, dia sedang membimbing beberapa siswa membuat alat detektor pengairan tambak ikan dengan teknologi sensor untuk diikutkan dalam lomba bergengsi. Konon, lomba terakhir yang berhasil dimenangkan di sini adalah lari marathon, itupun beberapa millenium lalu. Hahaha. Kalau bisa juara dalam satu mata lomba ini, ia berharap bisa mengangkat kepercayaan diri siswa dan para guru. Hadiahnya sendiri, menurut Bastian, tidak terlalu penting.

Mengajar anak-anak ‘liar’ tak segampang mengajar siswa penurut di sekolah-sekolah favorit. Beberapa kali ia sudah pernah ditantang tarung oleh muridnya. Sebagai petarung Tae Kwon Do, tentu Bastian tak gentar dengan ancaman semacam itu. Tapi sebagai guru, ia mulai belajar mempertimbangkan sikap dan etika. Kini ia lebih suka ngobrol santai di kelas dan mendengarkan keluh kesah muridnya ketimbang mengajar materi-materi agama. Sebab itulah, salah seorang guru senior menegurnya karena selama beberapa minggu ia tak kelihatan menggunakan kapur dan papan tulis.

Pelajaran agama sudah ada bukunya, siswa setingkat sekolah menengah atas semestinya tinggal membaca dan kemudian didiskusikan di kelas bersama guru. Tapi minat untuk membaca dan mendiskusikan itulah yang belum tumbuh. Maka tugas guru adalah menciptakan atmosfer nyaman antara guru dan murid, bukan sekedar sebagai teman, tapi sebagai pembimbing. Dari interaksi ini kemudian tumbuh minat dan peluang untuk diskusi materi pelajaran. Demikian yang diterapkan Bastian di sembilan kelas bimbingannya.

Lagipula, menurutnya, untuk model siswa-siswa ‘liar’ semacam itu, kompetensi yang dituju seharusnya tidak disamakan dengan sekolah-sekolah bersiswa santun. Jika di sana memburu pencapaian pemahaman terhadap materi, maka di sini cukup untuk memperhalus budi pekerti.

Pemikiran cemerlang nan sikap bijak ini, katanya, ia dapatkan dari diskusi rutin Selingkar yang legendaris itu. Torehan-torehan diskusi dalam komunitas itu sudah tertuang rapi dalam buku Duduk Selingkar yang bisa dipesan melalui nomor 085728253141 (Diandra). *Iklan woy!

Benar kata orang bahwa kedewasaan berkembang seiring pengalaman. Maka aku bersaksi bahwa Bastian saat ini sudah naik level dari Bastian culun yang kukenal lima tahun lalu di pojok masjid. Jelas dia jauh jauh jauh lebih keren daripada Bastian Steel yang sering nampang di tipi.

Oiya, kabar gembira buat remaja putri! Setahuku, Bastian ini masih jomblo dan siap menyambut kehadiran pendamping untuk mewarnai hari-harinya yang suram, model akhwat-akhwat lincahlah yang dia idam-idamkan. Berminat? Langsung inbox saja orangnya. Hahaha.

~

Oke, cukup promonya, kembali ke serambi masjid. Di tiang sebelah selatan mepet hydrant, kami sering ngobrol ringan. Mulai dari materi kuliah, pengalaman hidup, passion, hingga hal-hal sepele mengapa banyak banget upil-upil menempel di bawah meja-meja kelas dengan teksturnya yang selalu saja menggemaskan.

Dari sekian banyak rekaman obrolan di kepalaku, bisa kusimpulkan bahwa Bastian ini sosok mekatronik yang kesasar di fakultas pendidikan. Sering banget di sela obrolan mengenai agama dan teknis-teknis ibadah, Bastian mengungkapkan stetmen pesimistis tentang pengetahuan agamanya yang begitu minim. Lalu mulai membanding-bandingkan antara aku yang memang dari kecil ngemil bangku madrasah dengan dia yang hanya jebolan rohis SMA. Mana pantas jadi guru agama, katanya.

“Lhah, apakah agama itu hanya tumpukan materi, Bas?” tanyaku. Kemudian dia menghujaniku rentetan argumen dengan gerakan kepala mirip boneka Unyil. Menurutnya, adalah suatu keniscayaan bagi seorang calon guru agama untuk menyimpan ratusan atau ribuan file tentang dalil-dalil di memori otaknya. Sementara dia, justru lebih paham rangkaian listrik dan aplikasi software daripada skema wudhu dan tayammum.

Lalu aku bertanya padanya tentang alat yang ia buat sebagai karya skripsi. Ia pun menjelaskan tentang satu kotak mekanik hitam yang kusebut dengan ‘Pijit Nikmat’, heuheu. Jadi dengan alat itu, seorang siswa bisa ‘bermain’ pertanyaan-pertanyaan tentang materi agama tanpa harus menggunakan kertas dan pulpen. Ada beberapa tombol di sana untuk beragam fungsi. Pertanyaan dan jawaban pun bisa diupdate dengan laptop, tinggal colok dan input. Perolehan poin pun bisa langsung tertampilkan di monitor plasma sederhana si kotak. Jika jawaban siswa salah, kotak itu akan berbunyi ‘Oh No!’ dan jika benar, ‘Oh Yes!’. Fufufufu.

Bastian menjelaskan panjang lebar tentang cara kerja alat itu, teori maupun teknisnya. Aku melongo sambil garuk-garuk brewok. Lalu kutanggapi. Aku tidak tahu menahu barang sebiji upilpun tentang alat dan teknis semacam itu. Pengetahuannya tentang mekanika yang aplikatif secara otodidak tidak kalah dengan pengetahuan agamaku yang kubawa dari madrasah dan sangat terbatas. Tapi ‘kan, tanya Bastian, pengetahuan agama itu lebih mulia daripada pengetahuan mekanika? Artinya, orang yang lebih banyak tahu tentang agama secara otomatis lebih mulia ketimbang orang lain.

Pernyataan Bastian ini jelas mencerminan cara berpikir khas orang eksak. A sama dengan B, B sama dengan C, maka A sama dengan C. Siapa bilang? Gugatku. Menurut penelaahanku, kiai-kiai dan tokoh-tokoh agama di kampung maupun berbagai belahan dunia manapun dimuliakan masyarakat bukan sekedar sebab pengetahuannya. Melainkan sebab pengamalannya terhadap pengetahuan dan pengayomannya terhadap masyarakat. Nah, orang-orang seperti mereka tidaklah banyak. Kalau orang dengan wawasan agama bertumpuk sih banyak berceceran di kampus-kampus semacam UIN.

Memang benar bahwa pengetahuan agama bisa menuntun seseorang pada kesalehan dan kejernihan diri. Tapi apa selalu begitu? Bagi cara berpikir eksak; lhoh, mestinya orang yang banyak tahu agama adalah orang yang paling baik tingkah lakunya dong, maka sebab itu, ia orang yang paling layak dihormati. Sayangnya, bunga tak selalu harum dan capaian wawasan memang tak berbanding lurus dengan penghayatan.

Kalau yang diandalkan sarjana agama sekedar asupan-asupan materi dan data-data di kepala, itu hanyalah menjadi ‘pengetahuan’ agama, belum menjadi ‘ilmu’. Lhoh, memang beda ya ‘pengetahuan’ dan ‘ilmu’? Oke, kita bahas.

Dalam Bahasa Indonesia, istilah ‘pengetahuan’ sering dibersamakan dengan ‘ilmu’, menjadi ‘ilmu pengetahuan’, sehingga maknanya setara dan sebatas lahir. Memang iya bahwa ‘ilmu’ dalam Bahasa Arab secara literer berarti ‘pengetahuan’. Orang yang tahu disebut ‘aalim’ (diserap jadi ‘alim’), objek yang diketahui disebut ‘ma’lum’ (diserap jadi ‘maklum’), dan pengetahuan yang dimaksud disebut ‘ilmu’. Namun ada pemaknaan lain dalam konteks keagamaan.

Kalau sekedar harfiah, istilah ‘ulama’ (bentuk jamak dari ‘aalim’) hanya akan diartikan sebagai; orang-orang yang mengetahui hal-hal spesifik secara mendalam. Artinya, kumpulan rapat para pakar fisika di suatu ruangan bisa disebut sebagai konferensi ulama. Namun kita punya pemaknaan secara istilah yang tak berhenti pada arti harfiah.

Di dalam Islam, pengetahuan sejati adalah pengetahuan yang mengantarkan segenap kesadaran menuju ketundukan kepada Tuhan dan kemaslahatan terhadap sesama makhluk Tuhan. Dan ilmu tersebut adalah ilmu agama. Sehingga hanya orang yang berpengetahuan agamalah yang disebut sebagai ‘aalim’, jamaknya; ‘ulama’. Apalagi jika mengacu kepada berbagai teks-teks suci Islam, baik al-Qur’an maupun al-Hadits. Di sana tertulis ketat kriteria bagaimana ‘ulama itu.

Di dalam ayat suci disebutkan bahwa ‘ulama adalah orang-orang yang begitu meresapnya ketundukan mereka terhadap Tuhan sehingga menumbuhkan rasa takut akan Ketidakrelaan-Nya. Sedangkan dalam redaksi hadits disampaikan bahwa ulama adalah pewaris para nabi, baik berupa warisan ilmu, sikap, etika, maupun wibawa.

Imam al-Ghazali bahkan menuliskan diferensiasi antara ulama sejati dan ulama gadungan. Kriteria itu menyangkut kepakaran terhadap sumber-sumber hukum Islam, disiplin ritual, kedalaman spiritual, konsistensi terhadap pelaksanaan hukum, hingga karakter dan tingkah laku keseharian. Lalu dari istilah ‘ulama’ ini muncul turunan sebutan-sebutan lokal lain semisal ‘syaikh’ (Arab), ‘kiai’ (Jawa), ‘ustadz’ (Persia), dan semacamnya. Untuk hal ini pernah kutuangkan di dalam artikel "Panggil Aku Ustadz!"

“Wah, berarti ulama itu bukan sekedar orang yang berpengetahuan agama banyak dong?” sahut Bastian mulai paham. Ya jelas, jawabku. Bahkan seperti yang sudah kuuraikan tadi, ada kode etik langsung dari Allah maupun Rasulullah bagi sosok-sosok ulama. Ayat maupun hadits yang sekilas nampak sebagai pujian kepada ulama, sejatinya adalah kode etik yang musti dipatuhi oleh siapapun yang merasa jadi ulama.

Seperti ayat Qur’an yang menyatakan bahwa orang-orang yang bisa tunduk takut secara total kepada Allah hanyalah kelompok ulama. Atau hadits yang menyatakan bahwa ulama adalah pewaris para nabi. Aku membaca ayat dan hadits itu bukan sebagai sanjungan yang bisa menggiring ke jurang kebanggaan. Melainkan sebagai kode etik keulamaan yang baku; bahwa ulama semestinya tunduk total pada aturan Ilahi, dan sebisa mungkin mewarisi sikap dan teladan para nabi. Berat, ‘kan?

Bastian manggut-manggut. “Berarti,” gumamnya, “Tidak semua orang berpengetahuan agama layak disebut ‘ulama’, dan pengetahuan agama seseorang belum tentu membuatnya jadi pribadi yang soleh. Tapi kok bisa ya?”

Ya karena kesalehan dan ketertundukan itu berakar pada penghayatan, bukan pengetahuan an sich. Pengetahuan hanya menjadi modal saja. Namun bila modal tak diolah, hanya ditampung di gudang, tentu hanya akan menumpuk dan akhirnya membusuk. Jadi, orang yang kesana kemari mengais pengetahuan di bangku-bangku sekolahan, sejatinya hanya sedang mengumpulkan modal. Termasuk pengetahuan agama di madrasah-madrasah.

Ketika modal itu sudah dipunyai, yakni koleksi pengetahuan (‘ilm), langkah selanjutnya adalah mengasah pemahaman atas apa yang sudah diketahui (fahm). Lalu dilanjutkan dengan penghayatan dengan pelaksanaan (‘amal). Nah, kontinuitas pengamalan plus penghayatan inilah yang bisa membuahan keberimbangan persepsi (‘adl) dan kebijaksanaan (hikmah).

Keempat dimensi inilah; ‘ilm, fahm, ‘amal, dan hikmah, yang membuat sosok kiai sepuh dihormati masyarakat secara sadar dan sukarela. Bukan atas paksaan, sogokan, maupun pencitraan. Sedangkan kebijaksanaan yang dimaksud adalah pemahaman dan penyikapan mendalam terhadap suatu hal sesuai dengan posisinya yang tepat.

Dengan demikian perbedaan antara ‘ilmu’ dan ‘pengetahuan’ akan lebih kentara. Ada jarak antara keduanya tentang kekentalan, kepadatan, kedalaman, kepekatan, dan rasa.

Nah, untuk konteks perbandingan aku dan Bastian, kami seimbang. Bedanya, koleksi pengetahuan agamaku mungkin sedikit lebih banyak dari dia, dan koleksi pengetahuan mekaniknya jauh lebih banyak dariku. Untuk penghayatan, tak usah ditanya. Tentu saja –kuakui- pengamalan dan penghayatan Bastian terhadap pengetahuan mekanika yang ia miliki lebih mendalam daripada pengamalanku terhadap pengetahuan agamaku.

Belum lagi kalau bicara pengamalan pengetahuan tentang pendidikan. Jelas aku tertinggal jauh di belakang. Dia sudah terjun, aku masih tidur berkemul sarung. Dalam konteks Islam, siapa yang mengamalkan apa yang ia ketahui, maka Allah akan mengajarinya hal-hal yang belum ia ketahui. Dan berbagai asupan yang telah Bastian dapatkan semasa di kampus Selingkar, sudah diamalkan dengan baik di medan juangnya sekarang.
 

~
Krapyak, 20/02/2015

Senin, 02 Februari 2015

Meneropong Pendidikan Indonesia

Oleh: Wardono Jakarimba

Ketika sedang asyik membuka halaman per halaman majalah Bintang, tak seperti biasanya ada tulisan tentang dunia pendidikan berjudul “MEMBANGUN OPTIMISME DUNIA PENDIDIKAN”. Maklum, yang namanya majalah Bintang biasanya hanya berisi gosip, gosip, dan gosip seputar selebritis. Sehingga dengan rakusnya saya langsung membaca tulisan tersebut sampe habis tanpa terlewatkan sekatapun.

Kemudian terlintas di otakku untuk berbagi isi tulisan tersebut kepada teman-teman. Mengingat kita sudah terlanjur menceburkan diri ke jalur yang muaranya mengarah pada guru. Sebagai calon guru tentu kita di tuntut melahap serakus-rakusnya semua informasi tentang dunia pendidikan agar dapat menjadi guru yang berwawasan luas. Dan ulasan kembali terhadap tulisan tersebut semoga dapat menambah pundi-pundi wawasan kita terhadap dunia pendidikan. Di tulisan tersebut tidak ada nama penulisnya, jadi dalam pembahasan ulang ini saya sebut penulis tulisan tersebut dengan penulis. Oke, jangan banyak cas cis cus lagi, mari kita segera bahas kembali tulisan tersebut.

Dengan berbagai permasalah yang masih menyelimuti pendidikan Indonesia, mulai dari sarpras, kualitas, pemerataan, dana, kebijakan, dan lain sebagainya, kita tetap harus memiliki optimisme yang tinggi dalam membangun pendidikan yang maju, karena peradaban Indonesia yang lebih baik hanya dapat diwujudkan melalui pendidikan. Maka sangatlah tepat jika momen Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) tahun 2013 bertemakan “Meningkatkan Kualitas dan Akses Berkeadilan”.

Penulis membeberkan kenapa tema tersebut sangat tepat karena kita memang wajib memiliki keyakinan dan optimistis, Indonesia ke depan adalah Indonesia yang lebih baik, karena itulah dibutuhkan kualitas, disertai akses yang berkeadilan, tanpa mengenal asal usul, status sosial dan latar belakang ekonomi. Optimisme ini didukung oleh fakta, bahwa setelah reformasi sampai sekarang ini Indonesia telah mengalami pertumbuhan ekonomi yang berarti. Bahkan Mc Kinsey Global Institute (September 2012) meramalkan Indonesia akan menjadi kekuatan ekonomi nomor tujuh di dunia pada tahun 2030. Bukan hanya itu, dalam laporan itu disebutkan bahwa pada tahun 2030, Indonesia membutuhkan sebanyak 113 juta tenaga kerja terampil. Dari mana dan bagaimana menyiapkannya??? Jawabannya tentu dari dunia pendidikan.

Awal mendengar ramalan itu, saya atau mungkin juga teman-teman seperti tidak percaya Indonesia dapat seperti itu di tahun 2030 mengingat keadaan Bangsa Indonesia yang seperti ini, masih banyak rakyat miskin, ratusan atau bahkan ribuan kisah Tasripin-Tasripin lain yang masih tersembunyi, kesenjangan ekonomi antara si kaya dan si miskin makin tinggi, namun juga bukan sesuatu yang mustahil untuk menggapai ramalan tersebut terwujud jika kita mau bekerja keras mengabdi setulus hati di dunia pendidikan. Jangan banyak cas cis cus lagi, ayo kita bahas lagi tulisan tersebut...

Tema tersebut bukan hanya sekedar pelengkap dalam Hardiknas, tapi menjadi kewajiban bagi pemerintah pusat dan daerah serta kita (masyarakat) untuk mewujudkannya demi terciptanya peradaban Indonesia yang lebih baik. Oleh karenanya, amanat dalam UUD 1945, yakni tiap warga negara wajib mengenyam pendidikan dasar, dan negara wajib mengelolanya, sehingga pemerintah pusat dan daerah, bersama-sama dg masyarakat harus berusaha memenuhi amanat tersbeut melalui pembangunan sekolah-sekolah di seluruh Indonesia, termasuk di daerah 3T (terdepan, terluar, dan tertinggal). Selain itu, menurut penulis, pendidikan haruslah menjangkau seluruh lapisan masyarakat, sebagai upaya memenuhi hal itu Kemdikbud telah memiliki program Bantuan Operasional sekolah (BOS) dan Beasiswa Miskin (BSM). Mulai tahun pelajaran 2013, BOS akan diberikan di jenjang pendidikan menengah. Diharapakn melalui program ini, kita tidak akan pernah mendengar lagi ada anak dari keluarga tak mampu yang tidak bisa mengenyam pendidikan atau putus sekolah.

Kebijakan serupa tidak berhenti hanya pada jenjang pendidikan menengah atas saja. Namun juga kebijakan yang dapat membuka selebar-lebarnya kesempatan bagi siswa dari keluarga tak mampu untuk melanjutkan ke perguruan tinggi. Nah, kebijakan pemerintah untuk mendorong tersebut dengan meluncurkan Bantuan Operasional Perguruan Tinggi Negeri (BOPTN) dan kebijakan uang kuliah tunggal (UKT), serta peningkatan jumlah penerima beasiswa Bidik Misi. Selain ketiga kebijakan tersebut, Kementerian dalam beberapa tahun terakhir telah membuka beberapa perguruan tinggi di luar Pulau Jawa. Termasuk yang mulai dirintis adalah pendirian Akademi Komunitas yang akan didirikan minimal satu di setiap kabupaten/kota, sebagaimana diamanatkan dalam UU No. 12 tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi.

Semua itu dilakukan tentu untuk meningkatkan akses seluas-luasnya bagi seluruh putra putri bangsa ini dalam mengenyam pendidikan. Dan hal ini adalah langkah untuk meningkatkan potensi sumber daya manusia guna membangun bangsa di segala bidang yang pada akhirnya dapat membawa Indonesia ke peradaban yang lebih baik.

Sebagai insan akademik, yang nantinya terjun mengabdi dalam dunia pendidikan, tentu kita jangan pernah kehilangan rasa opimisme untuk memajukan dunia pendidikan kita. Segudang permasalahan yang masih menyelimuti dunia pendidikan kita, harus menjadi pemicu semangat kita semakin tinggi untuk memeprbaiki kekurangan-kekurangan dalam pendidikan kita, jangan sebaliknya menjadi optimisme kita semakin luntur karena itu hanya akan semakin memperparah dunia pendidikan dan pada akhirnya para putra putri penerus bangsalah yang menjadi korban. MAU ANAK CUCU KITA JADI KORBAN PENDIDIKAN KITA? Jawaban kita tentu TIDAAAK! Makanya mari kita tetap SEMANGAAAT!

[o]

Sabtu, 31 Januari 2015

Nyawa Tumbuhan

“Aku bisa ngobrol sama tumbuhan,” kata Sutri. Aku yang lagi santai menikmati kehangatan mentari pagi sambil menyiram kembang pun terperanjat, “Tenane Sut?! Ente bisa ngomong sama tanduran?!” cecarku. “Bukan, tapi bapaknya temenku bisa ngobrol sama tanaman-tanaman,” sahutnya. Oalaah. Tokoh kita satu ini ngomongnya memang kadang tak jelas. Entah karena lidahnya keseringan salto atau kebanyakan ngemut knalpot, bicaranya jadi kayak ibu-ibu arisan; ribet.
Pagi itu kondisiku sudah lumayan segar meski masih lemas dan pegal-pegal, sisa kumat GERD malam sebelumnya. Dua malam lalu, aku muntah-muntah, pusing dan tak bisa tidur sampai dini hari gara-gara masuk angin overdosis sehingga memicu asam lambungku naik. Nah, saat itulah Sutri ini yang jadi dewa penolong, sigap ngerok dan mijet sampai aku bisa tertidur lelap.

“Jadi gini,” lanjut Sutri yang lebih suka dipanggil Cahyo, “Di kampung, aku punya temen main, nah temenku itu punya bapak. Lha bapaknya temenku itu bisa ngobrol sama tumbuhan.”

“Ente pernah liat?”

“Nggak sih. Si Bapak itu ngobrolnya kalau lagi sepi aja. Tapi keluarganya itu sering mergoki pas dia lagi ngobrol sama pohon atau bunga-bunga. Temenku itu cerita begitu.”

“Wow.. Terus apa yang diobrolin?”

“Ya nggak tau lah.”

“Itu Bapaknya stress atau gimana, Sut?”

“Ngawur! Normal yoooh! Bapaknya itu baik banget malah, kalau kami mampir dolan ke rumahnya pasti kenyang. Ya memang keluarga berkecukupan, tapi ya nggak kaya banget. Dia punya usaha jagal dan ngajar ngaji juga di surau. Pas meninggalnya, orang sekampung liat wajah Si Bapak mencorong dan tersenyum.”

Sutri mengucapkan kata terakhir sambil mempraktekkan senyumnya yang cetar membahana. Kawan-kawan memang melabelinya dengan sebutan ‘Shohibul Mesem’ sangkin overdosisnya dia mesem. Lalu aku bertanya lagi,

“Kalau cerita itu benar, berarti tumbuhan juga bernyawa ya, Sut? Atau jangan-jangan Si Bapak ngobrol sama jin yang kebetulan menghuni tumbuh-tumbuhan itu?”

“Oh bukaan! Beliau itu memang ngobrol sama tumbuhan. Karena segala makhluk itu juga bertasbih berdzikir kepada Allah dan bernyawa. Termasuk tumbuhan. Kamu tahu nggak, dulu itu banyak pepohonan yang meliuk menaungi Kanjeng Nabi Muhammad. Bahkan ada wali yang bisa mengetahui manfaat suatu tumbuhan karena dikasi tahu oleh tumbuhan itu sendiri,” terang Sutri bersemangat, mirip motivator.

“Lhah Sut,” sambungku, “Katanya orang-orang yang ngrowot itu nggak boleh makan makhluk bernyawa, yaitu hewan. Berarti tumbuh-tumbuhan termasuk makhluk tak bernyawa dong?”

“Ooh bukan begitu, berarti kamu salah paham, ckckck,” sanggahnya dengan muka sengak.

“Lha njur piye?”

“Maksudnya makhluk bernyawa dan tak bernyawa itu bukan seperti yang kamu pahami. Maksudnya makhluk bernyawa dan nggak boleh dimakan sama yang ngrowot itu adalah makhluk yang musti disembelih dulu sebelum dikonsumsi. Misalnya kamu mau makan paha ayam, ya kamu harus sembelih ayamnya dulu. Kalau kamu langsung potong kakinya dan biarkan si ayam hidup, ya kasihan dong. Maka kamu harus sembelih dulu. Dengan memotong satu bagian tubuh, merugikan seluruh bagian makhluk itu. Nah, kalau yang dimaksud dengan makhluk tak bernyawa semisal tumbuhan itu ya sebaliknya. Kamu bisa mengonsumsi daun singkong tanpa merugikan si pohon singkong. Bahkan bagus, dengan dipetiknya si daun singkong maka si pohon singkong bisa jadi lebih subur dari sebelumnya. Dengan memotong satu bagian makhluk itu, tidak menganiaya seluruh bagiannya yang lain. Begitu..” papar Sutri panjang lebar.

Aku manggut-manggut saja. Masih merasa ada sesuatu yang janggal tapi enggan kuutarakan. Bisa berabe kalau ngeyel di hadapan Sutri pagi-pagi cerah begini. Tiap argumen yang kulempar bisa jadi bumerang yang justru nggepuk kepalaku sendiri. Dia memang cocok jadi pengacara. Lagipula pagi hari nggak cocok buat eyel-eyelan. Cocoknya buat dengerin irama kicau burung-burung, menikmati hinggapan manja kupu-kupu, menemani kembang-kembang yang ‘ngulet’ baru bangun, dan suap-suapan sarapan buah sama kamu, Dek. *aa.. aa.. aaeem..*

Bicara tumbuhan, berarti bicara senior kita di muka bumi. Untuk membuktikan secara saintifik ada atau tidaknya nyawa dalam tumbuhan sama sulitnya membuktikan ada-tidaknya nyawa dalam diri manusia. Sutri meyakini bahwa tumbuhan dan makhluk apapun memang bernyawa, tidak hanya manusia. Sedangkan nyawa yang dimaksud di sini adalah energi kehidupan yang ditiupkan oleh Tuhan. Maka tidak sepatutnya manusia memperlakukan tumbuhan seenaknya. Sutri seringkali sewot kalau melihatku nyiram kembang kesiangan, dzalim katanya.

Ah daripada ngeyel, aku lebih memilih menceritakan kepada Sutri tentang satu buku keren yang membahas hal ini, yakni ‘Secret Life of Plant’ karya Peter Tompkinn dan Christopher Bird. Juga tentang ilmuwan yang konsen dalam bidang ‘metafisik tumbuhan’, sosok eksentrik asal Jerman; Gustav Theodor Fechner.

Nah, Pak Fechner ini sebenarnya adalah dokter merangkap profesor fisika di Universitas Leipzig. Dia mulai tertarik mengamati sisi metafisik tumbuhan sebab suatu pengalaman menarik. Pada tahun 1989, Fechner mulai memandangi matahari dengan mata telanjang, niatnya hendak mempelajari fenomena after-image, yakni gambar-gambar aneh yang tampak tetap ada di retina mata meski telah hilangnya stimulus pandangan normal. Beberapa hari melakukan hal ini, ia kaget ketika menyadari bahwa matanya mulai buta. Iseng banget dia. 


Merasa terguncang karena tak bisa melihat lagi dan letih menumpuk, ia menyendiri untuk beristirahat dalam sebuah kamar gelap dan mengenakan topeng di wajahnya. Dalam ruangan itu, ia terus menerus berdoa sebagai seorang pemeluk Kristen. Berapa lama dia menyendiri? Tiga tahun saudara-saudara! Mengapa tidak ada yang menemaninya? Ah entahlah, mungkin karena dia jomblo.

Keajaiban terjadi. Pagi hari di musim semi tiga tahun kemudian, ketika merasakan penglihatannya telah pulih, Fechner keluar menuju cahaya. Dengan bahagia ia berjalan sepanjang sungai Mulde dan seketika menyadari bahwa bunga-bunga dan pohon-pohon sepanjang tepi sungai menyapanya. Ia menyebutnya dengan istilah ‘be-souled’ (diberi jiwa).

“Ketika aku berdiri di tepi air dan memandangi sekuntum bunga, seakan-akan aku melihat jiwanya naik dari kumpulan bunga, melayang-layang melintasi kabut, hingga nampak jelas bentuknya. Ia bertengger di atas kuncupnya, mungkin agar dapat lebih menikmati cahaya matahari,” tutur Fechner.

Ia pun mulai tertarik dengan kawan-kawan barunya, ya, tumbuh-tumbuhan. Dan makin tak tertarik dengan pergaulan sesama manusia. Fechner menulis sekumpulan kesan-kesannya selama berinteraksi dengan tumbuhan dalam sebuah buku bombastis berjudul ‘Nanna or The Soul-Life of Plants”, diterbitkan di Leipzig tahun 1848 dan –tentu saja- ditertawakan para ilmuwan. Judul buku ini terinspirasi dari sebuah kisah mitologi Teutonic Jerman, yakni ketika Si Baldur, dewa cahaya, iseng-iseng ngintip putri bunga yang bernama Nanna lagi mandi. Karena terpesona, perkawinan antara cahaya dan bunga pun dilangsungkan. Nama ini mengingatkanku pada nama istrinya Mbah Kamijo, jangan-jangan nama asli simbah adalah Baldur.


Pola komunikasi dengan makhluk hidup selain manusia memang masih asing bagi kita. Seperti kisah bapak temannya Sutri maupun pengalaman Mister Fechner. Bahkan cenderung ditertawakan, semisal ngobrol dengan marmut, bincang pagi dengan pohon jati, atau gendu-gendu roso sama genderuwo. Apalagi bagi yang memakai pendekatan sains polos, tanpa menggunakan perspektif lain. Meskipun belakangan muncul istilah Zona Kesadaran Kuantum tentang kemungkinan berkomunikasi dengan makhluk-makhluk lain termasuk tumbuhan.

Ah repot amat, kalau aku sih percaya saja. Tapi ya sekedar percaya, bukan untuk apa-apa. Segala keberadaan makhluk yang nisbi di alam raya ini masih dalam garis kemungkinan, atau istilahnya; jaa-iz. Bisa iya, bisa tidak. Tidak aneh dan biasa saja. Tidak lantas digumuni berlebihan apalagi dipuja-puja dan dijunjung-junjung. Namun hal yang musti kita sadari adalah bahwa kita tidak sendirian di alam raya ini, kita semua saudara kandung dari rahim ketiadaan. Segalanya saling terhubung dalam suatu sistem yang rumit nan cantik.

Sebagai penutup, ada pemikiran menarik dari Fechner dengan pandangannya yang unik. Dalam buku ‘Little Book of Life After Death’, ia mengemukakan gagasan bahwa kehidupan manusia berada pada tiga tingkatan. Pertama, tidur terus menerus, yakni sebelum dilahirkan. Kedua, ngelilir atau setengah terbangun, yaitu ketika hidup di alam dunia. Dan ketiga, terbangun sepenuhnya, inilah masa setelah mati. Teori yang mirip ungkapan Sayyidina Ali bin Abi Thalib; “An-naasu niyaamun wa idzaa maatuu intabahuu (manusia dalam keadaan tidur, ketika mati, terbangunlah mereka).”

Fechner juga mengungkapkan gagasan menarik dalam ‘Comparative Anatomy of the Angels’. Wuih judule nggilani dab! Dalam buku itu, ia torehkan bagaimana upayanya melacak jejak evolusi mulai dari organisme bersel satu melalui manusia menuju makhluk yang –secara anatomi- lebih tinggi berupa malaikat. Bentuknya menyempurna semakin utuh dan mampu melihat gravitasi universal sebagaiana manusia mampu melihat sinar. Makhluk yang berkomunikasi bukan dengan getaran suara melainkan dengan simbol-simbol cahaya. Ini persis yang diungkapkan Rumi dalam puisinya;

"Aku mati sebagai mineral dan menjadi tumbuhan,
Aku mati sebagai tumbuhan dan muncul sebagai hewan,
Aku mati sebagai hewan dan aku menjadi Insan
Mengapa aku mesti takut? Bilakah aku menjadi rendah karena kematian?
Namun sekali lagi aku akan mati sebagai Insan,
untuk membumbung bersama para Malaikat."

Sampai berbusa mulutku pagi itu bercerita kepada Sutri tentang psikofisik, universalitas ciptaan, filosofi bunga dan beberapa potong isi buku Petuah Pohon (ngiklan nih, hihi). Eh orangnya malah selonjor ngorok. Ncen su og!

~
Krapyak, 31/01/2015

Rabu, 21 Januari 2015

Profesi Pengabdian

Kau tahu nama tokoh yang diangkat Kang Abik dalam novel ‘Api Tauhid’? Ya, nama pemuda yang duduk sok mikir di sampingku ini mirip dengan tokoh itu; Sayd Nursiba. Mungkin bapaknya kagum dengan tokoh sufi revolusioner asal Turki itu, Said Nursi Badiuzzaman, dan berharap putranya ini bisa meneladani kecerdasan intelektual, ketangguhan perjuangan dan ketajaman spiritualnya. *Ngimpi ya, Pak? :p
Beberapa malam lalu, sebagaimana malam-malam sebelumnya dan malam-malam yang akan datang, Sayd ndobos ngalor ngidul di kamar kosku. Bersama pasangan homonya, Fahmi, ia membincangkan tentang kerja. Nah, aku yang lagi ngetik pun kebagian nguping. Beginilah enaknya kalau punya kawan-kawan cerdas, meskipun kau tak baca buku, kau tetap bisa kulak pengetahuan dan pemahaman baru.

Sebagaimana pernah dikeluhkan Pramono yang sama sekali tidak punya hobi baca buku, maka kusarankan untuk perbanyak ngobrol tentang hal-hal spesifik dengan orang-orang yang memang bergelut dalam hal-hal itu. Biar orang-orang itu yang baca buku dan mengalami laku, kau tinggal gali intisarinya, toh mereka pun tidak akan menolak, bahkan dengan senang hati ngoceh kesana kemari. Karena biasanya, dengan menyampaikan apa yang sudah dipahami, mereka pun bakal mendapatkan pemahaman baru. Begitulah ajaibnya ilmu.

Kebetulan, Sayd mengajar secara honorer di sebuah institusi pendidikan di kampungnya. Kuliahnya belum lulus, masih tahap pengajuan skripsi. Ia juga menangani advertising beberapa usaha, mulai dari packaging hingga clothing. Maka setiap hari dia keliling dari kantor ke kantor, penerbit ke penerbit, pabrik ke pabrik, untuk ngglembuk sekaligus membangun relasi bisnis. Sedangkan Fahmi sudah jadi sarjana komunikasu, sambil bekerja menjadi guide bagi para bule yang melancong ke negeri kita tercinta. Sungguh pemuda-pemuda idaman mertua.

Nah, malam itu mereka –dengan begitu mesra- saling curhat tentang pekerjaannya masing-masing. Aku pun melipir di sudut ruangan, takut mengganggu momen romantis mereka. Hahaha.


Menurut mereka, profesi adalah segala jenis kegiatan yang menjadi pekerjaan sebagai mata pencaharian, praktisnya; pekerjaan yang menghasilkan uang. Berbeda dengan pengabdian yang murni sebagai lahan penumpahan kreativitas tanpa mengharapkan timbal balik material. Setiap orang musti paham bedanya, sehingga hidupnya tak melulu material dan hampa.

Sebagai guru dan ustadz TPA, Sayd menganggapnya sebagai pengabdian. Sedangkan kegiatannya mondar-mandir kesana kemari, ia jadikan sebagai profesi dan seni bertahan hidup. Istilah yang sering kami gunakan di sini; upaya menjemput rejeki. Maka dia membagi betul waktu dan porsi energi agar pengabdiannya di sekolah tidak terbengkalai akibat terlalu ruwet dengan urusan profesi. Dia termasuk penganut paham sekuler; profesi ya profesi, mengabdi ya mengabdi.

Lalu bagaimana dengan orang yang menjadikan profesinya sebagai pengabdian? Atau sebaliknya, memosisikan lahan pengabdiannya sebagai profesi? Ya sah sah saja. Asalkan dia harus mencurahkan segenap energi jiwa sebagai totalitas berkarya. Menjadikan pengabdian guru sebagai profesi? Silakan, asalkan betul-betul mendidik dan menjadi teladan, tak sekedar mengajar dan menunggu gaji bulanan. Jadi pegawai negeri sebagai pengabdian? Ya silakan, berarti harus betul-betul taat aturan dengan niat melayani kepentingan rakyat tanpa korupsi dan tindakan indisipliner. Ini bagi yang menganut paham unifikatif, memadukan antara profesi dan pengabdian.

Baik sekuler atau univikatif memiliki konsekuensi masing-masing. Bagi sekularis, ia harus mampu membagi waktu agar pengabdiannya tak kalah oleh kesibukannya cari duit. Sekaligus jangan sampai menjadikan pengabdian itu sebagai alasan kekacauan perkembangan profesinya. Banyak guru yang menelantarkan tugas pengabdiannya karena sibuk berbisnis. Konsekuensi bagi orang yang memadukan antara profesi dan pengabdian pun tak ringan, ia harus optimal dalam bidangnya itu dan tak sekedar menumpang hidup. Karena seperti kata Hamka; kalau hidup sekedar hidup, tikus saja bisa.

Namun alangkah baiknya jika setiap orang, sesibuk apapun dengan lapangan profesinya, tetap menyempatkan energi dan meluangkan waktu untuk pengabdian yang ada di luar profesinya itu. Di manapun dalam bidang apapun sesepele bagaimanapun. Karena seberlimpah apapun seseorang, tetap saja akan ada lubang besar dalam jiwanya jika tak meluangkan energi untuk mengabdi.

Malam tadi, wajah Sayd nampak sumringan setelah dicharge secara spiritual oleh Kang Rizal. Selepas wiridan Ratib al-Haddad di kos wetan Kandang Menjangan hamba dalam rangka ‘Mencangkul di Langit’, ia menggali motivasu dari Kang Arif sebagai sama-sama pengusaha muda. Tentu saja, setelah membantai gorengan, ia pamit pulang dengan meninggalkan selembar brosur ekspedisi. Isinya begini; Bagi kawan-kawan yang ingin mengirimkan barang apapun, antarkota antarpulau, baik via darat, laut atau udara, atau berminat bikin kaos berkualitas untuk pribadi, geng dan instansi, silakan hubungi Mr Sayd dengan hotline 0857 8635 8555. Pelayanan terjamin! *Iklan gratisan*

Selaras dengan motto almarhum Bob Sadino, ia beranggapan bahwa segala makhluk yang ada di muka bumi bisa dijadikan lahan bisnis, jadi duit. Apalagi setelah dia nonton film PK yang dibintangi Aamir Khan itu, bisnis ketakutan bertopeng agama ternyata sangat menggiurkan.

“Ayo Zi, ente sediakan air putih, cari menyan yang murahan, terus pasang gentong celengan di pintu masuk. Nanti biar ane yang blusukan pencitraan. Ane cari pasien yang lagi galau, terus ane bawa ke sini, nah ente ekting jadi dukun ampuh, tinggal pake software primbon sama air keran dan rambut gondrong. Bam bam bolee bam bam bolee.. Nanti hasilnya fifty-fifty. Gimana?”

Ndasmu renyah ‘id!

~
Krapyak, 21/01/2015

Sabtu, 10 Januari 2015

Berburu Mertua

Sosok yang berdiri di sampingku ini bukan Patung Gupolo yang biasa ditemui di gerbang candi lho ya. Namanya Budi, kalian yang pernah sekolah SD pasti familiar dengan nama ini. Ya, dia temannya Inu, Ani, Badu, Yustito, dan tokoh legendaris lain di Buku Bahasa Indonesia. Hehehe.
Sekedar bocoran, Budi ini masih jomblo, food combiner, santri kalong, humanis relijius, jaket kuning, filsuf rocker yang sedang nyemplung dalam eksotisme perbatikan, asli Tegal dan ngantor di Pekalongan.
[Bud, satu porsi lotek buat honor promo!]

Mungkin betul apa yang dikatakan Budi beberapa waktu lalu bahwa kriteria orang tua terhadap calon menantu dibentuk oleh atmosfer zamannya. Pada umumnya, tren calon menantu favorit bagi orang-orang tua yang tumbuh di zaman kemerdekaan mungkin adalah anak muda yang kuat dan militan. Saat itu predikat sarjana sama sekali tak menjadi perhitungan, bahkan sama sekali tak populer.

Namun bagi orang tua yang dibesarkan di era orde baru dengan berbagai kenyamanan sosial-ekonomi, bakal mengidolakan calon menantu yang mapan secara finansial. Wadah pendidikan berupa sekolahan telah sukses melambungkan pemuda-pemudi yang bergelar sarjana ke posisi menantu idaman. Pegawai negeri juga jadi favorit pada masa itu, bahkan mungkin hingga hari ini.

Lalu bagaimana dengan orang-orang tua yang menangi era reformasi? Bagaimana tren calon menantu favorit bagi mereka? Bisa jadi sangat berbeda dengan orang-orang tua sebelumnya. Kreativitas dan progresivitas akan menjadi tolak ukur baru bagi mereka dalam menyeleksi calon menantu. Sarjana atau bukan tak lagi penting.

Perkara ini menjadi penting untuk dibahas bagi pemuda-pemudi yang saat ini masih jomblo dan sedang mengatur strategi invasi perburuan jodoh. Karena penaklukan calon pasangan hidup masih belum tuntas tanpa penaklukan calon mertua. Hahaha.

Setelah menelaah berbagai macam tren ini, Budi menyimpulkan bahwa ada dua jenis ukuran bagi orang tua dalam menyeleksi menantu.

Pertama, ukuran ‘mutlak’; berupa sikap, kemandirian dan tanggung jawab. Artinya, saringan awal bagi calon menantu adalah sikap atau attitude sebagai calon anak. Serta kenyataan bahwa dia sanggup mandiri untuk berpenghidupan, apapun bentuk aktivitasnya. Selain itu, keberanian untuk segera menyerbu langsung pihak orang tua adalah bentuk keseriusan dan tanggung jawab. Ketiga hal ini menjadi variabel primer yang selalu berlaku dimanapun dan kapanpun, universal.

Kedua, ukuran ‘relatif’, berupa jenis pekerjaan, besar penghasilan, tampang, jenjang pendidikan, sarjana atau bukan, santri atau bukan, maupun keturunan. Semua ini menjadi variabel-variabel sekunder yang sangat subyektif dan dipengaruhi atmosfer hidup si orang tua. Sebagaimana sudah disinggung di atas.

Nah, menurut Budi, sebaiknya para jomblo masa kini tidak usah minder dan memusingkan variabel-variabel sekunder ini. Kau cukup mempersiapkan sebaik mungkin tolak ukur universal berupa kemandirian dan tanggung jawab. Bukan berarti kau harus kaya raya dan berpenghasilan besar, bukan. Setidaknya ada kasab yang bisa kau kerjakan, boleh tetap atau serabutan, boleh jadi pegawai atau wirausaha.

Tetapi tidak semua orang yang sudah mandiri bisa bertanggung jawab. Karena hal ini tidak sekedar berkaitan dengan urusan kelamin dan isi perut. Tapi juga tentang ketenteraman batin dan kebahagiaan hidup. Maka rasa tanggung jawab kemudian menjadi syarat penting bagi kesiapan seseorang.

Kalau kau merasa sudah siap dengan kedua hal itu, ya sudah mandiri sekuatmu, ya sudah bersedia tanggung jawab semampumu, maka segeralah sikat! Biar tak galau terus menerus. Kalau secara riil memang belum siap, ya jangan buru-buru. Kecuali kalau kau anak bangsawan yang selalu disuapi seumur hidup.

Nah para jomblo, jangan galau! Persiapkan saja tolak ukur primer itu sebaik mungkin. Persis yang diucapkan Budi;

“Kalau sudah mantap dengan sikap gentle, karakter mandiri dan tanggung jawab, maka sejelek apapun tampangku, sekacau bagaimanapun latar pendidikanku, ah orang tua mana sih yang bakal sanggup menolak lamaranku?”

Tapi Bud, masalahnya, ada nggak anak gadis yang mau sama kamu? :p

~
Malam Minggu Kedua, Januari 2015

Minggu, 21 September 2014

Api Adalah ...

Kos Kandang Menjangan, Sabtu 21 September 2014 | Penyaji: Akwal Sadida
Monster yang ngumpul malam hari ini ada sembilan ekor. Sabtu malam minggu, 27/9/2014, markas hamba di wetan Kandang Menjangan diserbu penDuduk yang berkategori JOMBI alias Jomblo Durung Rabi.

Seperti biasa, ritual cangkeman diawali dengan terapi otak yang sekaligus bisa menyegarkan otot-otot mulut dan perut. Mursyid tunggal terapi ini adalah Jombi Irfan yang merupakan humas dari Padepokan Jagat Lelembut Sunan Ampel Kotagede.

Selanjutnya, Jombi Fahmi berkisah tentang pengalamannya nyedot rokok sehat semasa magang di Djarum Kudus. Kemudian ia melontarkan pertanyaan sederhana tentang api; kalau air adalah materi yang memiliki unsur Hidrogen dan Oksigen, maka bagaimana dengan api?

Jombi Farid berpendapat bahwa api adalah bentuk pelepasan energi yang sama seperti cahaya. Sehingga antara setan dan malaikat memiliki kemiripan dalam hal unsur pembentuknya; energi misterius. Tapi perlu diingat bahwa cahaya berbeda dengan sinar. Sinar adalah energi yang muncul, sedangkan cahaya adalah sinar yang terpantul.

Jombi Sayd menanggapi, api bukanlah energi, melainkan materi hasil oksidasi yang tentu saja melibatkan oksigen. Jadi, api terjadi dari oksigen. Kira-kira, apalagi yang menjadi penyeab terciptanya api?

Jombi Muhidin menjawab; bahan bakar! Tapi apakah oksigen dan bahan bakar bisa begitu saja menimbulkan api? Ternyata tidak. Ada satu unsur lagi yang harus ada, yaitu; panas. Nah, kalau sudah ada tiga unsur tersebut, tinggal satu hal yang diperlukan untuk membuat api, yaitu reaksi kimia antara oksigen dan bahan bakar yang dipantik oleh panas.

Jombi Milyun yang sedari tadi mengedip-ngedipkan mata dan mencumi-cumikan mulut demi menarik simpati Mukid, akhirnya bersuara. Ia mengatakan; berarti, tubuh manusia sangat mungkin memproduksi api jika bisa mengendalikan unsur-unsur pembentuk api dalam dirinya, yaitu oksigen, bahan bakar, dan panas. Seperti kisah para pendekar di masa lalu.

Jombi Zia berusaha mempraktekkan teori ini, yakni mengeluarkan segenap energi untuk mengeluarkan api. Namun sayang, ia gagal. Justru yang terbentuk adalah reaksi hidrolik dari usus besar, lalu keluar dari anus berupa kentut, langsung dihirup Jombi Nasrullah yang kebetulan bersandar di pantatnya.

Setelah menabrak kebuntuan selama beberapa detik tentang bagaimana reaksi kimia antara oksigen - bahan bakar - panas, kami mendapatkan jawaban. Karena malam itu, untungnya, hadir Jombi Sadida yang jauh-jauh ngepit dari UGM ke Krapyak untuk berbagi ilmu. Ia menerangkan secara gamblang dari sudut pandang Fisika tentang bagaimana api terwujud. Berikut ini penjelasannya;

"...$#@&%$(&%$# @$&()(&#@#$%&#@$ #@&%$(&%$#@$&()(&#@#$% &#@$#@&%$(&%$#@ $&()(&#@#$ %&#@$#@&%$( &%$#@$&()(&# @#$%&#@$#@&%$( &%$#@$&()(&#@ #$%&#@$#@&%$(&%$#@ $&()(&#@#$%& #@$#@&%$(&%$ #@$& ()(&#@#$%& #@!}{}?..."

Jelas, 'kan?
[o]

Jumat, 27 Desember 2013

Mengadili Rokok

Angkringan Kraton, Kamis 27 Desember 2013 | Penyaji: Muhammad Iqbal Fahmi
Kamis jam sembilan malam, lalu lalang orang-orang mengeroyok pasar rakyat di Alun-alun Utara alias Altar. Malam itu masih dalam pekan-pekan perayaan Sekaten, jadi maklum jika nampak begitu ramai. Pelataran kraton yang biasa kami sulap jadi aula diskusi pun sudah dialihfungsikan jadi parkiran. Tapi tenang, masih banyak tepat lain yang asik buat duduk selingkar. Kami pilih hinggap di angkringan sepanjang trotoar, seberang museum kereta Jalan Rotowijayan.

Kali ini sembilan pemuda kurang kerjaan mengangkat tema tentang rokok. Benda mungil yang multikompleks. Setelah dua bulan magang di Djarum Foundation Kudus, Fahmi membagi pengalamannya tentang jagat rokok di forum diskusi absurd ini. Jumat 27 Desember, jam 2 dini hari. Baru selesai diskusi santai Selingkar, dan jeroan serasa makin segar. Sejak jam 9 hari Kamis kemarin, di trotoar angkringan Kraton Yogyakarta, Kadet Fahmi membagi pengalamannya tentang jagat rokok setelah dua bulan magang di Djarum Kudus. Dari selinting tembakau bisa ditelaah dan disikapi dari berbagai perspektif.
Pertama, tentang bahan baku: tembakau dan cengkeh. Kedua, tentang proses produksi. Ketiga, tentang pemasaran dan jaringan global. Keempat, tentang budaya dan kontroversi.

Pro-kontra merokok dibahas tuntas pada kesempatan Selingkar kali ini. Mulai dari asal mula budaya merokok di negeri ini, beragam jenis tembakau, proses produksi rokok, pemberdayaan masyarakat melalui kretek, korporasi global dan pencaplokan lahan, hingga mafia kapital dunia kesehatan.

Pada awalnya, penduduk Selingkar mengemukakan berbagai silang pendapat tentang rokok. Namun ujungnya, bermufakat bahwa rokok bukanlah sumber masalah yang sering disudutkan oleh berbagai pihak. Ada kepentingan ekonomi, bahkan politik, yang melatarbelakangi pro-kontra global ‘jajan tembakau’ ini.

Untuk melengkapi perbincangan mengenai rokok ini, alangkah bijaknya bila kita menziarahi salah satu penemuan anak bangsa yang cukup fenomenal. Ketika dimana-mana rokok dihujat oleh oknum dunia kesehatan, di Kudus ada rokok yang justru berpartisipasi dalam upaya penyembuhan berbagai macam penyakit.

Namanya; Divine Kretek alias Si Rokok Sehat! Kabarnya, si rokok ini berhasil membantu terapi penyembuhan lebih dari sepuluh ribu pasien dengan beragai macam keluhan penyakit berat, semisal kanker hingga autis. Bagaimana ceritanya? Mari kita telaah bersama.

[o]

Radikal bebas adalah penyebab utama hampir semua penyakit. Radikal bebas masuk ke dalam tubuh melalui polusi udara, makanan, tambalan gigi amalgam, kosmetik dan sebagainya. Radikal bebas menjadi racun yang menyebabkan kemampuan tubuh untuk menyembuhkan diri sendiri tidak berjalan maksimal. Namun, selama ini yang dituduh sebagai penyebab utama penyakit adalah rokok. Padahal, nikotin rokok justru sebagai zat peluruh radikal bebas.

Demikian dikatakan Prof. Dr. dr. Sarjadi, Sp. PA (K), Guru Besar Patalogi Anatomi Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro Semarang yang juga Rektor Universitas Muria Kudus. Kata beliau, nenek moyang kita dan suku Indian misalnya, telah menjadikan tembakau sebagai obat berbagai penyakit.

Namun, sejak era industrialisasi, nikotin dalam tembakau mulai terpapar radikal bebas yang disebabkan polusi dari industri dan transportasi. Sehingga kandungan positif pada nikotin tertutup dan tercemar radikal bebas. Jika radikal bebas pada nikotin berhasil dibersihkan, maka tembakau justru menjadi obat!

Upaya membersihkan tembakau dari radikal bebas itu berhasil dilakukan oleh DR Greta Zahar (pakar fisika nuklir) dan Prof Sutiman B. Soemitro (pakar Bio Molekuler Universitas Brawijaya Malang). Melalui pendekatan Nanoteknologi, keduanya berhasil mengembangkan rokok yang bebas dari radikal bebas dan bahkan asapnya berfungsi sebagai scavenger (penangkap dan penjinak) radikal bebas. Temuan itu diberi nama Divine Kretek.

Dalam buku “Divine Kretek – Rokok Sehat” yang diterbitkan oleh MBPI (Masyarakat Bangga Produk Indonesia) dijelaskan bahwa Divine Kretek dipadukan dengan metode pengobatan balur yang juga menggunakan pendekatan nanoteknologi. Paduan keduanya selanjutnya disebut Balur Divine.

Dr Saraswati, M.Psi (Direktur Lembaga Peneletian Peluruhan Radikal bebas Malang) mengatakan; Balur Divine adalah detoksifikasi radikal bebas dengan teknik membalurkan (melulurkan) sejumlah formula menggunakan pendekatan Nanoteknologi. Detoksifikasi dengan Balur Divine mampu menghilangkan radikal bebas secara efektif, karena pendekatan nanoteknologi mampu memperkecil gelembung toksin/racun menjadi ukuran nano (seper semiliar meter), sehingga racun dapat keluar dari tubuh tanpa menimbulkan luka.

Proses balur, diantaranya dengan minum formula asam amino tertentu, yang mampu mengambangkan zat radikal dari dalam tubuh. Proses balur juga harus dilakukan di atas lempeng tembaga (Cu) yang terhubung dengan bumi (grounding) dan ditutup aluminium foil. Hasilnya, zat radikal yang keluar dari tubuh yang sarat muatan listrik negatif, akan menumbuk lempeng tembaga dan alumunium foil, lalu dialirkan dan dinetralkan ke bumi (grounded).

Dr Tony Priliono, pengelola Rumah Sehat “Griya Balur Muria” Kudus mengatakan; Balur Divine efektif meluruhkan radikal bebas penyebab berbagai penyakit, terutama penyakit degenerative seperti kanker, stroke, jantung, asam urat, juga untuk mengobati anak autis. Selain di kudus, rumah sehat terapi Balur Divine sebelumnya sudah dibuka di Jakarta, Malang dan Semarang.

DR Kusnanto Anggoro (Peneliti Center for Strategic and International Studies/CSIS Jakarta) mengatakan; temuan Divine Kretek memberikan semangat dan harapan kebangkitan yang berdampak pada sosial dan politik bangsa Indonesia. Harus ada upaya menyempurnakan temuan tersebut secara berkesinambungan.

Mohamad Sobari, budayawan nasional mengatakan; temuan Divine Kretek seyogyanya bisa membuka pikiran kelompok anti tembakau yang selama ini hanyut pada stigma bahwa tembakau harus dimusihi karena dianggap sebagai sumber penyakit.

Namun sayangnya, sebagaimana masalah klasik yang sering dihadapi para jenius di negeri ini: tidak adanya dukungan energi (dana untuk riset, pengembangan, dan pemasaran) dari pemerintah, apalagi perusahaan rokok. Sebagaimana dinyatakan Dr. Sutiman;

“Kami tidak didukung oleh perusahaan-perusahan rokok.”

Salah satu penDuduk yang pernah merasakan rokok ini, Fahmi, menceritakan bahwa asap yang dihisap tidak berat di paru-paru. Saat ini baru dipasarkan terbatas untuk keperluan terapi di Kudus, Jakarta, Semarang, dan Malang.

Dari sisi kesehatan, produk rokok-jamu ini membalikkan tuduhan sumber penyakit menjadi obat penyembuh, atau dari 'madharat’ justru menjadi ‘manfaat’ dalam sisi hukum agama.Dan secaa ekonomi, tentu bila rokok-sehat ini didukung pemasarannya, tidak ada lagi rokok punya Phillip Morris beredar di pasaran dengan berbagai gambar mengerikan.

~

Nah, ada lagi rokok kesehatan dari Malang yang sudah merambah pasaran luas. Namanya; ROKOK SIN. Rokok Sin bentuknya seperti rokok pada umumnya, namun memiliki efek yang sungguh berbeda. Apabila rokok biasa terbukti berbahaya untuk kesehatan tubuh, rokok Sin justru mampu mengobati berbagai macam penyakit yang bisa jadi ditimbulkan akibat mengkonsumsi rokok biasa.

Rokok Sin diciptakan oleh KH. Abdul Malik asal Malang yang bergerak di bidang pengobatan alternatif. Beliau adalah Mursyid Tariqah Naqsyabandiyah Al-Husainiyah. Rokok Sin awalnya dibuat berkat ilham yang beliau dapatkan saat melakukan Shalat Istikharah, yaitu agar membuat rokok yang bisa dimanfaatkan sebagai obat.

Mei 2005, Kiai kelahiran Sumenep, Madura ini memulai Sejarah Rokok Sin ini dengan memproduksi rokok Sin bersama beberapa santrinya. Alhasil, rokok yang sedianya dikonsumsi terbatas untuk para jama’ah tariqahnya, mendapat respon yang positif dari masyarakat karena kemujaraban khasiatnya. Kemudian berlanjut dengan diproduksinya secara massal dan professional pada 23 Mei 2006, setelah mendapat ijin dari Pemerintah. Nama Sin diambil dari nama gunung Tursina (Sinai) di Timur Tengah.

Rokok Sin telah melalui uji ilmiah di Laboratorium Kimia Universitas Brawijaya Malang, Laboratorium Kimia Universitas Negeri Malang, dan salah satu pabrik rokok terkemuka di Jawa Timur yang ditunjuk secara resmi oleh pemerintah untuk pengujian produk rokok. Hasilnya menunjukkan bahwa kadar “Nikotin rokok Sin” sangat rendah, bahkan dinyatakan mendekati 0%. Pada Rokok Sin, efek negatif yang ditimbulkan oleh nikotin sudah dinetralisir oleh kombinasi bahan-bahan herbal lainnya yang 100% murni herbal, tanpa bahan kimia.

Hasil uji Laboratorium Resmi menunjukkan nilai TAR rokok Sin tinggi. “TAR” secara standar internasional adalah pengukuran berat material asap rokok yang mengandung racun dan bahan berbahaya lain. Umumnya apabila nilai TAR tinggi maka nafas terasa berat, sesak dan dada sakit. Akan tetapi nilai “TAR” pada rokok Sin adalah ramuan jamu terapi kesehatan yang membantu mengurangi racun dalam paru-paru dan mengeluarkannya dalam bentuk lendir, sehingga nafas terasa ringan. Pembuktian secara empiris telah banyak yang merasakan efek positifnya. Sejarah Rokok Sin membuktikan “TAR” yang dihasilkan Rokok Sin sungguh berbeda dengan “TAR” rokok biasa.

Kini, rokok Sin tersebar hampir diseluruh pelosok negeri. Dengan cukup banyak varian rokok Sin yang memudahkan memilih rasa yang cocok sesuai selera. Harganya antara 60-135 ribu per slop, tergantung jenis variannya.

Ada dua latar belakang yang menginspirasi lahir-nya rokok terapi ini: Pertama, pengembaraan spiritual yang diyakini sebagai petunjuk Allah SWT. Sebab, sejak usia muda Kiai Abdul Malik adalah santri yang menekuni dunia spiritualitas dalam rangka pencapaian ridla ilahi. Pengembaraan spiritualnya dimulai sejak usianya masih 17 tahun. Ketika masih di Madura, Kiai yang lahir 38 tahun silam ini gemar menimba ilmu-ilmu spiritual kepada ulama-ulama besar.

Ketika hendak menempuh masa kuliahnya pun Kiai Abdul MaIik meminta kepada salah seorang gurunya, Habib Husain. Atas petunjuk sang guru, Kiai Abdul Malik meneruskan pendidikannya di jurusan teknik elektro Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang. Selain intens berguru kepada Habib Husain, dunia spiritual Kiai yang juga insinyur ini pun ditempa oleh Prof. Dr. Kadirun Yahya dari Medan.

Setelah lulus, sembari bekerja sesuai dengan diskursus ilmu yang dimilikinya, Kiai Abdul Malik juga tetap berguru kepada Habib Husain dengan istiqamah. Barulah sejak 2003, secara resmi Kiai Abdul Malik didaulat sebagai pengganti almarhum Habib Husain untuk menjadi Mursyid Tariqah Naqsyabandiyah Al-Husainiyah hingga sekarang.

Kedua, karena pengalaman medis Kiai Abdul Malik. Sejak 1996 Kiai Abdul Malik mendapat amanat dari Habib Husain untuk mengentaskan selalu membantu meringankan beban orang miskin dan anak yatim sesuai kemampuan. Karena salah satu kemampuannya adalah keahlian pengobatan alternatif, Kiai Abdul MaIik mulai membuka diri untuk senantiasa membantu pengobatan secara gratis kepada masyarakat kurang mampu dan mengasuh anak-anak yatim. Dari pengalaman inilah Kiai Abdul Malik merealisasikan ilham yang diterimanya dengan meracik ramuan tradisional dikombinasikan dengan tembakau yang kemudian berbentuk rokok terapi ini.

Kini, rokok yang diproduksi dalam tujuh varian ini telah tersebar di hampir seluruh pelosok negeri, baik distributor internal jama’ah maupun distributor di luar jama’ah. Selain karena kemujaraban khasiatnya, ini juga disebabkan karena komitmen jama’ah tariqah Kiai Abdul Malik untuk mengem-bangkan usaha ini demi fakir miskin dan anak yatim.

Sejak awal, Kiai Abdul Malik memang berniat agar sebagian hasil penjualan rokok ini dimanfaatkan untuk kegiatan sosial. Selain dapat membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat sekitar, dalam bagian tertentu pihak pengelola perusahaan selalu mendistribusikan hasil pen-jualannya untuk membantu fakir miskin dan anak yatim secara periodik. Setiap bulan selalu ditransfer sejumlah uang ke beberapa rekening yayasan atas perintah Kiai Abdul Malik.

Demikian tanggapan penDuduk Selingkar:

Sulaiman: "Sebagai non-perokok, saya kira perusahaan-perusahaan rokok harus pula melakukan upaya-upaya agar produknya terkendali. Agar tidak membahayakan konsumennya, minimal ya menyelenggarakan rehabilitasi."

Irfan: “Matamu! perusahaan rokok merehabilitasi wong ben ra ngerokok? Kui jenenge bunuh diri, Dab! Huahaha..”

Sulaiman: “Bukan begitu, Bung. Ada salah satu petuah dari bang Philip Morris yang membuat saya sangat interest sekali dengan diskusi ini; Jika ingin menghancurkan bangsa maka amunisinya adalah dengan rokok. Hahahahahahahaha. Saya sempat ketawa kecil ketika melihat sebatang rokok cilik tapi kok iso yah menghancurkan bangsa?

Ketika otak saya berrefleksi dan dibenturkan dengan pemikiran orang-orang absurd ini, maka beberapa analisis berhamburan keluar. Ringkasnya: yang dimaksud menghancurkan bangsa adalah dengan menjadikan rokok ini sebagai topik perbincangan dan perdebatan utama di setiap kalangan yang eksis di Indonesia. Mulai dari kelas kecrengan alias receh sampai kaum raja-raja.

Rokok menimbulkan problem yang dilematis. Dari hanya sebatang saja dapat ditarik ke dalam berbagai bidang yang tersebar disetiap lini. Hukum, ekonomi, budaya, sosial, politik, bahkan agama saja ikut nyangkem, pake doktrin teologi lah, dalil lah, ahhh asu lah pokoke!

Kita tilik saja dari peliknya sudut pandang kesehatan. Di satu sisi, kementerian kesehatan menjudge begitu saja bahwa pada 2004 saja mereka mengeluarkan dana sekitar Rp 127 triliun rupiah untuk mengatasi berbagai masalah kesehatan yang timbul akibat rokok, padahal sakitnya perokok tidak semua disebabkan oleh rokok itu sendiri.

Artinya, rokok bukanlah sebgai faktor utama yang menyebabkan sakit atau modar. Ada beberapa bahan konsumsi lain yang kandungan zatnya lebih medeni daripada rokok, sebut saja ‘micin’, kafein sing neng kopi, dan sebagainya. Herannya dana 127 triliun iku 7 kali lebih besar daripada devisa cukai yang masuk ke kas yang hanya 16,5 triliunan. Di sisi lain, kemenkes juga ‘logically’, menerima dana bea-cukai rokok, pastilah, kan pajak rokok devisa yang paling besar bagi negara.

Durung ditambah persoalan teologi agama yang seringkali membuat ricuh, padu karo gelut. Contohe kaya seminar di Jombang yang menyebutkan bahwa rokok itu menimbulkan syirik dan sebagainya. Akhire seminare ricuh lan pada gelut, ya kaya kue lah.

Maka, menurut saya, tidaklah pantas memperdebatkan rokok terlalu berlebihan, cukup saling hormat-menghormati saja, toleransi, dan saling menghargai. Para perokok ya tulunglah pengertian sama orang yang gak ngrokok, lan orang ang rokok ya tulunglah aja ekstrim sok-sok an mbacot rokok haram lah, sirik lah, apa lah.”

Ahlis: "Walau bagaimanapun, aktivitas merokok harus sesuai kebutuhan dan keadaan, baik fisik maupun ekonomi. Nggak boleh sembarangan, ya sama halnya dengan aktiitas-aktiitas relaksasi lainnya lah.."

Said: "Bicara rokok berarti kita bicara perputaran uang dan konglomerasi kelas kakap. Alangkah asiknya jika kita bisa turut menikmati bocoran-bocoran kapitalisme ini. Tinggal kita cari bagaimana caranya biar bisa melobangi kantong-kantong uang itu biar meluber ke orang-orang kecil."

Rijal: "Dalam setiap batang rokok ini menjadi simbol pertahanan bangsa dan negara. Jika sampai dikuasai dan dikelola oleh pihak asing, maka runtuhlah salah satu gerbang pertahanan kita."

Abdul: "Masalah rokok ini persoalan pelik, ia bisa ditarik ulur ke bidang apa saja. Politik, ekonomi, sosial, budaya, bahkan agama. Maka harus ada titik tengah antara blok kiri dengan blok kanan, antara pro dan kontra. Dan titik itu adalah toleransi antar keduanya."

Nasrullah: "Dalam hal rokok, apapun persoalannya pasti yang menjadi korban adalah orang-orang kecil. Mulai dari petani tembakau hingga mereka yang kere dan dituduh penyakitan karena sebab rokok."

Irfan: "Merokok memang membuat ketagihan karena enak. Tapi harus diiringi kekhusyuan."

Fahmi: "Rokok bukan candu. Itu tergantung mindset, sifatnya psikologis, psikis bukan fisik. Selain itu, tingkat keberbahayaan rokok tergantung kondisi kesehatan pengisapnya. Jika berlebihan, ya jelas berbahaya. Jika ala kadarnya, tak masalah asalkan sesuai dosis dan seperlunya, untuk relaksasi misalnya. Toh, tubuh manusia itu unik, memiliki karakteristik ketahanan sendiri-sendiri dan tak bisa disamaratakan. Masuk ke ranah kartel bisnis rokok nasional maupun internasional, ada baiknya kita memahami serta memilah hubungan antara kebutuhan masyarakat, pengelolaan sumber daya alam dan manusia, kapitalisme perusahaan, pemasukan negara, hingga fasisme dunia kedokteran. Maka kita akan sampai pada posisi moderat: tidak anti terhadap rokok, tidak pula fanatik terhadapnya. Kita musti adil."

Zia: "Perjalanan rokok dari nyala hingga memuntung persis kisah umur manusia. Ketika rokok dibakar pertama kali bagai terlahirnya bayi, usia hidup di dunia dimulai. Dihisap atau cuma digeletakkan, rokok tetap akan terbakar habis. Begitu pula usia, dimanfaatkan atau hanya dianggurkan, ia tetap akan habis lalu mati."

 [o]