Kamis, 31 Oktober 2013

Para Penjaga Api

Trotoar Kantin Tarbiyah, 31 Oktober 2013 | Penyaji: Muhammad Budi Mulyawan

“Saya boleh ikut gabung ya..” ucap Pak Kantin di sela-sela obrolan sembilan anak muda nggak jelas sore itu. Ya seperti biasanya, Kamis sore di Trotoar Kantin Tarbiyah UIN Sunan Kalijaga.

Dengan lubang hidung yang kembang kempis seperti Squidward, Irfan mulai menjelenterehkan kronologi gerakan-gerakan pemuda hingga terjadilah Kongres Pemuda 28 Oktober 1928. Lalu ia melanjutkan kisah hingga ketika kaum muda diposisikan seperti herder yang lehernya dirantai ke pasak besi. Mereka bisa menggonggong namun tak bisa beraksi. Bergerak sesenti, beredel! Sehasta, hajar! Semeter, dor! Menurutnya, perbedaan mencolok yang terlihat di antara gerakan pemuda dahulu dan sekarang adalah independensi.

“Anak-anak muda sekarang manja. Kebanyakan gerakannya tidak jelas. Bahkan tidak sedikit dari gerakan-gerakan itu yang hanya menjadi proyek materialistis. Mungkin hal seperti ini sudah jadi mindset di kepala anak-anak pergerakan jaman sekarang akibat didikan ‘kenyamanan’ ala Orde Baru. Akibat cara pandang serba materi inilah semua langkahnya salah arah. Sekencang apapun kita berlari, jika arahnya sudah salah, tentu akan tersesat dan semakin jauh dari tujuan. Dan arah itu bernama ‘materialisme’ yang beranak-pinak menjadi kapitalisme. Semua hal, fisik maupun non-fisik, dibanderol dengan harga dan mengikiskan nilainya. Sehingga potensi lokal yang berbasis kesejahteraan bersama menjadi tidak berdaya di hadapan cengkeraman kapitalis.

Banyak kumpulan atawa organisasi pemuda yang sudah lupa makna dari fungsi pengayoman budaya dan inti sosial masyarakat. Malah justru seperti sekumpulan Event Organizer, fokus acara hedon dan melupakan kesederhanaan yang dibutuhkan masyarakat.” ungkap Irfan, khas anak pergerakan.

“Betul!” sahut Mukid alias Si Wowo, “Sebenarnya, langkah yang bisa ditempuh adalah terjun langsung di tengah masyarakat secara riil, melakukan apapun yang konstruktif di tengah rakyat, sekecil apapun perannya. Dan anak-anak muda lupa itu. Hal yang perlu dilakukan orang-orang yang tidak punya akses pengaruh terhadap kebijakan pemerintah adalah dengan menjaga keayeman dan kedamaian masyarakat secara langsung. Rasa-rasanya percuma orang-orang di atas kita teriaki tapi pada kenyataannya mereka tuli. Mending langsung saja kita bergerak di akar rumput tanpa harus galau tidak diperhatikan pemerintah.”

“Nah itu dia! Bahkan pemerintah itu sejatinya nggak ada, Mas!” seru Budi, seorang bakul batik alumni Geografi UI yang sedang nyasar di Jogja. Ia berkesempatan bagi-bagi pengalamannya di forum absurd Selingkar sore itu.

“Gini Mas, kalau kita lihat realita sekarang ini, negara sudah tidak ada. Kebijakan hukum, politik, ekonomi, hingga harga-harga beredar semuanya dikendalikan oleh para kapitalis. Pemerintah alias government; is under control. Itu realita,” ungkap Budi sambil memaparkan sampel-sampel konkrit ketidakberdayaan negara di bawah komando kapitalis.

“Saya punya teori,” lanjut Budi dengan logat Tegalnya yang macho, “Di negeri ini ada lima tingkatan pemeran dalam kebijakan pemerintahan. Kita mulai dari level paling bawah, kelima, kaum intelektual; ini berisi para pakar di ranah keilmuan masing-masing, para professor, para doktor, akademisi, masuk di sini. Tapi mereka hanya punya kuasa berteori dan berkonsep. Sebagus apapun konsep yang mereka susun, tetap kalah sama kuasa tingkat keempat, yakni penguasa, politikus. Mereka punya power untuk menentukan kebijakan di lapangan. Memang tidak sedikit yang sampai di level ini sebab prestasi, namun tak sedikit pula yang menduduki level ini lewat jalan money-politic.

Nah orang-orang yang selalu cari untung dari posisinya ini tunduk di bawah sihir uang dan giuran proyek dari level di atasnya, yakni pengusaha. Inilah para pengendali pemerintahan sebenarnya, pemerintah hanya pion-pion tak berdaya. Anehnya, level ini masih ‘kalah’ dengan level di atasnya, yakni dukun. Ini beneran, pengusaha-pengusaha besar banyak yang menumpukan langkah-langkah bisnisnya di tangan para dukun lho, mulai dari penyematan nama produk bahkan sampai pengupayaan tender proyek. Edan sekali. Namun keempat level ini masih ‘kalah’ kontrol di tengah masyarakat secara riil, level peringkat pertama ini diisi oleh para spiritualis; yakni ulama, guru, atau pendeta.”

“Memang,” sambungku, “Seperti pergerakan melawan penjajah Belanda, Jepang, hingga Inggris, hampir semua bermuara dari komando para ulama. Banyak fatwa agamawan yang diakui dan disepuhkan di tengah masyarakat menjadi batu pijakan untuk melakukan gerakan-gerakan sosial militan. Resolusi Jihad yang menjadi embrio Pertempuran Surabaya menjadi contoh nyata adanya ‘kekuatan’ fatwa ulama. Namun power seperti ini seakan tidak ada lagi saat ini, atau belum muncul lagi, masih hibernasi. Dan parahnya, kalau kita mau perhatikan betul-betul, sudah banyak upaya kapitalis untuk meruntuhkan kepercayaan masyarakat terhadap pemangku kontrol sosial level satu ini. Baik itu melalui jeratan politik hingga rayuan-rayuan gombal finansial. Namun untungnya, masih banyak ulama yang terus bertahan dengan perjuangan gerilya, melalui pesantren maupun lembaga-lembaga informal yang dibinanya, untuk menanamkan kebaikan dan perbaikan di dalam inti masyarakat bernegara; yakni keluarga.”

Beberapa detik forum hening, entah karena merenungi buncahan-buncahan kata-kata yang beterbangan di atas kepala mereka atau karena kehausan sebab gelas-gelas minum sudah kering kerontang.

Setelah beberapa kali mengembuskan asap rokok secara khas seperti bunyi kucing bengek, Sayd berujar, “Dari pemaparan Sampean, berarti kita musti sadar posisi. Pemuda itu ada dimana dalam struktur level yang Sampean buat itu? Sepertinya memang posisi pertama yang ditempati ulama adalah tempat yang tepat untuk membaurkan diri. Dan gerakan model gerilya alias bergerak bebas, independen, secara riil di tengah masyarakat adalah cara paling efisien dan efektif sekarang ini. Namun tidak seharusnya jika empat level yang lain ditinggalkan oleh pemuda macam kita ini. Jika level-level bermasalah itu bisa diisi oleh orang-orang berakal sehat, apalagi mau berintegrasi dengan kalangan spiritualis yang independen, wah pasti dampaknya luar biasa!”

“Iya!” sahut Pramono, “Agar pemuda bisa bergerak tanpa tekanan dari pihak-pihak yang berkepentingan busuk, maka ia harus berusaha merdeka, independen. Termasuk merdeka dari dominasi persepsi wanita. Karena tidak sedikit semangat pemuda yang tersembelih ketika berhadapan dengan segala macam tuntutan manja wanita.”

“Itu dia Mas!” sambung Budi, bersemangat. “Kualifikasi wanita terhadap calon suaminya juga mempengaruhi tingkah laku pemuda. Sekarang ini prototype pria idaman para cewek adalah mapan sukses, bermobil, kaya dan rupawan. Bila saja cewek-cewek bersikap realistis manusiawi, tidak materialistis, pokoknya mensyaratkan laki-laki yang bertanggung jawab, meskipun kantongnya tak begitu tebal, masalah kebutuhan materi diusahakan bersama. Dan cara pandang massal seperti itu akibat kebanyakan mengonsumsi tontonan dan bacaan picisan.

Betapa banyak figur-figur publik yang sedang beken di media sosial dan mempengaruhi mindset cewek-cewek jaman sekarang. Mereka mengumbar definisi kebahagiaan dan pria idaman tersendiri, sehingga menjadikan para pemuda kikuk untuk melakukan berbagai macam kreativitas pergerakan sosial. Kenapa? Karena tekanan kaum wanita, apalagi mereka yang punya pacar. Akibatnya, banyak mahasiswa galau yang nguber wisuda karena diuber kawin. Sehingga dia nggak punya energi lagi untuk mencurahkan daya pikir di ranah sosial kemasyarakatan. Ketika sudah mengemban gelar sarjana, mereka lepas dari usaha-usaha riil di tengah masyarakat yang sebenarnya sangat prospektif dan bermanfaat.

Wah, asupan-asupan dari berbagai media sangat berpengaruh bagi cara pandang pemuda-pemudi kita. Entah itu di media elektronik maupun cetak, lisan maupun tulisan, informative maupun sosial komunikatif. Dan semua itu didanai besar-besaran oleh kaum kapitalis. Contohnya, teman saya (atau mungkin dia sendiri –red.) mengatakan bahwa salah satu media kampanye cara pandang Barat terhadap wanita adalah melalui film-film bokep. Dalam adegan-adegan persetubuhan di film-film bokep bermadzhab Barat, entah Amerika, Eropa, maupun negeri-negeri Asia beraliran hardcore, selalu menempatkan wanita sebagai objek pemuasan hawa nafsu. Itu kejam. Jadi hakekatnya, ketika teman dia menonton adegan di film biru itu, sama saja sedang menonton adegan kebinatangan. Sama sekali tidak indah.

Berbeda jika pemuda mau mempelajari hal-hal vulgar semacam ini bukan dengan cara Barat, tetapi cara Timur. Apakah ada? Banyak! Karya tulis full imajinasi sudah ditorehkan oleh orang-orang terdahulu dari bangsa-bangsa Timur, entah itu India, Arab, Persia, bahkan Jawa. Di kitab-kitab ini wanita menjadi partner pria menuju puncak, bukan objek pemuasan nafsu.” Jelas Budi panjang lebar, sangat antusias.

Sambil membenahi posisi kacamatanya, mungkin masih bingung dan berimajinasi tentang teori bokep tadi, Teguh mengungkapkan kesimpulannya, “Yaa meskipun masih banyak hal-hal berseliweran di kepalaku akibat bahasan yang belum jelas, namun intinya, anak muda memang harus bersemangat. Dan obrolan semacam inilah upaya untuk menjaga semangat idealisme pemuda agar tetap menyala.”

“Benar! Tetap jaga api antum, jangan sampai padam akhi,” ujar Latif menutup pertemuan, sok imut. Senja sudah hilang, langit nampak menghitam, dan ‘api’ di dada kami makin menyala terang.


[o]

Kamis, 26 September 2013

Radikalisme Fundamental

Taman Masjid Kampus, Kamis 26 September 2013 | Penyaji: Sayd Nursiba
Di media, kita sering disodori berbagai macam istilah yang membelenggu, mendikotomi alias mengkapling-kaplingkan, bahkan terkesan memversuskan. Yakni antara fundamental, moderat dan liberal.

Katanya, fundamental berarti pendirian mendasar. Atau secara luas bisa dimaknai sebagai pendirian yang keukeuh terhadap suatu nilai tertentu. "Nggak boleh pacaran!" atau "Harus pacaran!" adalah dua kalimat berbeda yang sama-sama mencirikan sikap fundamentalis; yakni 'mengharuskan'.

Sedangkan orang liberal dimaknai sebagai pihak yang bebas dan seakan lepas dari nilai yang dipegang teguh fundamentalis. Kita tahu, terang Zia, hak orang lain adalah batas kebebasan kita. Jadi, ketika ada orang yang menghancurkan kuburan berkijing di tanah orang lain karena dianggap tidak sesuai dengan ideologi yang dianutnya, orang tersebut bisa juga disebut 'Liberal' karena dia bertindak 'bebas' menerjang batas. Hayoh.

Sedangkan sikap moderat diartikan tengah-tengah; meskipun ia bebas tetapi masih mengikatkan diri terhadap asas-asas yang ada. Posisi inilah yang -katanya- susah. Bagi fundamentalis, orang moderat bisa dianggap liberal. Bagi orang liberal, orang moderat bisa disebut fundamental. Atau bahkan sering disebut hipokrit.

Lalu sebenarnya apa makna 'fundamental', 'moderat', dan 'liberal'? Bagaimana memosisikan istilah itu dengan tepat dan indah? Demikian gugat Lutfi.

Ya embuh, tanggap Yasin, si High Quality Jomblo. Walaupun anggapan orang lain tidak penting, mau liberal kek, moderat kek, fundamental kek, koslet mental kek, you are who you are. Tapi rasa-rasanya penting juga bila kita obrolkan tentang hal ini, agar suatu hari -dimanapun dan kapanpun- kita tidak keseleo pikir dan kepeleset lisan dalam penggunaan istilah-istilah tersebut, terutama jika terpaksa melakukan apresiasi terhadap orang lain di tengah masyarakat. Kenapa penting? Karena kebanyakan kisruh sosial di tengah masyarakat muncul akibat judgement terhadap pihak-pihak tertentu oleh para provokator, sehingga menyulut reaksi lebay dari kita yang malas mikir ini. Betapa banyak sumber daya yang tersia karena konflik yang sebenarnya non-sense?

Apalagi bila dikaitkan dengan isu radikalisme agama. Semua jadi semakin blur tidak jelas.

Dewasa ini, para pemimpin, anggota dan pengikut gerakan Islamisme sedunia takut dan curiga kepada istilah radikal atau radikalisme. Jelas Irfan dengan analisa global. Hampir semua pemimpin islam berlomba-lomba mendapatkan label muslim moderat yang dikatakan beradab, damai dan pasif (disenangi oleh penguasa barat dan patuh kepada kehendak agenda Washington). Apalagi setelah radikalisme diberi suatu makna yang begitu negatif, sehingga dipersamakan dengan arogan, galak, ekstrim, brutal dan lain-lain.

Kita begitu waspada dan risau terhadap istilah radikal, sehingga kita tidak mau berhubungan apapun denganya, atau dikaitkan walau bagaimanapun. Begitu takut dikambinghitamkan dengan gelar islam radikal, sehingga gerakan-gerakan Islam sedunia dijinakkan dan dijadikan kambing hitam.

Inilah aspek komedi gerakan Islamisme dewasa ini. Pengaitan istilah radikalisme dengan fenomena negatif merupakan sesuatu yang salah! (baik dari historis dan juga logika). Dari sudut pandang etimologi, konsep itu tidak ada hubungan sama sekali dengan negatif. Yang lebih menjadi badut dari hal tersebut adalah terjadi suatu alih paradigma dan alih wacana yang menyebabkan terjadinya pengaitan antara radikalisme dan kekerasan.

Perubahan-perubahan seperti ini disebabkan oleh faktor-faktor institusi, relasi kuasa dan struktur kuasa tertenu, dan bukanlah hasil usaha geng-geng jin dan hantu pocongan yang dikhawatirkan. Agensi-agensi yang terlibat dalam peralihan wacana dan paradigma ini di antaranya golongan pers mainstream, pemerintah-pemerintah negara maju, kroni-kroni mereka di negara berkembang, dan malangnya konsep radikalisme keselipan sejumlah gerakan islamis itu sendiri.

Peralihan wacana ini tidak terjadi begitu saja. Ada sebab-sebab tertentu mengapa demikian. Untuk memahami proses ini dan sebab musababnya, kita perlu bermula dengan suatu kajian pendekatan histori, kembali kesuatu era dimana kata radikalisme tidak dianggap berbahaya, justru bernilai positif dan diagung-agungkan.

“Ya, betul,” sambung Said, pemateri gaek dari Madukismo. Pada akhir abad ke19 dan pertengahan abad 20, gerakan nasionalis dan anti kolonialis di dunia ketiga dipimpin dan diterajui oleh tokoh-tokoh radikal yang hebat dan berkepribadian tinggi serta mulia. Tokoh-tkoh Asia seperti Jose Rizal dari Filipina, Pridi Banomyong di Siam, Nguyen Cho Thactht di Vietnam, Bung Karno, Bung Hatta, Cokroaminoto, Ki Hajar Dewantara, Haji Agus Salim, Kiai Ahmad Dahlan, Kiai Hasyim Asy'ari dari Indonesia, mereka semua bisa dikatatakan radikal pada masa tersebut.

Mengapa? Karena mereka berusaha untuk membebaskan kampung halaman (negara) dan masyarakat dari beban hidup di bawah rezim kolonial yang tidak adil. Dalam perjuangan, mereka tidak berkompromi dengan status quo yang ada secara total. Penentang yang total inilah yang menyebabkan mereka dianggap radikal oleh pihak kolonial. Tokoh-tokoh ini sadar bahwa perubahan dan kemerdekaan yang sempurna tidak akan dicapai selagi struktur kuasa dan relasi kuasa lama masih melekat. Oleh karena itu, fokus penentangan mereka diarahkan kepada sistem politik dan institusi politik kolonial yang tidak adil tersebut.

Dewasa ini kuasa besar Amerika menggunakan pula label radikal untuk meminggirkan musuhnya (sang penegak keadilan). Aneh sekali bukan? Padahal Amerika juga didirikan oleh pemimpin-pemimpin yang dahulunya dianggap radikal. Contohnya George Washington yang memberontak menentang kerajaan Inggris pada abad 18, juga digelari radikal oleh raja inggris pada zamanya. Amerika tak mungkin ada tanpa gerakan pro kemerdekaan yang radikal. Jadi, mengapa pemimpin Amerika saat ini takut kepada aliran-aliran ide dan politik yang berwajah radikal? Apa jangan-jangan mereka dihantui bayang-bayang mimipi buruk mereka? Atau, mungkinkah mereka sadar bahwa sekarang ini Amerika bukan lagi suatu negara terjajah, tapi negara yang menjajah dan dianggap sebagai negara penjajah? Entahlah!

Mukid tetap memperhatikan ekspresi penyaji dengan penuh nafsu, Said grogi dan kebingungan.

[o]

Kamis, 01 Agustus 2013

Berani Bermimpi

Lobi FITK UIN Sunan Kalijaga, 1 Agustus 2013 | Penyaji: Bastian Febrianto
Sore di bawah panggung mendung dan di antara irama hujan, penDuduk Selingkar mencari kutub kehidupannya. Mencari magnet yang dapat menarik dirinya untuk bergerak menuju kutubnya masing-masing. Disuguhi adonan mimpi dan motivasi membuatnya terasa semanis brownis. Walau mungkin saat memakannya akan menyendat tenggorokan. Segelas air tekat, nekat, dan semangat akan segera melancarkannya. Melancarkan mimpi itu menuju usus halus kehidupan. Mencerna dan menyerapnya, hingga menjadi daya gerak bagi sang pemimpi.

Buku berjudul "Soetanto Effect" yang dikupas oleh Bastian Ev menunjukkan bagaimana pentingnya bermimpi. Lalu, apa kata penduduk tentang mimpi setelah saling berdiskusi?
Zainal Muhidin: "Kita harus tahu bahwa hidup adalah perjuangan. Dan harus tahu pula apa yang kita perjuangkan."

Pramono: "Hidup harus punya impian! Meskipun impian tidak harus selalu terwujud."

Muhammad Adami: "Bermimpilah! Tapi jangan lupa bercermin.."

Muhammad Farid: "Mimpilah setinggi mungkin, dan jika itu tak tercapai, setidaknya ada impian-impian di bawahnya yang bisa kita gapai."

Sayd Nursiba: "Seperti yang dikemukakan Sir Muhammad Iqbal; mati dalam perjuangan untuk mewujudkan mimpi-mimpi adalah kebahagiaan."

Muhammad Abdulloh: "Dalam menggapai mimpi, harus ada motivasi!"

Mahfut Khanafi: "Bermimpilah namun jangan lupakan realita. Pintarlah tapi jangan pintar sendiri. Kayalah dan jangan pula kaya sendiri."

Vendi Hermawan: "Harus nekat dalam meraih mimpi!"

Affandi: "Wajar jika terjatuh, namun jangan terpaku kepada momen kejatuhan, tapi berupayalah bagaimana caranya bangkit!"

Ayik Abdulloh Sadam Husen: "Bermimpilah!"

Saikhul Semangat: "Mimpilah yang tinggi, dan jangan takut terjatuh."

Awan Al-Lathief: "Jangan hanya punya satu mimpi besar, harus ada mimpi-mimpi lain yang beraneka ragam."

[o]

Sabtu, 29 Juni 2013

Kesatuan Tanpa Keseragaman

Pendopo LKiS Sorowajan, Sabtu 29 Juni 2013 | Penyaji: Habib Ismail Fajrie Alatas
Sabtu lalu, 29/06/2013, pukul 19.40 kami para penDuduk Selingkar baru sampai di lokasi diskusi, yakni Pendopo LKiS di Sorowajan, padahal acara telah dimulai satu jam sebelumnya. Beberapa gadis manis kader IPPNU menyambut kami di meja tamu. Setelah mengisi buku tamu atas nama Selingkar [o], mengambil beberapa gelas teh dan kopi, serta mencomot beberapa piring kwaci, tahu dan roti, kami langsung memosisikan diri di pendopo panggung selatan, karena pendopo utama sudah penuh oleh pengunjung.

Saat itu Habib Aji sudah sampai pada pembahasan tentang cakupan Islam yang tidak hanya di ranah spiritual dan etika, tetapi juga tatar fisik ritual. Maksudnya, berbagai macam aturan yang terkait dengan fisik dalam agama merupakan ‘persiapan’ wujud wadag (body) sebagai bejana Cahaya Ilahi. Berbeda dengan pandangan aliran pemikiran liberal yang mengusung spirit religio-ethic Islam tetapi hendak menolak dan meninggalkan tata ritual fisik.

Dalam kesempatan ini Habib Aji menyampaikan berbagai hal berkaitan dengan lokalitas budaya umat dan pluralitas sosial keagamaan, khususnya dalam cakupan Islam. Para ulama, menurut beliau, tidaklah cukup hanya menguasai dan memahami tradisi tekstual keagamaan saja, melainkan juga harus memahami kondisi kontekstual masyarakat dengan segala adat budayanya. Sehingga ia mampu mengakomodasi khazanah keilmuan Islam, fiqh misalnya, untuk disosialisasikan di tengah masyarakat dengan bahasa yang mudah dicerna dan meresap.

Seperti seluk beluk mistisme masyarakat lokal, spirit possesion (kesurupan), dan hal-hal lain semacam itu juga seharusnya tidak luput dari perhatian ulama-ulama lokal di masing-masing daerah.

Sehingga para ulama yang terjun di masyarakat tidak hanya mumpuni dalam masalah-masalah keagamaan, tetapi juga bisa menegosiasikan tradisi teks historis dari generasi salafussalih dengan lokalitas yang dihadapi secara riil. Hal ini meniscayakan adanya perbedaan-perbedaan hukum yang khas di setiap daerah yang berbeda secara geografis maupun waktu. Keislaman di suatu daerah di Afrika bisa saja berbeda dengan keislaman masyarakat di pelosok Aceh, atau di sudut Jawa Timur, misalnya.

Namun keberagaman itu tetap dapat disatukan, salah satunya dengan tetap dilestarikannya rantaian sanad keilmuan dari murid ke guru, guru ke gurunya, terus bersambung hingga Rasulullah saw. Sanad keilmuan ini bisa menyatukan keberagaman itu karena bersifat trans geografis dan trans historis.

Beginilah keadaannya sehingga Islam bisa menjadi roh di setiap generasi dan peradaban. Beliau juga menyampaikan telaah kritis terhadap pandangan Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha yang memosisikan Islam sebagai objek. Ketika Islam ditempatkan sebagai objek, maka asumsinya Islam bisa diperlakukan sebagai ‘korban’ oleh manusia, bukan sebagai roh, di luar diri. Muncullah anggapan bahwa Islam adalah suatu agama yang bisa bangkit, runtuh, dihina, dibela, dipuji, dicaci, dan kini harus dibangkitkan kembali dalam lintas sektor kehidupan berskala global secara formal.

Pandangan semacam ini, menurut beliau, tidak sepenuhnya tepat. Karena, selain paradigma ini merupakan pola pikir antropolog orientalis, juga suatu kenyataan bahwa Islam sejak awal merupakan jiwa dan poros gerak umat, bukan sebagai objek, bukan pula produk. Apalagi jika paradigma seperti ini ditindaklanjuti dengan upaya penyeragaman hukum Islam secara global di daerah-daerah yang memiliki kearifan lokal berbeda-beda.

Dengan dimoderatori oleh Gus Irwan Masduqi, Lc. (Mlangi), beberapa peserta diskusi dipersilakan mengajukan tanggapan dan pertanyaan.

Menanggapi pertanyaan salah seorang peserta tentang clash yang terjadi sesama umat Islam karena alasan perbedaan. Habib Aji berpendapat tidak perlu ada penyatuan aliran-aliran yang berbeda. Namun di sisi lain, konsepsi kita terhadap makna persatuan harus ditata. Di sinilah pentingnya dialog intensif antara negara sebagai ranah kekuasaan mentah dan ulama yang bersifat konsultatif. Sehingga benar-benar terwujud kesatuan tanpa keseragaman.

Dalam tanggapannya, Alissa Wahid (Koordinator Sekretariat Nasional Jaringan Gusdurian dan Dewan Pembina Wahid Institute) menyampaikan apresiasi terhadap aktualitas tema yang diangkat dalam diskusi malam itu. Mbak Lisa, begitu ia disapa, juga mempertanyakan bagaimana implementasi yang efektif atas hasil-hasil diskusi di forum-forum semacam ini di tengah masyarakat.

Habib Aji menawarkan gagasan pentingnya implementasi ide secara praktis di dalam individu maupun komunitas kita sendiri, khususnya NU. Ia mengatakan bahwa problem yang dihadapi mayoritas kaum muda NU adalah keengganan untuk bergerak, namun baru bersikap reaktif ketika ada pihak luar yang merongrong akidah maupun amaliah. Inilah titik di mana kaum muda NU harus melakukan introspeksi.

Menurut pandangan beliau, tidak sedikit anak-anak muda NU yang mengidap penyakit gengsi ketika sudah membahas perkara-perkara pelik keagamaan atau mulai bersentuhan dengan pemikiran-pemikiran modern. Mereka mulai malas untuk terjun di tengah masyarakat dalam rangka memahamkan hal-hal dasar yang sederhana, merasa bukan kelasnya.

Dalam hal ini, Habib Aji mencontohkan sosok KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur. Menurut Habib Aji, Gus Dur adalah sosok yang tidak hanya mampu berdialog kritis dengan para filsuf kelas dunia, tetapi juga bisa menjalani peran sebagai kiai kampung dengan apik dan berbicara dengan masyarakat yang buta huruf sekalipun.

Gus Dur itu, menurut Habib Aji, bukanlah tokoh pemikiran modern progresif, melainkan sepenuhnya merupakan model tokoh tradisonalis. Sebab itulah keadaan khalayak yang merasa sebagai makhluk modern tidak bisa memahami jalan pikir beliau. Namun Habib Aji juga mengkritik istilah ‘Pribumisasi Islam’ yang sering disandarkan kepada sosok Gus Dur. Menurutnya, istilah ‘pribumisasi’ menyatakan seakan-akan ada Islam yang asli di suatu tempat dan zaman kemudian ‘diturunkan nilainya’ agar berkesesuaian dengan lokalitas pribumi. Hal ini tidak berbeda dengan konsep Islam sebagai objek sebagaimana  telah diulas di atas.
Banyak lagi poin-poin mencerahkan yang disuguhkan Habib Aji, khazanah keilmuan Islam Afrika-Asia, thariqah, konsensus fiqh (ijma’), konsep Instansiasi, Manifestasi, hubungan negara-agama, kasus Habib Utsman bin Yahya Mufti Betawi, Derrida, Adorno, al-Ghazali, hingga keterbatasan epistemologi dalam memahami realita ontologi. Mengenai hal yang terakhir ini Habib Aji mengajukan suatu pertanyaan sederhana,

“Dalam ilmu Nahwu, kita pakai yang paling dasar: Jurumiyyah, apa itu pengertian al-kalam? Al-Kalamu huwa al-lafdzu al-murokkabu almufiidu bi al-wadh’ie. Kalam (kalimat) adalah susunan kata-kata yang memiliki makna dan muncul secara concious . Lalu bagaimana dengan ‘Alif Laam Miim’ di ayat pertama surah al-Baqarah itu, bisakah disebut sebagai kalam menurut definisi kalam ala ilmu Nahwu?”

Gelitikan semacam ini menggambarkan bahwa betapa terbatasnya sistem epistemlogi manusia untuk bisa memahami realitas ontologi, seperti halnya dalam memahami Kalam Tuhan dan Tuhan itu sendiri. Sehingga para ulama di setiap kali mengakhiri tulisannya dalam buku-buku klasik maupun kontemporer selalu membubuhkan pernyataan yang penuh kesadaran bahwa tidak ada yang benar-benar memahami realita sejati selain Allah subhanahu wa ta’ala, yakni dengan menorehkan;

Wa Allahu A’lam. Allahlah yang paling tahu.

[o]

Sabtu, 09 Maret 2013

Peran Pesantren dalam Pendidikan Nasional

Pelataran Kraton, Sabtu 9 Maret 2013 | Penyaji: Sayd Nursiba
Malam minggu selalu ramai di Jogja, khususnya wilayah Malioboro - Nol Kilometer - Alun-alun Utara. Wisatawan lokal maupun mancanegara hilir mudik menikmati eksotisme kota sejuta pesona ini. Di tengah hiruk pikuk itu, ada segerombol pemuda menggelar jamuan di selatan alun-alun, di gerbang barat pelataran keraton. Rona kebahagiaan jelas terpancar dari wajah-wajah mereka. Diawali dengan ritual santap nasi kucing bersama, dilanjutkan petikan gitar dan nyanyian porak poranda, kemudian dilanjutkan dengan diskusi santai Selingkar.

Malam itu mereka membahas Peran Pesantren dalam Membentuk Kepribadian Bangsa dalam tema Budaya. Dipaparkan oleh Sayd dengan apik;
Manusia sejak lahir memiliki kualitas yang berbeda dari mahluk Tuhan lainnya, baik fisik maupun non fisik. Sujarwa dalam bukunya, ‘Manusia dan Fenomena Kebudayaan’ mengatakan; ketika dilahirkan pertama kali, keadaan manusia sama sekali kurang matang dan dalam proses pertmbuhannya ia harus bergantung kepada sesamanya atau orang lain di sekitarnya.

Dalam proses perkembangan menuju kematangan individu sering terjadi persaingan dan konflik dalam dirinya. Hal ini menunjukkan dalam diri manusia terdapat usaha untuk membentuk dan mengubah diri agar bisa menjadi individu yang lebih baik. Olehkarena itu, pada dasarnya, manusia telah mempunya potensi baik dan buruk dalam dirinya serta diberikannya kebebasan memilih dan mengaktualisasikan dua potensi tersebut.

Dalam mengembangkan dua bentuk potensi ini manusia lebih dominan untuk dipengaruhi dan dibentuk dengan kondisi lingkungannya, karena perkembangan hidup manusia tidak cukup hanya ditentukan pengalaman pribadinya, namun lebih banyak ditentukan oleh kempuan untuk belajar dan penerima pembembelajaran. Hal ini dikerjakan dengan maksud mengembangkan dan mempersiapkan seseorang untuk kehidupan dunia dan akhiratnya.

Kebutuhan manusia untuk ruhnya yang utama adalah agama, yang teraktualisasikan dalam bentuk ibadah. Maka kesadaran beragama perlu ditanamkan sejak dini, dan harus menjadi frame bagi kehidupan manusia untuk menjiwai hidup berbudaya, berpolitik, bersosial dan beretika. Seseorang yang sejak awal diperkenalkan nilai agama maka diharapkan corak kepribadiannya diwujudkan yang bersifat islamai. Nilai-nilai agama ini sangatlah berperan dalam pembentukan sikap mental bagi seseorang.

Ditinjau dari perspektif pendidikan, yang mengemban tugas mewujudkan semua itu adalah lembaga informal, formal, dan nonformal.  Pesantren menjadi salah satu bentuk lembaga pendidikan non formal karena eksistensinya berada dalam jalur pendidikan masyarakat. Ia memiliki program-program pendidikan yang disusun sendiri, pada umumnya bebas dari ketentuan formal. Semua program ini dilaksanakan dalam proses belajar bersama lingkungan kehidupan pondok dan diawasi secra langsung oleh kyai dan para asistennya. Maka pesantren bukan hanya tempat belajar mengajar, melainkan proses kehidupan sendiri.

Peran penting dari lembaga pondok pesantren adalah sebagai alat tranformasi kultur yang menyeluruh dalam kehidupan masyarakat. Jawaban terhadap panggilan keagamaan dan pengayoman serta pendidikan kepada masyarakat yang bersedia menjalankan perintah agama dan hubungan antar mereka.

~

Setelah melalui tiga jam durasi diskusi (21.30 - 00.30). Masing-masing penduduk mengemukakan kesimpulannya;

Luqman: "Ada berbagai macam corak yang dimiliki pesantren-pesantren di Nusantara. Keberagaman inilah yang menjadi potensi dan kekuatan pesantren untuk berkiprah di masyarakat sesuai kebutuhan."

Alvin Nurkholis: "Pengaruh yang ditanamkan oleh pesantren tidak terlepas dari fitrah manusia, yakni sebagai 'abdullah (vertikal) dan khalifatullah (horisontal)."

Mahmud: "Adanya karakteristik khas di pesantren merupakan kebijaksanaan dari sosok pusatnya, yakni Kiai (pengasuh pesantren). Sehingga beliau-beliaulah yang secara tidak langsung memiliki pengaruh di masyarakat melalui lembaga pesantren dan santri-santrinya di kemudian hari. Maka bagi para calon kiai untuk bisa menempatkan diri serta melihat kebutuhan masyarakat secara riil."

Latif Himawan: "Melihat peran santri yang begitu berat ketika sudah terjun di masyarakat, maka sudah semestinya sosok santri bisa menarik hati masyarakat. Bila dahulu masyarakat hormat terhadap orang-orang alim, sekarang masyarakat tampaknya memberikan perhatian kepada hartawan. Maka perlu dipertimbangkan agar sosok santri bisa menjadi tokoh yang hartawan juga."

Sutri Cahyo Kusumo: "Apa yang dilakukan pesantren dan unsur-unsur di dalamnya tak lepas dari kaidah; menjaga hal yang baik dan mengambil hal yang lebih baik. Nah, untuk mengetahui nilai suatu hal, apakah baik atau tidak, maka diskusi semacam ini sangatlah dibutuhkan."

Irfan Wahyu Adi Pradana: "Pioneer perubahan di masyarakat, dalam hal ini adalah sosok santri, jangan agu dan takut untuk bergesekan dengan realita di masyarakat. Tantangan harus dihadapi, bukan dihindari."

Dendy Cipto Setya Budi: "Pesantren kerap kali -di zaman sekarang- tidak menyentuh dan menggarap kalangan bawah, grassroot. Keadaan ini harus di-upgrade agar pesantren tidak menjadi seperti menara gading; yakni suatu lembaga eksklusif yang justru tak bisa dijangkau oleh masyarakat awam, sehingga meskipun keilmuannya mumpuni tetapi manfaatnya tak menyebar di kehidupan bermasyarakat. Sedikit kutipan dari puisi Rendra; apalah arti berpikir bila terepas dari masalah kehidupan.."

Zia Ul Haq: "Sudah saatnya pesantren dengan unsur kiai-santrinya menjadi semacam Think-Tank bagi permasalahan-permasalahan aktual sosial kemasyarakatan, yang berhubungan dengan segala lini kehidupan, seperti budaya, ekonomi, politik, dan lain sebagainya. Tidak hanya menjadi majlis pembahasan masalah-masalah ritual keagamaan an sich."

Forum diskusi santai ditutup pukul setengah satu dini hari, dan pertemuan malam itu diakhiri dengan santap nasi goreng dan sruputan kopi.

[o]

Sabtu, 29 Desember 2012

Singularisme Agama-agama

Trotoar Kantin Tarbiyah, Kamis 29 Desember 2012 | Penyaji: Zia Ul Haq
Keberagaman agama di Indonesia tidak terlepas dari faktor sejarah dan sosial budaya. Fenomena yang terjadi dalam keberagaman itupun tidak bisa dilepaskan dari aspek-aspek sosial budaya yang melingkupinya. Adanya konflik atau pergesekan antar umat beragama merupakan suatu obyek kajian yang harus dicermati secara detail, apakah terjadi murni karena faktor agama itu sendiri, ataukah karena faktor-faktor eksternal berupa politik maupun ekonomi.
Sejarah telah menunjukkan kepada kita betapa pahitnya akibat dari konflik-konflik sosial bernuansa keagamaan. Hal ini tidak hanya terjadi di masa kontemporer tetapi juga di zaman klasik ketika nama “Indonesia” belum mengikat keanekaragaman bangsa di Nusantara. Konflik antara Kesultanan Islam Demak dengan Kraton Hindu-Buddha Majapahit misalnya, telah menyisakan kerugian yang tidak sedikit selama beberapa abad setelahnya.

Belum lagi jika kita mencermati beberapa persinggungan antaragama di zaman kontemporer ini. Konflik antara umat Islam dan Kristen di Poso sekiranya bisa menjadi sampel. Konflik di poso adalah salah satu konflik di Indonesia yang belum terpecahkan sampai saat ini. Meskipun sudah beberapa resolusi ditawarkan, namun itu belum bisa menjamin keamanan di Poso.

Pelbagai macam konflik terus bermunculan di Poso. Meskipun secara umum konflik-konflik yang terjadi di Poso adalah berlatar belakan agama, namun kalau kita meneliti lebih lanjur, maka kita akan menemukan pelbagai kepentingan golongan yang mewarnai konflik tersebut. Tampak sekali bahwa aktor-aktor dalam konflik sebenarnya sangat kompleks, melibatkan elemen-elemen birokrat, para pelaku ekonomi, di samping kelompok kultur keagamaan, yang pada gilirannya melibatkan pula kekuatan-kekuatan dari luar Poso dengan segala kepentingannya, mulai dari para laskar, aparat keamanan, birokrat pada level propinsi ataupun pusat yang memanfaatkan persoalan Poso untuk kepentingan kekuasaan.

Begitu pula dengan insiden Ketapang pada tahun 1998 terhadap gereja-gereja Kristen yang barangkali merupakan satu faktor penyebab peperangan Kristen-Islam di Ambon, yakni adanya hasutan antara orang Betawi (penduduk Jakarta asli). Sejak tahun 1990 telah terjadi serangan-serangan terhadap gereja dengan peningkatan momentum, mencapai klimaksnya pada insiden yang mengerikan tahun 1996 dan 1997 di Surabaya, Tasikmalaya dan Rengasdengklok, sedangkan di bagian timur Indonesia telah terjadi serangan terhadap masjid-masjid. Serta berbagai bentrok di penjuru tempat di Indonesia yang sayangnya diperparah oleh faktor politik, secara parsial dari TNI dan Polri serta orang-orang yang datang dari luar dan melibatkan diri di dalamnya.

Budaya kekerasan dan anarkisme yang didemonstrasikan oleh berbagai bentuk konflik di atas bisa berkembang setidaknya karena empat faktor.

Pertama, faktor modernisasi dan globalisasi.  Kedua, faktor akumulasi kebencian dalam masyarakat. Ketiga, mengguritanya budaya kekerasan di masyarakat. Keempat, faktor sosial politik.

Mari kita lihat konsep utama dasar keimanan agama-agama resmi di Indonesia:

Pokok-pokok ajaran Hindu tertuang dalam Panca Sraddha, yakni:

Percaya terhadap adanya Brahman (Sang Hyang Widhi); Percaya terhadap Atman yang merupakan percikan dari Atman tertinggi yakni Brahman; Percaya terhadap Hukum Karmaphala (balasan perbuatan); Percaya terhadap adanya Punarbawa atau lingkaran kelahiran kembali;Percaya terhadap adanya Moksa atau kelepasan jiwa dari ikatan duniawi.

Nilai-nilai kemoralan untuk umat awam Buddha dikenal dengan Pancasila:

Aku bertekad akan melatih diri menghindari pembunuhan makhluk hidup; Aku bertekad akan melatih diri menghindari pencurian/mengambil barang yang tidak diberikan; Aku bertekad akan melatih diri menghindari melakukan perbuatan asusila; Aku bertekad akan melatih diri menghidari melakukan perkataan dusta; Aku bertekad akan melatih diri menghindari makanan atau minuman yang dapat menyebabkan lemahnya kesadaran

Rukun Islam ada 5:

Mengucapkan dua kalimah syahadat dan meyakini bahwa tidak ada yang berhak ditaati dan disembah dengan benar kecuali Allah saja dan meyakini bahwa Muhammad adalah hamba dan rasul Allah; Mendirikan salat wajib lima kali sehari; Berpuasa pada bulan Ramadan; Membayar zakat; Menunaikan ibadah haji bagi mereka yang mampu. Umat Islam meyakini doktrin bahwa Agama Islam yang diturunkan oleh Allah melalui Nabi Muhammad adalah bentuk Kasih Sayang-Nya terhadap alam semesta atau rahmatan lil ‘aalamiin. Juga terkait dengan tugas diutusnya Nabi Muhammad yakni sebagai pembenah moralitas manusia secara keseluruhan.

Dalam Kristen, maupun Yahudi, dikenal adanya Sepuluh Perintah Tuhan (Dekalog):

Akulah Tuhan, Allahmu, Jangan menyembah berhala, berbaktilah kepada-Ku saja, dan cintailah Aku lebih dari segala sesuatu; Jangan menyebut Nama Tuhan Allahmu dengan tidak hormat; Kuduskanlah hari Tuhan; Hormatilah ibu-bapamu; Jangan membunuh; Jangan berzinah; Jangan mencuri; Jangan bersaksi dusta tentang sesamamu; Jangan mengingini istri sesamamu; Jangan mengingini milik sesamamu secara tidak adil.

Dalam Kong Hu Cu, ada beberapa konsep, yakni;

Delapan Pengakuan Iman (Ba Cheng Chen Gui) dalam agama Khonghucu: Sepenuh Iman kepada Tuhan Yang Maha Esa (Cheng Xin Huang Tian); Sepenuh Iman menjunjung Kebajikan (Cheng Juen Jie De); Sepenuh Iman Menegakkan Firman Gemilang (Cheng Li Ming Ming); Sepenuh Iman Percaya adanya Nyawa dan Roh (Cheng Zhi Gui Shen); Sepenuh Iman memupuk Cita Berbakti (Cheng Yang Xiao Shi);  Sepenuh Iman mengikuti Genta Rohani Nabi Kongzi (Cheng Shun Mu Duo); Sepenuh Iman memuliakan Kitab Si Shu dan Wu Jing (Cheng Qin Jing Shu); Sepenuh Iman menempuh Jalan Suci (Cheng Xing Da Dao);

Lima Sifat Kekekalan (Wu Chang); Ren – Cintakasih, Yi – Kebenaran / Keadilan / Kewajiban, Li – Kesusilaan dan Kepantasan, Zhi – Bijaksana, Xin - Dapat Dipercaya;

Lima Hubungan Sosial (Wu Lun): Hubungan antara Pimpinan dan Bawahan; Hubungan antara Suami dan Isteri; Hubungan antara Orang tua dan anak; Hubungan antara Kakak dan Adik; Hubungan antara Kawan dan Sahabat

Delapan Kebajikan (Ba De): Xiao - Laku Bakti, Ti - Rendah Hati, Zhong – Setia, Xin - Dapat Dipercaya, Li – Susila, Yi – Bijaksana, Lian - Suci Hati, Chi - Tahu Malu.

Maka pesan moral normatif inilah yang semestinya diidentifikasi dari setiap agama untuk digarisbawahi kesamaan tujuannya. Secara rinci, setidaknya ada tujuh hal pokok yang dikandung oleh semua agama, yakni;

1.       Adanya realitas transenden, yakni Tuhan Yang Maha Suci.

2.       Realitas yang transenden itu adalah immanen di lubuk hati manusia.

3.       Realitas transenden tersebut adalah kebaikan tertinggi, mutlak.

4.       Realitas ketuhanan ini adalah cinta sejati yang mewujud di dalam kehidupan.

5.       Jalan manusia menuju Tuhan adalah menyerahkan diri, disiplin diri dan ritual.

6.       Semua agama tidak saja mengajarkan tentang jalan menuju Tuhan, tetapi secara bersamaan juga mengajarkan cara bergaul dengan lingkungan sekitarnya.

7.       Cinta merupakan jalan yang paling tinggi menuju Tuhan.

Hal ini juga menunjukkan secara jelas bahwa agama yang sebenarnya menguatkan keberadaan pengalaman spiritual yang unik dan bersifat individual dari seorang pemeluk agama. Pengalaman spiritual itulah yang mendorongnya untuk memiliki pemahaman yang mendalam secara bersama-sama antar berbagai orang dari seluruh sistem keagamaan yang ada. Agama yang sebenarnya bertindak sebagai ‘kendaraan’ atau ‘alat’ untuk mengungkapkan rasa pelayanan (pengabdian) yang tulus dari seluruh penganutnya. Pengabdian tersebut ditujukan kepada Tuhan, lalu dimanifestasikan pula kepada eksistensi kosmik berupa alam semesta ini.

Di akhir pembahasan ini, ide utama dari nilai-nilai moral agama-agama di Indonesia setidaknya terrangkum di dalam ungkapan al-Bantani. Beliau menyatakan bahwa intisari dari perintah dan larangan di dalam kitab-kitab suci hanya dua hal saja, yakni mewujudkan keharmonisan dengan al-Khaliq (Pencipta) dan mewujudkan keharmonisan pula dengan al-Makhluq (ciptaan, semesta alam kosmik).

~

Meskipun diskusi dengan tema "Memahami Pesan-pesan Moral Agama demi Mewujdkan Kerukunan Antarumat Beragama di Indonesia" pada Selingkar Kamis (20/12/2012) lalu masih terasa belum tuntas, masih sekedar kulit dan agaknya perlu dilanjutkan lagi kapan-kapan, namun para penduduk tetap antusias;

Muhammad Adami: "Lakum diinukum wa liya diin.. Untukmu agamamu, untukku agamaku.. yang disebutkan di sini adalah 'agamamu' terlebih dahulu, baru kemudian 'agamaku', berarti di sini ditekankan bahwa kita harus menghargai orang lain."

Bastian Ev: "Ketika melihat perbedaan-perbedaan, kesanku adalah; Ah, biasa wae, dan tidak perlu diperruncing."

Saikhul Semangat: "Sepenangkapan saya, aslinya 'agama' itu tidak ada, yang ada ya hanya Dia, Tuhan, yang menjadi tujuan semua agama."

Muhammad Abdulloh: "Realita yang ada menunjukkan bahwa kita begitu plural, beragam, maka suatu keharusan bagi kita untuk saling menghargai."

Santosa Teguh: "Dahulukan kesemanusiaan daripada kegolonganan apalagi kealiranan atawa kesukuan serta keseagamaan."

Pramono: "Setiap hal ada sisi baik dan sisi buruknya. Jika kita hanya melihat sisi buruknya, ya yang terlihat hanya jeleek terus. Namun bila kita mau melihat sisi-sisi baik, maka kita akan lebih bisa menghargai hal tersebut."

Mahfut Khanafi: "Pahami dahulu, arifi dahulu, baru kemudian kita bisa menilai."

Irfan Wahyu Adi Pradana: "Hidup tidak hanya tentang mempertahankan sesuatu keyakinan, tetapi juga menghargai keyakinan lain."

Matthew Befahmy: "Ada tuhan (dengan 't' kecil) dan Tuhan (dengan 'T' besar) dalam kehidupan beragama kita. Sayangnya, kita sering menjadikan agama kita masing-masing sebagai tuhan, itulah 't' kecil. Padahal semua agama adalah 'sekedar' jalan untuk menuju Tuhan, 'T' besar. Inilah bagaimana agar kita tidak menuhankan agama, melainkan mengendarai agama menuju Tuhan."

Milyun Noor: "Jika kita ingin memahami titik temu agama-agama, maka sudah seharusnya kita menelaah fakta-fakta sejarah, historical approach."

Zia Ul Haq: "Semua ritual maupun keyakinan di dalam semua agama-agama, selain bertujuan untuk mematangkan pribadi seorang hamba di hadapan Tuhannya, juga untuk mempersiapkan si hamba agar bisa berperan di lingkungan kehidupannya."

Sayd Nursiba: “Selalu menarik memperbincangkan agama dalam kehidupan nyata para pemuja dan penghambanya yang setia dan komitmen. Dalam konteks sosial, agama tidak semata dimaknai sebagai ritus, liturgi, doa dan pengalaman mistik yang bersifat personal dan unik, namun juga hadir dengan fungsi manifest dan laten yang kadang dikehendaki oleh pemeluknya sendiri. Disatu sisi, agama dapat menjadi sarana integrasi sosial, mengikat solidaritas sesama penganutnya dalam jamaah, gereja, sangha, dan komunitas-komunitas keagamaan, wahana pencipta, pembangunan, dan pemeliharaan perdamaian dan kedamaian. Namun hal ini juga sekaligus instrumen yang cukup efektif bagi disintegrasi sosial, menciptakan konflik, ketegangan, bhkan perang, memandang outsider sebagai ‘kafir’ yang harus diproselitiasi secara paksa di sisi lain.

Agama tampaknya selalu hadir dalam wajah ganda, ambivalensi yang sulit diurai dan dimengerti lebih-lebihan bila penganutnya menempatkan diri sebagai aktor sekali dan selamanya. Bukan pengamat apalagi peneliti, bukan kritikus tapi pembela dan wacthdog tradisi ortodoksi. Satu lagi perdebatan-perdebatan mutakhir tentang sikap ambivalensi agama dan penganutnya, adalah opini publik yang terbuka untuk digugat, tidak saja melalui forum diskusi dan seminar, tapi juga pertemuan informal.

Tampaknya selingkar merupakan media refleksi kritis dan mengispirasikan saya dalam memotivasi menulis dan membaca buku. Terima kasih kawan-kawan yang begitu komitmen dalam mempertahankan budaya berfikir ini semoga tetap langgeng. Hehehehe. Semangat!”

Bastian Ev:

“Masih terkait dengan postingan ini, cobalah teman-teman ke kampus Sanata Dharma, Paingan (deket stadion), masuk lewat gerbang politeknik mekatronika, lewat depan juga gak apa-apa. Coba ke kantinnya, di salah satu pojok kios ada seorang gadis bening berjilbab yang jualan disitu. Kalau sedang kalut cobalah ke situ.”

Zainal Muhidin: “Wow, Bastian.. ini baru solusi untuk masalah seluruh dunia..”

Sayd Nursiba: “Haha. Saran Bastian membuatku ingin ke sana!”

Bima Shakty: “Ide bagus Bas!”

Kasbi Saja: “Nabi Ibrahim diingatkan oleh Allah ketika Ia hendak memberikan makanan kepada fakir miskin tetapi beliau mensyaratkan si duafa ini haruslah seorang muslim. Itu artinya: berilah manfaat kepada siapapun tanpa memandang agamanya apa. Life's most urgent question is: What are you doing for others? [Martin Luther King, Jr.]”

Adam Pertama: “Jan jane ki iso rukun nek Islam kui tegak. Neng nek Islam mung dijumputi sebagian-sebagian yo ketok medheni bro. Karepe damai tapi ngedol aqidah. Karepe urip penak tapi anti syari'at. Entuk bedho mung bedho sek dientukke. Kudu podho babagan sek kudu podho. Islam kui ora mung opo sek ono neng pikirane awake dewe, tapi ono panduane. Monggo mengkaji Islam luwih adoh luwih jero ben reti lan paham opo karepe Islam.”

M Saikhul Anwar: “Sebenarnya, apakah mungkin syariat Islam itu bisa diterapkan sepenuhnya di negara kita yang sangat kental dengan perbedaan ini?”

Milyun Noor: “Yang harus digarisbawahi, Indonesia adalah negara demokrasi bro, dan perbedaan ini gak lantas membuat kita takut untuk gak bisa melaksanakan tugas kita sebagai muslim, kalau kita takut, nanti dikira akidah kita lemah. Dan mungkin sepertinya Gusti kita menciptakan perbedaan supaya saling mengenal dan dapat wawasan baru. Ayate; walau sya'allah laja'alakum ummatan wahidatan dan seterusnya.”

Sayd Nursiba: “Adam dan Zia, mari-mari kita lotse alias negak khomer. Mari-mari kita freesex. Mari kita mencuri. Mari kita tipu menipu. Cius, cius, cius, semua umat Islam pastinya sepakat dalam fakta sejarah kelahiran Islam meluruskan hal-hal demikian.

Yang tadinya suka minum khomer karena kebanggaan supaya dipandang dermawan oleh masyarakat sekitar, ternyata secara logis dan runtut Islam hadir memerintahkan untuk menjauhinya ketika akan munajat pada Sang Khaliq. Lalu setelah terbiasa baru diharamkan dengan alasan perbuatan kerusakan (setan) dan menimbulkan permusuhan jika mabuk-mabuk terus.

Lalu orang yang msh suka mabuk ditanya apakah mau meninggalkannya? Mbeh sungguh indah tenan cara Allah melalui utusan-Nya mengajarkan manusia. Lebih indah lagi jika membaca Kitab Al-Qur'an dengan bahasa Arabnya dan mengetahui asbabul nuzul, perkataan Kanjeng Nabi Muhammad yang menjelaskannya.

Yang kedua,  mengenai zina atau sexfree, haha, ini hal yang sangat umum diketahui manusia modern saat ini, bagimana Allah mengajarkan manusia menikmati kodrat manusia yang jika berhubungan badan itu nikmat, karena nikmat maka diaturlah supaya tidak ada perselisihan dengan boleh bersetubuh dengan bebas, berbagai gaya, kanan atau kiri atas atau belakang bebaslah-bebas tapi nikah dulu yaw, hahaha. Nikah yang bagaimana? Kita sudah tau secara umum. Inilah kehadiran islam, Islam menjaga kehidupan manusia supaya tidak terjadi kerusakan. Syari'at adalah hukum yang ditujukan kepada mukalaf yang mengatur hubungan antara manusia dan Khaliq, antara manusia dan mahluk lainnya. So bagaimana kalau Al-Qur'an dan hadist menjadi sumber hukum? Setujukah? Lalu bagaimana menerapkannya? Hahahaha.”

Absurd!

[o]

Sabtu, 15 Desember 2012

Manunggaling Kawula Gusti

Selasar Teatrikal FTIK, Kamis 15 Desember 2012 | Penyaji: Irfan Wahyu Adi Pradana

Militansi penduduk Selingkar Kamis (13/12/2012) kemarin patut diacungi jempol, meskipun memang bukan suatu hal yang luar biasa untuk dipiagamkan atau dipialakan dalam penghargaan-penghargaan absurd, setidaknya semangat penduduk untuk istiqomah berdiskusi sebagai salah satu dari sekian banyak cara mengaktivasi potensi diri pantas menjadi sebab berbungah hati.

Memang partisipan yang ikut berdiskusi kemarin tidak sebanyak biasanya, namun kegayengan diskusi santai tetap kental seperti biasanya. Diskusi yang awalnya digelar di trotoar kantin Tarbiyah harus dipindahkan ke selasar teatrikal Fakultas Tarbiyah karena guyuran hujan.


Dari satu setengah jam berdiskusi tentang Pengaruh Makrifat Siti Jenar dalam Teologi Rakyat Pinggiran, para penduduk menyimpulkan idenya dengan bahasa serta sudut pandang masing-masing;

Rohmat: "Anak TK jangan dijejali dengan pelajaran pelajar SMA, hal yang diajarkan kepada seseorang haruslah disesuaikan dengan kemampuan daya tangkapnya."

Yasin Syafii Azami: "Terlepas dari benar salah konsep teologi Manunggalnya, gerakan yang diusung oleh Siti Jenar merupakan langkah revolusioner yang inspiratif."

Milyun Noor: "Apa yang dipahami dan dinisbatkan kepada Siti Jenar tentang Manunggaling Kawulo Gusti pasti dipahami pula oleh tokoh-tokoh wali yang lain. Namun dalam langkahnya, Siti Jenar memilih menempuh jalan yang ekstrim. Al-Junaid mengatakan; seandainya pikiran para pemikir dicurahkan sedalam-dalmnya pada masakah tauhid, maka akan berakhir dengan kebingungan. Abu Bakr as-Shiddiq berujar; Mahasuci Allah yang tidak menjadikan jalan bagi makhluk-Nya mengenal-Nya, melainkan dengan ketidakmampuan mengenal-Nya."

Zainal Muhidin: "Manunggallah dalam Gustimu dengan cara menjadi kawula-Nya."

Yusuf Kun: "Hal yang disampaikan oleh Siti Jenar tentang Manunggaling Kawulo Gusti sudah merambah ranah 'Irfani, bukan sekedar pendekatan Burhani yang rasional. Namun, kondisi masyarakat saat itu belum mapan dan sebetulnya belum siap menelan doktrin 'Irfani tersebut."

Pramono: "Silakan memiliki pandangan atau pendapat apapun, asalkan mau dan mampu mempertanggungjawabkan pemikiran tersebut di khalayak agar tidak menimbulkan gonjang-ganjing di masyarakat."

Rey Himura: "Ilmu Manunggaling Kawulo Gusti ala Siti Jenar merupakan obyek yang multitafsir. Maka alangkah baiknya bila seseorang ingin mengajarkan ilmu yang tinggi-tinggi dan wah-wah, ajarkan dulu dasar-dasar pijakan yang berkaitan dengan ilmu tersebut."

Sayd Nursiba: "Memang, sesosok bayi yang seharusnya masih mengonsumsi air susu belum siap untuk dijejali pisang atau makanan padat lainnya."

Irfan Wahyu Adi Pradana: "Dalam hal apapun, khususnya beragama, manusia harus melek sosio kultural di lingkungan sekitarnya, sehingga bisa menjaga kondusivitas dengan memelihara estetika (keindahan) simbol-simbol dalam pergaulan."

[o]